Suara Gemilang
Rabu, 19 Januari 2011
PENGUNGSI JUGA MENDAPATKAN BAGIAN DAGING QURBAN
Peringatan Idul Adha 1431 H sesuai ketentuan pemerintah jatuh pada tanggal 17 Nopember 2010, walaupun ada sementara umat Islam yang memperingati pada hari sebelum-nya, namun sholat Idul Adha di Kota Mungkid dilaksanakan pada hari Rabu, 17 Nopember di Masjid Jamik An Nur Kota Mungkid.
Sholat Idul Adha di masjid tersebut juga di ikuti oleh Bupati Magelang Ir.H.Singgih Sanyoto, Wakil Bupati HM.Zaenal Arifin,SH, Muspida dan para pejabat eselon pemerintah Kabupaten Magelang dan tentunya warga masya-rakat sekitarnya dengan khotib, H.Jamun Efendi,MPdi, Plt Kepala Kantor Ke-menterian Agama Kab Magelang, dan duduk sebagai imam, H.Masrur Nashir imam masjid agung An Nur.
Setelah melaksanakan sholat, Bupati Magelang Ir.H.Singgih Sanyoto menyerahkan hewan qurban, satu ekor sapi kepada panitia penyembelihan hewan kurban masjid agung An Nur yang diterima oleh KH.Masrur Nashir. Menurut ketua panitia penyembelihan hewan qurban masjid Agung “An Nur” Widodo, panitia penyembelihan hewan qurban masjid Agung An Nur, tahun ini menyembelih 13 ekor sapi dan 46 ekor kambing, yang berasal dari Bupati Magelang 1 ekor, Wakil Bupati magelang 1 ekor.
Karyawan karyawati lingkungan Setda 5 ekor, Satgas TNI 5 ekor dan dari Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) 1 ekor . Sedangkan kambing berasal dari IPHI 10 ekor, Karyawan setda 10 ekor, Satgas TNI 15 ekor, PDAM 2 ekor, New Armada 2 ekor dan sisanya dari masyarakat umum.
Widodo juga mengatakan, peringatan Idul Qurban tahun ini berbeda dari tahun tahun sebelumnya, terutama dalam pembagian daging korban. Karena saat ini di sekitar Kota Mungkid terdapat banyak pengungsi dari kawasan Gunung Merapi. “karena di sekitar Kota Mungkid saat ini terdapat banyak saudara kita yang mengungsi, sehingga penyaluran daging qurban sebagian besar di salurkan untuk konsumsi pengungsi disamping juga untuk pondok pesanteren, panti asuhan dan masyarakat sekitar,” jelas Widodo.
Sholat Idul Adha di masjid tersebut juga di ikuti oleh Bupati Magelang Ir.H.Singgih Sanyoto, Wakil Bupati HM.Zaenal Arifin,SH, Muspida dan para pejabat eselon pemerintah Kabupaten Magelang dan tentunya warga masya-rakat sekitarnya dengan khotib, H.Jamun Efendi,MPdi, Plt Kepala Kantor Ke-menterian Agama Kab Magelang, dan duduk sebagai imam, H.Masrur Nashir imam masjid agung An Nur.
Setelah melaksanakan sholat, Bupati Magelang Ir.H.Singgih Sanyoto menyerahkan hewan qurban, satu ekor sapi kepada panitia penyembelihan hewan kurban masjid agung An Nur yang diterima oleh KH.Masrur Nashir. Menurut ketua panitia penyembelihan hewan qurban masjid Agung “An Nur” Widodo, panitia penyembelihan hewan qurban masjid Agung An Nur, tahun ini menyembelih 13 ekor sapi dan 46 ekor kambing, yang berasal dari Bupati Magelang 1 ekor, Wakil Bupati magelang 1 ekor.
Karyawan karyawati lingkungan Setda 5 ekor, Satgas TNI 5 ekor dan dari Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) 1 ekor . Sedangkan kambing berasal dari IPHI 10 ekor, Karyawan setda 10 ekor, Satgas TNI 15 ekor, PDAM 2 ekor, New Armada 2 ekor dan sisanya dari masyarakat umum.
Widodo juga mengatakan, peringatan Idul Qurban tahun ini berbeda dari tahun tahun sebelumnya, terutama dalam pembagian daging korban. Karena saat ini di sekitar Kota Mungkid terdapat banyak pengungsi dari kawasan Gunung Merapi. “karena di sekitar Kota Mungkid saat ini terdapat banyak saudara kita yang mengungsi, sehingga penyaluran daging qurban sebagian besar di salurkan untuk konsumsi pengungsi disamping juga untuk pondok pesanteren, panti asuhan dan masyarakat sekitar,” jelas Widodo.
Untuk itu pihaknya hanya menyediakan 1.000 bungkus daging qurban untuk masyarakat umum yang langsung datang ke masjid An Nur. Sedangkan daging hewan qurban untuk pengungsi disalurkan melalui dapur umumTNI yang berada di lapangan Drh Supardi, masih berupa hewan, yaitu 3 ekor sapi dan 13 ekor kambing.*)sukendo
BUPATI MAGELANG Ir.H. Singgih Sanyoto pada REJOMULYO EXPO 2010: "PETANI MASIH BERORIENTASI PADA USAHA JANGKA PENDEK"
Potensi pengembangan sektor pertanian khususnya Agrobisnis di Kabupaten Magelang cukup besar. Sayangnya hingga saat ini masih tertinggal di-bandingkan dengan daerah lain, apalagi dibandingkan dengan Bangsa bangsa lain, dalam menghadapi pasar global banyak petani belum bisa mengimbangi permintaan pasar karena selama ini petani kita masih berorientasi memetik hasil untuk jangka pendek.
Kata Bupati Magelang, Ir.H.Singgih Sanyoto dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten Administrasi Pemerintahan, Agung Trijaya,SH pada acara pembukaan Rejomulyo Exspo 2010 di lapangan Tempurejo Kecamatan Tempuran. Disamping itu menurut Bupati, masih banyak petani Magelang yang baru hanya menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah, sehingga petani kehilangan potensi nilai tambah dari produk pertaniannya Untuk itu, diperlukan langkah langkah kongkrit dan sinergis dari semua elemen untuk melakukan pembenahan.
Upaya Perbaikan infrastruktur fisik di bidang pertanian maupun pendukungnya tengah dilakukan secara bertahap oleh pemerintah untuk meningkatkan kelancaran distribusi dan langkah mengurangi beaya operasional, Sehingga produk produk pertanian dari seluruh pelosok dapat didistribusikan dengan mudah ke berbagai penjuru. Demikian juga pem-benahan perangkat lunaknya, seperti kelembagaan, kebijakan, Peraturan dan sumber daya manusia yang handal dan memiliki ketahanan, jelas Bupati.
Menurut ketua penyelenggara Rejomulyo Expo 2010, M.Dzikron, dalam laporannya mengatakan bahwa tujuan kegiatan Expo sebagai wujud keinginan mandiri Gapoktan dan menyerap teknologi serta menciptakan lapangan kerja; “Kegiatan ini adalah wujud dari mimpi seluruh anggota dan pengurus Gapoktan Rejomulyo yang ingin mandiri disamping menciptakan lapangan kerja baru dan mengadopsi teknologi baru dibidang pertanian,” kata Dzikron yang juga sekertaris Gapoktan. Rejomulyo Exspo 2010 digelar selama tiga hari dengan menampilkan produk produk pertanian, hasil olahan dan kerajinan.
Kecuali itu, ketua Gapoktan Rejomulyo, Tempurejo, Tempuran, Sugeng Karyono mengatakan, kalau kelompoknya sekarang tengah mengembangkan budidaya beberapa jenis pepaya komoditas baru, diantaranya Pepaya jenis 'jene' (kuning), 'Harum' dan 'Hawai' yang bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB)
Menurut Sugeng, ketiga jenis komoditas pepaya ini memilki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis pepaya biasa. Dari satu setengah hektar lahan percobaan dapat diperoleh hasil yang cukup menggembirakan. Untuk Pepaya jenis 'Jene' misalnya, pihaknya bisa memanen 8 kali dengan hasil rata-rata 250 hingga 300 Kg setiap kali panen dengan harga rata-rata Rp.2.500,-/ kg. Pepaya jenis ini akan berbuah pada bulan ke enam setelah disemai, dan rata rata memiliki usia produktif hingga umur tiga tahun.
Memang untuk jenis pepaya 'Jene' buahnya kecil kecil tidak seperti buah pepaya kebanyakan. Buah ini lebih mudah dinikmati karena tinggal membelah buahnya kemudian menikmatinya dengan menyendok daging buahnya dengan sendok makan, jelas Sugeng. Sedangkan untuk Pepaya jenis 'Harum' memiliki keunggulan rasa, karena daging buahnya lebih manis dan berbau harum. Untuk Pepaya jenis 'Hawai' rasanya juga manis dengan aroma seperti jeruk nipis.
Jenis pepaya ini baru pertama kalinya di kembangkan di wilayah Kabupaten Magelang, benihnya pun masih didatangkan langsung dari IPB karena sampai saat ini pihaknya belum bisa melakukan pembibitan sendiri untuk mendapatkan jenis unggul, karena tidak bisa disemaikan melalui bijinya karena akan berubah (malih, bhs jawa) “kita pernah mencoba menyemaikan bijinya, tetapi hasilnya berubah,” kata .
Melihat hasil yang menjanjikan, Gapoktan Rejomulyo berencana mengembangkan lahan perkebunan pepaya jenis tersebut kepada masyarakat Tempuran dan sekitarnya. Untuk pemasaran hasilnya Gapoktan Rejomulya telah mengadakan kerjasama dengan pihak pengepul dan Supermaerket. “Kami sudah mengadakan MOU dengan pengepul untuk selanjutnya disetor ke pasar Supermarket,” jelas Sugeng. *)sukendro
Kata Bupati Magelang, Ir.H.Singgih Sanyoto dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten Administrasi Pemerintahan, Agung Trijaya,SH pada acara pembukaan Rejomulyo Exspo 2010 di lapangan Tempurejo Kecamatan Tempuran. Disamping itu menurut Bupati, masih banyak petani Magelang yang baru hanya menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah, sehingga petani kehilangan potensi nilai tambah dari produk pertaniannya Untuk itu, diperlukan langkah langkah kongkrit dan sinergis dari semua elemen untuk melakukan pembenahan.
Upaya Perbaikan infrastruktur fisik di bidang pertanian maupun pendukungnya tengah dilakukan secara bertahap oleh pemerintah untuk meningkatkan kelancaran distribusi dan langkah mengurangi beaya operasional, Sehingga produk produk pertanian dari seluruh pelosok dapat didistribusikan dengan mudah ke berbagai penjuru. Demikian juga pem-benahan perangkat lunaknya, seperti kelembagaan, kebijakan, Peraturan dan sumber daya manusia yang handal dan memiliki ketahanan, jelas Bupati.
Menurut ketua penyelenggara Rejomulyo Expo 2010, M.Dzikron, dalam laporannya mengatakan bahwa tujuan kegiatan Expo sebagai wujud keinginan mandiri Gapoktan dan menyerap teknologi serta menciptakan lapangan kerja; “Kegiatan ini adalah wujud dari mimpi seluruh anggota dan pengurus Gapoktan Rejomulyo yang ingin mandiri disamping menciptakan lapangan kerja baru dan mengadopsi teknologi baru dibidang pertanian,” kata Dzikron yang juga sekertaris Gapoktan. Rejomulyo Exspo 2010 digelar selama tiga hari dengan menampilkan produk produk pertanian, hasil olahan dan kerajinan.
Kecuali itu, ketua Gapoktan Rejomulyo, Tempurejo, Tempuran, Sugeng Karyono mengatakan, kalau kelompoknya sekarang tengah mengembangkan budidaya beberapa jenis pepaya komoditas baru, diantaranya Pepaya jenis 'jene' (kuning), 'Harum' dan 'Hawai' yang bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB)
Menurut Sugeng, ketiga jenis komoditas pepaya ini memilki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis pepaya biasa. Dari satu setengah hektar lahan percobaan dapat diperoleh hasil yang cukup menggembirakan. Untuk Pepaya jenis 'Jene' misalnya, pihaknya bisa memanen 8 kali dengan hasil rata-rata 250 hingga 300 Kg setiap kali panen dengan harga rata-rata Rp.2.500,-/ kg. Pepaya jenis ini akan berbuah pada bulan ke enam setelah disemai, dan rata rata memiliki usia produktif hingga umur tiga tahun.
Memang untuk jenis pepaya 'Jene' buahnya kecil kecil tidak seperti buah pepaya kebanyakan. Buah ini lebih mudah dinikmati karena tinggal membelah buahnya kemudian menikmatinya dengan menyendok daging buahnya dengan sendok makan, jelas Sugeng. Sedangkan untuk Pepaya jenis 'Harum' memiliki keunggulan rasa, karena daging buahnya lebih manis dan berbau harum. Untuk Pepaya jenis 'Hawai' rasanya juga manis dengan aroma seperti jeruk nipis.
Jenis pepaya ini baru pertama kalinya di kembangkan di wilayah Kabupaten Magelang, benihnya pun masih didatangkan langsung dari IPB karena sampai saat ini pihaknya belum bisa melakukan pembibitan sendiri untuk mendapatkan jenis unggul, karena tidak bisa disemaikan melalui bijinya karena akan berubah (malih, bhs jawa) “kita pernah mencoba menyemaikan bijinya, tetapi hasilnya berubah,” kata .
Melihat hasil yang menjanjikan, Gapoktan Rejomulyo berencana mengembangkan lahan perkebunan pepaya jenis tersebut kepada masyarakat Tempuran dan sekitarnya. Untuk pemasaran hasilnya Gapoktan Rejomulya telah mengadakan kerjasama dengan pihak pengepul dan Supermaerket. “Kami sudah mengadakan MOU dengan pengepul untuk selanjutnya disetor ke pasar Supermarket,” jelas Sugeng. *)sukendro
Langganan:
Komentar (Atom)



