![]() |
| Bupati Magelang, Ir. H. Singgih Sanyoto beserta Wabup HM, Zaenal Arifin,SH sedang meninjau pengungsi di TPA Tanjung. |
Letusan Gunung Merapi yang terjadi akhir bulan oktober dan awal November 2010 sungguh luar biasa. Disamping menyebabkan jumlah pengungsi yang besar, wiilayah yang terdampak juga begitu luas. Bahkan sampai kini bahaya sekunder letusan Merapi berupa banjir lahar dingin tetap mengancam penduduk yang berada di daerah aliran sungai yang di lewati lahar dingin.
Di samping itu banjir lahar dingin juga mengancam ber-bagai fasilitas umum terutama jembatan yang melintasi sungai. Tercatat beberapa jembatan mengalami kerusakan dan tidak bisa dilewati lagi seperti jembatan yang menghubungkan Srowol dan Adikarto serta jembatan di daerah Gondosuli. Melihat dampak yang begitu besar ini, jelas pemerintah Kabupaten Magelang membutuhkan peran dan bantuan dari berbagai pihak. Laporan utama majalah Suara Gemilang edisi November 2010 ini sedikit akan mencoba memaparkan bagaimana upaya bahu membahu yang dilakukan pemerintah Kabupaten Magelang dan berbagai pihak dalam menangani bencana letusan Merapi.
Letusan Gunung Merapi yang begitu besar benar-benar di luar ekspektasi dan perkiraan banyak pihak. Bahkan banyak kalangan menyebut letusan ini sebagai letusan Gunung Merapi yang terbesar abad ini. Mengapa letusan Gunung Merapi begitu besar, memiliki dampak wilayah yang luas dan ekskalasinya jauh melebihi letusan yang terjadi tahun 2006 ?
Menurut Pusat Studi Manajemen Bencana (PSMB) UPN “Veteran” Yogjakarta, erupsi Gunung Merapi 14 Juni 2006 menyebabkan penumpukkan material vulkanik berupa abu, batu dan pasir di hulu sungai Gendol. Total volume material tersebut menurut BPPTK (Balai Penyelidikan dan Pengembang-an Teknologi Kegunungapian) pada tahun 2006 mencapai 6,5 juta meter kubik. Pada musim hujan, material vulkanik di hulu sunagi Gendol dapat menajdi lahar atau aliran air bercampur material vulkanik.
Dalam perkembangannya endapan sisa erupsi menunjuk-kan material vulkanik yang tertimbun tidak hanya mengarah ke selatan, seperti S. Gendol dan S. Woro, tetapi juga ke sungai-sungai lain di sebelah barat seperti S. Kuning, S. Boyong, S. Krasak, S. Sat/Putih, S. Blongkeng, S. Lamat, S. Senowo, S. Tringsing, S. Apu bahkan S. Pabelan.
Perubahan arah tumpukan material vulkanik Gunung Merapi ini menyebabkan bertambahnya luasan kawasan resiko bencana menjadi 302 dusun yang berada di 63 desa di 4 kabupaten, yaitu Magelang, Klaten, Sleman dan Boyolali. Inilah yang menyebabkan volume letusan Gunung Merapi tahun 2010 ini sangat besar.
Besarnya potensi bahaya ini dan ditambah dengan cuaca yang ada, menyebabkan pemerintah Kabupaten Magelang segera menyebarluaskan dan men-sosialisasikan konsep penanggulangan bencana seperti evakuasi serta penanganan pengungsi.
Untuk evakuasi pengungsi dilakukan dengan melibatkan aparat Polri, TNI dan masyarakat yang memiliki kendaraan. Alur rute evakuasi juga telah disusun dengan menentukan titik kumpul para pengungsi. Untuk evakuasi ini dikoordinir Dinas Perhubungan Kabupaten Magelang dan dapat berjalan dengan cukup lancar meskipun sempat terjadi penambahan jumlah masyarakat yang harus diungsikan.
Penyiapan lokasi pengungsian juga telah diantisipasi sejak awal. Pada tahap awal disiapkan 3 (tiga) lokasi pengungsian di Jerukagung Srumbung, Ngadipuro Dukun dan TPA, Tanjung Muntilan dengan estimasi pengungsi 2.000 – 8.000 orang. Sebagai cadangan juga disiapkan lokasi lokasi pengungsian cadangan.
Seiring dengan meningkatnya status Merapi yang dampak letusannya meliputi beberapa kecamatan yang semula tidak diperkirakan secara otomatis juga menyebabkan bertambah-nya jumlah pengungsi Merapi dan bertambahnya lokasi pengungsian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar