SANG DERMAWAN
Ketika melihat pemandangan serombongan manusia yang berpakaian lusuh, wajah yang kuyu penuh ketakutan, bangunan rumah yang hancur, tempat bercocoktanam yang layu dan jerit tangis anak kecil yang lapar dan mencari orang tuanya, apa perasaan yang muncuk dalam benak kita? Dapat kita pastikan muncul perasaan iba, kasihan dan keinginan untuk membantu meringan-kan penderitaan mereka.
Hal inilah yang tersaji ketika menyaksikan bencana letusan Merapi. Kedahsyatan letusannya, dianggap sebagai letusan Merapi yang terbesar selama satu abad ini melebihi perkiraan para ahli Gunung Merapi sekalipun. Bencana ini memakan korban jiwa, yang selamat kemudian mengungsi mencari tempat yang aman ke tempat-tempat yang dianggap aman.
Luas wilayah yang terdampak bertambah luas. Sebagian besar penduduk yang berada di Kecamatan Dukun dan Srumbung harus meng-ungsi karena tempat tinggalnya terkena dampak letusan Gunung Merapi.
Para pengungsi bencana Merapi di Kabupaten Magelang mencapai puncaknya ketika letusan kedua terjadi pada awal November 2010 hingga mencapai jumlah lebih dari 100.000 jiwa yang tersebar di lebih dari 250 lokasi. Jumlah pengungsi dan lokasi sebanyak ini jelas membutuhkan penanganan ekstra oleh Pemerintah Daerah karena melebihi perkiraan dan estimasi yang diperkirakan pemerintah daerah, baik dari sisi jumlah pengungsi maupun lokasi pengungsiannya.
Pada hari pertama tiba di lokasi pengungsian, - terutama di luar lokasi pengungsian yang sudah dipersiapkan-, pemerintah daerah belum dapat mendata lokasi pengungsian dan jumlah pengungsi yang ada. Ibaratnya semua pengungsi dalam keadaan panik dan bingung sehingga cenderung mengungsi dilokasi mana pertama kali di turunkan oleh kendaraan evakuasi.
Pada saat inilah, peran masyarakat, organsiasi masyarakat dan kelompok masyarakat lainnya menjalankan peran yang membantu meringankan beban kerja pemerintah daerah. Dengan sukarela mereka menyediakan tempat, iuran dan menyediakan tenaga untuk membuka dapur umum. “Kita niati ini sebagai ibadah kok, para pengungsi tidak ubahnya seorang tamu, melayani dan membantu pengungsi sama dengan me-layani tamu”, demikian mereka memberikan penjelasan.
Itulah sikap kearifan sosial masyarakat yang terbukti sangat membantu beban pemerintah daerah dalam penanganan pengungsi, terutama di hari-hari pertama pengungsian. Namun sebagai pihak yang memiliki kewenangan memberikan jaminan keselamatan dan kesejahteraan warganya, pemerintah kabupaten Magelang-pun segera melakukan pen-dataan dengan menugaskan staf dan berkoordinasi dengan kepala desa tempat di mana desa tersebut menjadi lokasi pengungsian.
Pemerintah Kabupaten Magelangpun terbantu dengan bantuan pihak ketiga, baik dari perusahaan, organisasi maupun masyarakat dari kabupaten/kota yang ada di sekitar Kabupaten Magelang. Namun penanganan bencana ini seoptimal mungkin dilakukan dengan menjunjung tinggi aspek akuntabilitas.
Distribusi bantuan harus dilakukan dengan prosedur yang berlaku dan tepat peruntukkannya. Mungkin inilah yang membuat, bantuan pemerintah kabupaten seringkali memakan waktu ketika didistribusikan kepada para pengungsi.
Setiap peristiwa apapun itu, pastilah ada hikmahnya, tidak terkecuali bencana latusan Merapi ini. Ketika kesulitan mendera, kita disatukan oleh perasaan senasib sepenanggungan dan keingginan untuk membantu sesama. Dan ini terbukti menjadi modal sosial yang berharga di Kabupaten Magelang, dengan keterlibatan masyarakat di lokasi pengungsian.
Hidup Kabupaten Magelang, kita kuat ketika kita bersatu.
*)M. Ali Faiq,S.IP,M.Si Pemimpin Redaksi, KaBid Komunikasi pd Diskominfo Kab Magelang.
Hal inilah yang tersaji ketika menyaksikan bencana letusan Merapi. Kedahsyatan letusannya, dianggap sebagai letusan Merapi yang terbesar selama satu abad ini melebihi perkiraan para ahli Gunung Merapi sekalipun. Bencana ini memakan korban jiwa, yang selamat kemudian mengungsi mencari tempat yang aman ke tempat-tempat yang dianggap aman.
Luas wilayah yang terdampak bertambah luas. Sebagian besar penduduk yang berada di Kecamatan Dukun dan Srumbung harus meng-ungsi karena tempat tinggalnya terkena dampak letusan Gunung Merapi.
Para pengungsi bencana Merapi di Kabupaten Magelang mencapai puncaknya ketika letusan kedua terjadi pada awal November 2010 hingga mencapai jumlah lebih dari 100.000 jiwa yang tersebar di lebih dari 250 lokasi. Jumlah pengungsi dan lokasi sebanyak ini jelas membutuhkan penanganan ekstra oleh Pemerintah Daerah karena melebihi perkiraan dan estimasi yang diperkirakan pemerintah daerah, baik dari sisi jumlah pengungsi maupun lokasi pengungsiannya.
Pada hari pertama tiba di lokasi pengungsian, - terutama di luar lokasi pengungsian yang sudah dipersiapkan-, pemerintah daerah belum dapat mendata lokasi pengungsian dan jumlah pengungsi yang ada. Ibaratnya semua pengungsi dalam keadaan panik dan bingung sehingga cenderung mengungsi dilokasi mana pertama kali di turunkan oleh kendaraan evakuasi.
Pada saat inilah, peran masyarakat, organsiasi masyarakat dan kelompok masyarakat lainnya menjalankan peran yang membantu meringankan beban kerja pemerintah daerah. Dengan sukarela mereka menyediakan tempat, iuran dan menyediakan tenaga untuk membuka dapur umum. “Kita niati ini sebagai ibadah kok, para pengungsi tidak ubahnya seorang tamu, melayani dan membantu pengungsi sama dengan me-layani tamu”, demikian mereka memberikan penjelasan.
Itulah sikap kearifan sosial masyarakat yang terbukti sangat membantu beban pemerintah daerah dalam penanganan pengungsi, terutama di hari-hari pertama pengungsian. Namun sebagai pihak yang memiliki kewenangan memberikan jaminan keselamatan dan kesejahteraan warganya, pemerintah kabupaten Magelang-pun segera melakukan pen-dataan dengan menugaskan staf dan berkoordinasi dengan kepala desa tempat di mana desa tersebut menjadi lokasi pengungsian.
Pemerintah Kabupaten Magelangpun terbantu dengan bantuan pihak ketiga, baik dari perusahaan, organisasi maupun masyarakat dari kabupaten/kota yang ada di sekitar Kabupaten Magelang. Namun penanganan bencana ini seoptimal mungkin dilakukan dengan menjunjung tinggi aspek akuntabilitas.
Distribusi bantuan harus dilakukan dengan prosedur yang berlaku dan tepat peruntukkannya. Mungkin inilah yang membuat, bantuan pemerintah kabupaten seringkali memakan waktu ketika didistribusikan kepada para pengungsi.
Setiap peristiwa apapun itu, pastilah ada hikmahnya, tidak terkecuali bencana latusan Merapi ini. Ketika kesulitan mendera, kita disatukan oleh perasaan senasib sepenanggungan dan keingginan untuk membantu sesama. Dan ini terbukti menjadi modal sosial yang berharga di Kabupaten Magelang, dengan keterlibatan masyarakat di lokasi pengungsian.
Hidup Kabupaten Magelang, kita kuat ketika kita bersatu.
*)M. Ali Faiq,S.IP,M.Si Pemimpin Redaksi, KaBid Komunikasi pd Diskominfo Kab Magelang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar