Rabu, 19 Januari 2011

GELEGAR MERAPI, KEMBALIKAN Kearifan Lokal PENDUDUK

Suara GELEGAR di puncak Merapi yang disertai lelehan bara lava pijar, dan semburan awan panas (wedhus gembel) yang bergulung-gulung membumbung tinggi ke angkasa menebarkan material berupa kerikil, pasir dan debu ke mana-mana ternyata membuat ciut nyali sebagain warga masyarakat yang masih membandel  tidak mau mengikuti anjuran petugas dan relawan untuk mengungsi meninggalkan kawasan  puncak Merapi.
Mereka terlihat cemas dan takut sembari lari terbirit-birit mencari tumpangan kendaraan yang turun menjauh dari puncak Merapi menuju tempat yang lebih aman. Diantara mereka banyak yang menunggang sepeda motor bertiga sambil memacu kencang kencang motornya. “Dari arah Dukun, ratusan bahkan ribuan orang bersepada motor maupun menumpang mobil seadanya menuju kota Muntilan dan ke berbagai arah, ada yang ke selatan, ada yang kebarat, tetapi kebanyakan diantara mereka menuju kearah utara,” kata Joko Supriyono, yang rumahnya berada di tepi jalan jalur Muntilan - Dukun.
    Peristiwa yang terjadi Rabu petang (3/11) itu, memang bisa terjadi tiba-tiba. Karena setelah meletus selasa sore (26/10), hari hari berikutnya Merapi menujukan penurunan aktifitasnya, bahkan menunjukan sikap tenang. Apalagi di puncak Merapi telah terdapat tanda; 'titik api diam', yang biasanya dipakai para pengamat Merapi sebagai tanda bahwa erupsi Merapi sudah berangsur-angsur melemah. Oleh karena itu banyak pengungsi yang naik, pulang, untuk menengok keadaan rumah dan lahan pertaniaannya, terutama para lelaki, entah dengan menggunakan sepeda motor maupun secara berombongan menyewa truk atau mobil pickup. Tetapi, tiba tiba Merapi membuktikan diri sebagai gunung yang unik dan sulit diprediksi.
    Rabu Kliwon, (3/11) sekitar Jam 16.05 WIB, Merapi melakukan erupsi eksplosif kembali, lebih besar, bahkan tiga kali lebih besar dan lebih lama dari letusan pertama (26/10). Semburan material vulkanik, guguran lava pijar dan gumpalan awan panas keluar terus menerus tanpa putus dengan diiringi suara gelegar. Erupsi yang dilakukan Merapi kali ini bahkan terjadi sampai hari Jum'at (5/11). Semburan material vulkanik yang biasanya hanya sekitar 3-4 Km, kali ini mencapai sekitar 8-9 Km.
    Menurut Kepala Badan Geologi, Kementrian ESDM, Sukhyar, Merapi telah menyemburkan sekitar 150 juta M3 material vulkanik kesegala penjuru mata angin, terutama kearah Barat, Barat Daya dan utara dalam radius puluhan kilometer. Daerah yang tertimpa hujan abu volkanik cukup tebal adalah wilayah Jawa Tengah bagian selatan, Purworejo, Kebumen, Cilacap, bahkan kabaranya sampai ke Pangandaran dan wilayah Bandung Selatan. Kota Yogyakarta yang pada letusan pertama tidak mendapatkan jatah, ternyata dijatah lebih banyak, demikian juga daerah Klaten, Sukoharjo dan Boyolali-pun mendapat bagian.
    Suara gelegar dari kepundan dan hujan material vulkanik di sekitar Merapi tersebut, disamping membuat warga yang tadinya menolak mengungsi lari terbirit-birit, demikian juga para pengungsi yang berada di barak barak pengungsian TPS I dan TPS II pada kilometer dibawah 15 Km, baik yang berada di wilayah kecamatan Dukun, Srumbung dan Sawangan menjadi panik. Tempat pengungsian mereka memang harus di relokasi, karena tempat pengungsian mereka tidak hanya kejatuhan hujan abu tertapi hujan pasir dan kerikil disamping suara gemuruh yang terus-menerus.
    Akibat Hujan pasir dan kerikil yang diserta hujan gerimis di kawasan lereng Merapi dan sekitar kota Muntilan tersebut banyak rumah menjadi rusak atau bahkan roboh. Pohon-pohon pun banyak yang tumbang atau patah cabang dan rantingnya, karena tidak kuat menahan beratnya beban material vulkanik tersebut. Kota Muntilan dan sekitarnya yang biasanya ramai dengan aktifitas masyarakat agrarisnya, saat itu menjadi seperti kota Mati. Jalan jalan yang penuh pasir dan debu menjadi licin, berlumpur dan penuh dengan patahan batang, dahan dan pohon tumbang yang menutupi badan jalan sehingga ada sementara jalan yang tidak bisa dilalui.
    Memang sebagian diantara mereka (warga masyarakat sekitar Merapi) ada yang menolak mengungsi karena mereka masih beranggapan, kalau letusan Merapi kali inipun juga akan seperti letusan yang terjadi pada tahun 2001, atau tahun 2006, disamping itu mereka juga merasa telah memiliki sarana untuk menyelamatkan diri.  Karena itu mereka merasa tidak perlu lagi mengindahkan prosedur tetap (Protap) yang telah disepakati dalam kontijensi menangan bencana maupun prosedur yang telah digariskan PNPB dalam penanganan pengungsi bencana Merapi.
    Banyak hal yang membuat mereka bersikap seperti itu; pertama, mereka beranggapan bahwa Merapi tidak akan benar-benar meletus atau akibat letusan Merapi tidak akan sampai menimpa daerah tempat tinggal mereka, sehingga mereka merasa tidak harus mengungsi. Kedua, mereka merasa sayang kalau harus me-ninggalkan ladang, tanaman yang diusahakan, ternak dan rumahnya ditinggal mengungsi. Karena di pengungsian mereka tidak bisa mengarjakan apa-apa, kecuali duduk dan menunggu sampai keadaan Merapi dinyatakan normal kembali. Ketiga, keengganan mereka mengungsi karena mereka merasa sudah memiliki fasilitas kendaraan yang sewaktu-waktu dapat dipergunakan untuk melarikan diri bila Merapi benar benar membahayakan dirinya.
    Disamping masih banyak lagi dalih dalih yang dipergunakan untuk tidak mengungsi. Padahal SATLAK PBP yang terbentuk dari beberapa unsur pemangku kepentingan baik instansi pemerintah, tokoh masyarakat, LSM, relawan dan warga masyarakat di setiap daerah bencana telah menetapkan Rencana Kontijensi untuk menangani bencana.
    Bencana yang diakibatkan erupsi Gunung Merapi tidak bisa dianggap enteng, mengingat akibat yang ditimbulkannya, karena selama ini Gunung Merapi adalah gunung yang memiliki karakter yang berbeda dengan gunung gunung api lainnya. Kapan Merapi akan meletus, seberapa besar letusannya, kea rah mana luncuran awan panas, guguran lava pijar, dan arah banjir lahar dinginya…? tidak ada seorang ahli-pun yang bisa memprediksi.
    Namun di sisi lain, masih ada orang orang dan sementara penduduk kawasan yang menganggap enteng dan “biasa” menghadapi keadaan Gunung Merapi kali ini. Terutama para penambang dan sopir truk pengangkut pasir yang selama ini sering membandel tak menghiraukan peringatan petugas, dengan dalih kebutuhan nafkah. Padahal bila terjadi korban, tentu aparatlah yang akan dipersalahkan, hal itulah yang selalu menjadikan kerisauan Gubernur Bibit Waluyo. Sehingga, Gubernur-pun sempat marah kepada salah satu sopir truk bandel yang sempat berpapasan dengan rombongan Gubernur saat mengecek jalur evakuasi di wilayah kecamatan Dukun dan Srumbung.
    Belajar dari peristiwa meletusnya gunung Merapi kali ini, semua pihak, baik aparat pemerintah, relawan tokoh masyarakat dan warga masyarakat itu sendiri terutama penduduk di kawasan Merapi, mau kembali kepada 'kearifan lokal' yang sejak dahulu telah hidup ditengah-tengah para leluhur. Bagaimana harus menyikapi peristiwa setiap kali gunung Merapi melakukan erupsi. Apa yang telah menjadi Protap penanganan bencana Merapi yang telah disepakati dalam kontijensi bisa dipatuhi semua pihak, sehingga tidak menimbulkan banyak korban jiwa yang sia-sia.
    Himbauan mengungsi tentunya sudah di-pertimbangkan masak masak oleh pihak yang berwajib, dan warga mestinya bisa mematuhi tanpa paksaan. Mengapa harus sampai terjadi pemaksaan untuk penyelamatkan jiwa (mengungsi). Apalagi sampai harus membuat surat pernyataan, tidak akan menuntut petugas dan relawan bila tertimpa dan menjadi korban bencana erupsi Merapi. Kalau memang harus seperti itu, artinya mereka telah kehilangan 'kearifan lokal', walaupun dalih mereka demi penghidupan (nafkah), padahal ada yang lebih penting, yaitu hidup dan kehidupan (keselamatan).
    Adalah menjadi tugas dan kewajiban para tokoh masyarakat di kawasan Merapi untuk mengembalikan 'kearifan lokal' agar dipahami kembali oleh masyarakat. Kearifan untuk menjaga keselarasan alam. Kearifan untuk tetap menghidupkan dan melestarikan budaya local sehingga akan lebih mementingkan hidup dan kehidupan dari pada penghidupan. “yang terpenting, keselamatan jiwa, kalau diminta warga harus mengungsi, ya dituruti saja. Karena menentukan itu tentu ada alasan kuat dengan teknologi yang mendukungnya. Pokoke manut wae, ben pada slamet kabeh,” kata Gubernur Bibit Waluyo (26/10) kepada para pengungsi di TPA Tanjung Muntilan. *)Donny Eggers, Staf Diskominfo Kabupaten Magelang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar