Terkait dengan meletusnya Gunung Merapi pada hari Selasa Paing, 26 Oktober 2010 sore yang lalu, Agus 'Merapi' Suyitno tergerak hatinya untuk melaksanakan ritual khusus dengan menggelar “Sesaji Syukur Merapi”. Ritual ini dilakukannya di tengah sungai Blongkeng, pada hari Selasa Wage, 2 Nopember 2010 yang lalu. Menurut Agus, ritual ini juga sebagai wujud syukur karena dia selamat dari 'krodha' gunung Merapi. Rumahnya di desa Pucanganom Kecamatan Srumbung termasuk 'daerah bahaya Merapi', sehingga dia dan keluarganya juga harus ikut mengungsi ke tempat lain yang lebih aman dari jangkauan bencana Merapi.
Pada malam Selasa Kliwon, seminggu sebelum gunung ini meletus, Agus bermimpi diundang 'penghuni ghaib Merapi' yang sedang punya hajat 'mantenan'. Apa makna impian ini? Hanya dia lah yang tahu.
Agus mengawali ritual 'Sesaji Syukur Merapi' dengan membakar dupa cina. Kemudian dia dengan khusuk dan solah-tingkah khusus, menghadap ke arah Gunung Merapi memanjatkan doa-doa permohonan kepada Allah SWT. Dia memohon agar kegiatan (baca: meletus) gunung Merapi tidak semakin menakutkan dan tidak membawa korban jiwa yang lebih banyak lagi dari warga di sekitar gunung ini. Ritual ini diakhiri dengan 'melarung' lukisan Raksasa Penghuni Merapi, sebagai simbol melarung semua bahaya yang ada di gunung Merapi.
Dalam ritual ini Agus memajang tujuh buah lukisan, dan ubarampe sesaji berupa bunga mawar merah putih, dupa cina dan jajan pasar. Lukisan sebanyak tujuh buah itu mengandung makna 'nyuwun pitulungan' (mohon pertolongan) kepada Allah SWT. Lukisan-lukisan yang dipajang dalam ritual ini adalah, lukisan gunung Merapi sebanyak empat buah, lukisan mBah Maridjan berlatar belakang 'wedhus gembel', lukisan Nyai Gadhung Mlathi dan lukisan Raksasa penghuni Merapi. Lukisan mBah Maridjan (juru kunci Gunung Merapi yang wafat sebagai korban Merapi) dilukisnya empat tahun yang lalu ketika dia menggelar pameran di Yogyakarta. Demikian juga lukisan Nyai Gadhung Mlathi. Lukisan-lukisan gunung Merapi meletus dilukisnya setelah gunung tersebut erupsi 26 Oktober 2010 yang lalu. Lukisan-lukisan cat minyak tersebut berukuran 100 cm x 80 cm, dan 60 cm x 70 cm.
Gunung Merapi bagi pelukis Agus Suyitno merupakan “saudara” yang harus selalu diakrabi, dicintai dan dirawat kelestarian lingkungannya. Sebab, gunung ini selalu memberi berkah, rejeki, bahkan kemakmuran bagi mereka yang bermukim di sekitarnya.
Gunung Merapi telah membuat kesuburan tanah, menyediakan air, sumberdaya hayati atau pun material vulkanis berupa batu dan pasir yang menjadi rejeki dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Meski kini ekologi dan lingkungan alam Merapi sudah banyak yang rusak karena tingkah laku dan keserakahan beberapa gelintir manusia.
Menurut Agus, sebenarnya Gunung Merapi tidaklah jahat, yang jahat adalah manusia yang telah merusak alam dan lingkungannya. Gunung ini juga tidak perlu ditakuti, namun sebaliknya harus dicintai, dirawat dan tidak dirusak. Karena di balik yang kasat mata gunung dan lingkungan alamnya juga sebagai tempat hunian makhluk-makhluk ghaib. Mereka tidak senang dan tidak rela bila alam lingkungan Merapi diganggu dan dirusak seperti sekarang ini. Karena banyaknya kerusakan di sekitar alam Merapi, gunung ini kemudian “murka” dan “krodha”, dengan meningkatkan aktivitasnya.
Agus Merapi menyebut erupsi Gunung Merapi tidak dengan kata “meletus” namun dengan ungkapan kata yang lebih 'sopan' yaitu, Gunung Merapi sedang 'punya hajat'. Sebutan seperti ini juga sering terdengar di tengah kehidupan masyarakat pedesaan di sekitar Merapi, khususnya mereka yang percaya bahwa di Gunung Merapi ada alam 'supranatural' dengan penghuni yang bersifat ghaib.
Sebagai seorang seniman lukis, Agus Suyitno men-dudukkan Gunung Merapi sebagai objek lukisan khusus. Inspirasi lukisan dengan tema Merapi seakan-akan terus mengalir tanpa henti manakala dia sedang berkonsentrasi melukis. Dia melukis dengan “jiwa dan rasa”. Inspirasi dan imajinasinya yang selalu tumbuh ketika melukis diwujudkan dengan sapuan-sapuan kuas di atas kanvas.
Setiap kali dia melukis Merapi selalu diawali dengan “laku ritual.” Laku ritual ini dengan membaca doa mantra, membakar dupa dan makan bunga sesaji. Ritual ini sebagai syarat khusus, karena dia akan 'masuk' ke alam lain, alam ghaib Merapi. Ibarat orang yang akan menyelam ke dasar laut, dia harus memakai piranti khusus seperti kacamata air dan tabung gas oksigen agar bisa dan tahan melihat pemandangan di dalam air. Disamping itu, secara “supranatural” dalam melukis dia selalu melakukan wawan wacana batin dengan “penghuni ghaib” di gunung Merapi.
Mengapa Agus melukis Gunung Merapi sebagai pusat perhatian dan temanya? Dia menjelaskan, agar orang-orang tahu bahwa di alam sekitar Gunung Merapi sebenarnya ada apa? Yang ada hanyalah “Kerusakan alam”. Dengan lukisannya itu diharapkan banyak orang tahu, kalau alam Merapi banyak yang sudah rusak.
Gunung Merapi mempunyai kekuatan alam yang maha dahsyat untuk ukuran kekuatan manusia. Personifikasi kekuatan-kekuatan alam yang ada di gunung ini oleh warga masyarakat setempat disebutnya dengan nama-nama tokoh penghuni ghaib Merapi yang legendaris dan memiliki wibawa. Ada nama “Kyai Petruk” yang menguasai wedhus gembel atau “awan panas” dan menguasai letusan dengan daya rusak yang amat dahsyat.
Nama “Kyai Sapujagad” sebagai penguasa “lahar dingin” yang mengalir dari puncak dan lereng Merapi dengan daya rusak yang bisa meratakan tanah di lereng dan kaki gunung. Tokoh ghaib Merapi yang dipersonifikasikan wanita adalah “Nyai Gadhung Mlathi”, sebagai 'Dewi Kesuburan' yang menyebar abu vulkanis Merapi yang bisa menyuburkan tanah di sekitarnya. Sedangkan “Nyai Kendhit” sebagai 'Dewi Hujan' yang menyiram bumi Merapi menjadi lahan-lahan pertanian yang subur.
Ada lagi tokoh “Satriya Piningit” yang hingga kini masih “tersimpan” di wilayah gunung Merapi. Satriya Piningit ini memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan keangkara-murkaan manusia.
Agar para tokoh ghaib penguasa Merapi ini tidak marah, manusia yang menghuni kawasan Merapi harus bisa 'hidup berdampingan' dan menjaga kelestarian lingkungan alamnya. Disamping itu, masyarakat penghuni kawasan di sekitar gunung ini harus mau menghormati Merapi. Artinya, mereka tidak boleh sembarangan dalam berbicara yang terkait dengan aktivitas Gunung Merapi.
Orang-orang di daerah sekitar Merapi ini menyebut “Merapi lagi duwe gawe” (Merapi sedang punya hajat) atau “Merapi lagi mbangun” (Merapi sedang membangun) ketika gunung ini menunjukkan peningkatan aktivitasnya. Tidak dengan kata-kata apa adanya (vulgar) seperti kata-kata “Gunung Merapi njeblug.” (Gunung Merapi meletus). Atau menyebut “awan panas” yang menakutkan, merusak dan bisa membunuh itu dengan kata yang lebih sopan yaitu “wedhus gembel”.
Lepas dari percaya atau tidak percaya dengan alam ghaib yang ada di gunung Merapi, warga masyarakat yang hidup di sekitarnya harus selalu memperhatikan kegiatan gunung ini. Mereka harus siap menyingkir manakala gunung Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas vulkaniknya. Dengan demikian, korban jiwa dapat dihindari atau minimal bisa dikurangi. *)Radnakustama
Pada malam Selasa Kliwon, seminggu sebelum gunung ini meletus, Agus bermimpi diundang 'penghuni ghaib Merapi' yang sedang punya hajat 'mantenan'. Apa makna impian ini? Hanya dia lah yang tahu.
Agus mengawali ritual 'Sesaji Syukur Merapi' dengan membakar dupa cina. Kemudian dia dengan khusuk dan solah-tingkah khusus, menghadap ke arah Gunung Merapi memanjatkan doa-doa permohonan kepada Allah SWT. Dia memohon agar kegiatan (baca: meletus) gunung Merapi tidak semakin menakutkan dan tidak membawa korban jiwa yang lebih banyak lagi dari warga di sekitar gunung ini. Ritual ini diakhiri dengan 'melarung' lukisan Raksasa Penghuni Merapi, sebagai simbol melarung semua bahaya yang ada di gunung Merapi.
Dalam ritual ini Agus memajang tujuh buah lukisan, dan ubarampe sesaji berupa bunga mawar merah putih, dupa cina dan jajan pasar. Lukisan sebanyak tujuh buah itu mengandung makna 'nyuwun pitulungan' (mohon pertolongan) kepada Allah SWT. Lukisan-lukisan yang dipajang dalam ritual ini adalah, lukisan gunung Merapi sebanyak empat buah, lukisan mBah Maridjan berlatar belakang 'wedhus gembel', lukisan Nyai Gadhung Mlathi dan lukisan Raksasa penghuni Merapi. Lukisan mBah Maridjan (juru kunci Gunung Merapi yang wafat sebagai korban Merapi) dilukisnya empat tahun yang lalu ketika dia menggelar pameran di Yogyakarta. Demikian juga lukisan Nyai Gadhung Mlathi. Lukisan-lukisan gunung Merapi meletus dilukisnya setelah gunung tersebut erupsi 26 Oktober 2010 yang lalu. Lukisan-lukisan cat minyak tersebut berukuran 100 cm x 80 cm, dan 60 cm x 70 cm.
Gunung Merapi bagi pelukis Agus Suyitno merupakan “saudara” yang harus selalu diakrabi, dicintai dan dirawat kelestarian lingkungannya. Sebab, gunung ini selalu memberi berkah, rejeki, bahkan kemakmuran bagi mereka yang bermukim di sekitarnya.
Gunung Merapi telah membuat kesuburan tanah, menyediakan air, sumberdaya hayati atau pun material vulkanis berupa batu dan pasir yang menjadi rejeki dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Meski kini ekologi dan lingkungan alam Merapi sudah banyak yang rusak karena tingkah laku dan keserakahan beberapa gelintir manusia.
Menurut Agus, sebenarnya Gunung Merapi tidaklah jahat, yang jahat adalah manusia yang telah merusak alam dan lingkungannya. Gunung ini juga tidak perlu ditakuti, namun sebaliknya harus dicintai, dirawat dan tidak dirusak. Karena di balik yang kasat mata gunung dan lingkungan alamnya juga sebagai tempat hunian makhluk-makhluk ghaib. Mereka tidak senang dan tidak rela bila alam lingkungan Merapi diganggu dan dirusak seperti sekarang ini. Karena banyaknya kerusakan di sekitar alam Merapi, gunung ini kemudian “murka” dan “krodha”, dengan meningkatkan aktivitasnya.
Agus Merapi menyebut erupsi Gunung Merapi tidak dengan kata “meletus” namun dengan ungkapan kata yang lebih 'sopan' yaitu, Gunung Merapi sedang 'punya hajat'. Sebutan seperti ini juga sering terdengar di tengah kehidupan masyarakat pedesaan di sekitar Merapi, khususnya mereka yang percaya bahwa di Gunung Merapi ada alam 'supranatural' dengan penghuni yang bersifat ghaib.
Sebagai seorang seniman lukis, Agus Suyitno men-dudukkan Gunung Merapi sebagai objek lukisan khusus. Inspirasi lukisan dengan tema Merapi seakan-akan terus mengalir tanpa henti manakala dia sedang berkonsentrasi melukis. Dia melukis dengan “jiwa dan rasa”. Inspirasi dan imajinasinya yang selalu tumbuh ketika melukis diwujudkan dengan sapuan-sapuan kuas di atas kanvas.
Setiap kali dia melukis Merapi selalu diawali dengan “laku ritual.” Laku ritual ini dengan membaca doa mantra, membakar dupa dan makan bunga sesaji. Ritual ini sebagai syarat khusus, karena dia akan 'masuk' ke alam lain, alam ghaib Merapi. Ibarat orang yang akan menyelam ke dasar laut, dia harus memakai piranti khusus seperti kacamata air dan tabung gas oksigen agar bisa dan tahan melihat pemandangan di dalam air. Disamping itu, secara “supranatural” dalam melukis dia selalu melakukan wawan wacana batin dengan “penghuni ghaib” di gunung Merapi.
Mengapa Agus melukis Gunung Merapi sebagai pusat perhatian dan temanya? Dia menjelaskan, agar orang-orang tahu bahwa di alam sekitar Gunung Merapi sebenarnya ada apa? Yang ada hanyalah “Kerusakan alam”. Dengan lukisannya itu diharapkan banyak orang tahu, kalau alam Merapi banyak yang sudah rusak.
Gunung Merapi mempunyai kekuatan alam yang maha dahsyat untuk ukuran kekuatan manusia. Personifikasi kekuatan-kekuatan alam yang ada di gunung ini oleh warga masyarakat setempat disebutnya dengan nama-nama tokoh penghuni ghaib Merapi yang legendaris dan memiliki wibawa. Ada nama “Kyai Petruk” yang menguasai wedhus gembel atau “awan panas” dan menguasai letusan dengan daya rusak yang amat dahsyat.
Nama “Kyai Sapujagad” sebagai penguasa “lahar dingin” yang mengalir dari puncak dan lereng Merapi dengan daya rusak yang bisa meratakan tanah di lereng dan kaki gunung. Tokoh ghaib Merapi yang dipersonifikasikan wanita adalah “Nyai Gadhung Mlathi”, sebagai 'Dewi Kesuburan' yang menyebar abu vulkanis Merapi yang bisa menyuburkan tanah di sekitarnya. Sedangkan “Nyai Kendhit” sebagai 'Dewi Hujan' yang menyiram bumi Merapi menjadi lahan-lahan pertanian yang subur.
Ada lagi tokoh “Satriya Piningit” yang hingga kini masih “tersimpan” di wilayah gunung Merapi. Satriya Piningit ini memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan keangkara-murkaan manusia.
Agar para tokoh ghaib penguasa Merapi ini tidak marah, manusia yang menghuni kawasan Merapi harus bisa 'hidup berdampingan' dan menjaga kelestarian lingkungan alamnya. Disamping itu, masyarakat penghuni kawasan di sekitar gunung ini harus mau menghormati Merapi. Artinya, mereka tidak boleh sembarangan dalam berbicara yang terkait dengan aktivitas Gunung Merapi.
Orang-orang di daerah sekitar Merapi ini menyebut “Merapi lagi duwe gawe” (Merapi sedang punya hajat) atau “Merapi lagi mbangun” (Merapi sedang membangun) ketika gunung ini menunjukkan peningkatan aktivitasnya. Tidak dengan kata-kata apa adanya (vulgar) seperti kata-kata “Gunung Merapi njeblug.” (Gunung Merapi meletus). Atau menyebut “awan panas” yang menakutkan, merusak dan bisa membunuh itu dengan kata yang lebih sopan yaitu “wedhus gembel”.
Lepas dari percaya atau tidak percaya dengan alam ghaib yang ada di gunung Merapi, warga masyarakat yang hidup di sekitarnya harus selalu memperhatikan kegiatan gunung ini. Mereka harus siap menyingkir manakala gunung Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas vulkaniknya. Dengan demikian, korban jiwa dapat dihindari atau minimal bisa dikurangi. *)Radnakustama

Saya sangat bersyukur atas bantuan
BalasHapusdari AKI DARTO yg telah memberikan Angka ghoib kepada kami,
dgn angka kemenangan yg di berikan oleh AKI
kami sudah bisa membangun rumah sendiri dan sesuai perintah AKI DARTO
kamipun memberikan sebagian kemenangn kami kepada pakir miskin,
dan terimahksi juga berkat mas Sunaryo yg telah memberikan
info kepada kami bahwa jika mau dapat kemenangan silahkan
hubngi AKI DARTO di nomor 0823=9433=4847 yg dijamin 100% tembus
jadi kami coba hubungi ternyata benar-benar 100% jaminannya sekali lagi
trimah kasih banyak Mas Sunaryo atas infonya...
thanks ...