| Gubernur Jateng Bibit Waluyo, memulai gerakan pemangkasan tanaman salak yang rubuh didesa Banyuadem |
Tanaman salak Nglumut, merupakan tanaman yang menghasilkan produk buah unggulan nasional. Saat bencana Merapi bulan Oktober – Nopember 2010 lalu, tanaman salak menerima dampak hujan material vulkanik berupa abu, pasir dan kerikil, sehingga banyak yang rusak. Sementara para petani mengungsi, tanaman salak sejak awal Nopember ”tertimbun” abu/pasir Merapi cukup tebal. Hampir semua pelepah daun luruh dan tidak sedikit yang patah.
Kondisi seperti itu menyebabkan tanaman salak tidak dapat melakukan asimilasi, kekurangan oksigen dan suhu disekitar tanaman menjadi tinggi. Akibat dari itu banyak tanaman yang daunnya mati dan tanaman terhambat pertumbuhannya.
Untuk menghindari tanaman mati dan kerugian petani salak yang besar, perlu dilakukan tindakan yang tepat untuk tanaman salak Nglumut yang “tertimbun” abu/pasir Merapi itu. Untuk mengetahui seberapa besar bahayanya hujan abu Merapi terhadap tanaman pertanian, diperlukan pemahaman yang baik atas material G. Merapi yang menimpa tanaman dan memenuhi lahan pertanian.
Abu Vulkanik Merapi
Abu Vulkanik/tanah gunung berapi, yang selanjutnya disebut ”vulkanik” saja, adalah tanah yang terbentuk dari lapukan materi dari letusan gunung berapi yang subur mengandung unsur hara yang tinggi. Vulkanik yang dapat dijumpai di sekitar lereng gunung berapi umumnya dicirikan oleh kandungan mineral liat allophan yang tinggi. Allophan adalah Aluminosilikat amorf yang dengan bahan organik dapat membentuk ikatan kompleks.
Sifat-sifat tanah allophan adalah, Profil tanahnya dalam, Lapisan atas maupun permukaannya gembur serta berwarna kehitaman, Lapisan subsoil berwarna kecoklatan dan terasa licin bila digosok diantara jari-jari, Bulk densitynya sangat rendah (< 0, 85), Daya tahan terhadap air tinggi, Perkembang-an struktur tanah baik, Daya lekat maupun plastisitasnya tidak ada bila lembab dan Sukar dibasahi kembali bila sudah kering serta dapat mengapung di atas permukaan air.
Mineralogi tanah yang berasal dari gunung Merapi dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu,
(1). Mineral skeletal yang berasal dari mineral primer (mineral pasir dan debu) serta agregat mikro kristalin yang terdiri atas Pasir atau debu yang masing-masing butir merupakan satu macam mineral primer, Agregat mikro kristalin yang terdiri atas abu vulkan (campuran berbagai mineral primer) dan Chert (silica mikrokristalin).
(2). Fragment yang semuanya berasal dari bahan induk, mineral liat dan liat amorf. Fragmen merupakan pecahan batuan dalam ukuran pasir maupun debu yang terdiri dari berbagai macam mineral primer. Fragmen dalam bentuk mineral liat dan liat amorf terdiri atas, Layer aluminium silicate clay (liat aluminium silikat berkisi/berlapis), Hydrous iron oxide yang merupakan hidroksida Fe serta gibbist yang berupa hidroksida dari Al pada tanah-tanah dengan pelapukan lanjut dan Allophan yang merupakan alluminosilicate amorph pada tanah dari abu vulkanik di daerah humid.
Berdasarkan penelitian dilahan salak didaerah lokasi sekitar Gunung Merapi menemukan hasil bahwa, tanah vulkanik yang berasal dari lokasi sepanjang sungai yang berasal dari G. Merapi mengandung unsur logam Al, Mg, Si dan Fe.
Berdasarkan Uji Komposisi Kimia Tanah Abu Vulkanik Gunung Merapi yang dilakukan oleh Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Yogyakarta menunjukkan bahwa dalam abu vulkanik tersebut mengandung 12 macam unsur.
Unsur Silikat atau SiO2 (54.56 %). Unsur ini secara mikroskopik berbentuk kristalin menyudut. Apabila diamati terutama pada uji komposisi kimianya unsur silikat ini memiliki potensi untuk dapat dimanfaatkan sebagai material keramik berbasis Alumino Silicate.
Pemanfaatan Abu Vulkanik Gunung Merapi untuk industri keramik ini dapat dilakukan apabila tersedianya vulkanik yang sangat melimpah dan sudah menjadi barang limbah dan mengganggu. Namun karena Abu Vulkanik sangat baik untuk dipergunakan sebagai media bercocok tanam maka pemanfaatan sebagai bahan baku keramik akan mengganggu lahan pertanian. Bahan abu vulkanik itu juga menjadi bahan tambang galian C untuk bangunan, sehingga cadangannya semakin lama semakin habis.
Unsur Alumunium atau Al2O3 (18.37 %). Unsur ini sangat sedikit dimanfaatkan tanaman. Jumlah yang berlebihan dalam tanah bersama zat besi akan menyebabkan tanah bereaksi asam atau pH kurang dari 6,0. Tanah yang asam kurang baik untuk pertumbuhan tanaman.
Unsur Besi atau Fe2O3 (18.59 %). Bagi tanaman, Unsur hara Besi (Fe) penting dalam pembentukan klorofil. Namun kelebihan zat besi bersama Alumunium akan menyebabkan tanah asam sehingga perlu penambahan kapur pertanian agar pH-nya menjadi naik sampai netral.
Unsur Kalsium atau CaO (8.33 %). Unsur hara Kalsium (Ca) bermanfaat Merangsang pembentukan bulu akar, Mengeras-kan bagian kayu tanaman dan Merangsang pembentukan buah dan biji-bijian. Kalsium juga bermanfaat menaikkan pH tanah.
Unsur Magnesium atau MgO (2.45 %). Unsur hara Magnesium (Mg) bermanfaat Membentuk hijau daun/klorofil tanaman, sehingga tanaman cepat menghijau.
Unsur Phosphat atau P2O5 (0.32 %). Unsur hara Pospor (P) bermanfaat memacu pertumbuhan akar, lebih banyak dan lebih panjang, menambah daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit, mempercepat pertumbuhan jaringan tanaman yang membentuk titik tumbuh (ujung tanaman, ujung akar), Memacu pertumbuhan/pembentukan bunga & masaknya buah/biji lebih banyak dan Mempercepat masa panen
Unsur Kalium atau K2O (2.32 %). Unsur hara Kalium (K) bermanfaat untuk Memperlancar proses asimilasi, Memacu pertumbuhan tanaman pada tingkat permulaan, Memperkuat batang tanaman sehingga lebih tahan rebah, Menguatkan buah sehingga mengurangi kecepatan pembusukan saat pengangkutan & penyimpanan, Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama, penyakit dan kekeringan dan Memperbaiki mutu hasil, bungan lebih cerah rasa buah lebih manis.
Unsur Mangan atau MnO (0.17 %). Unsur hara Mangan (Mn) bermanfaat dan penting dalam pembentukan klorofil, Membantu proses asimilasi, Merangsang perkecambahan biji dan Merangsang pemasakan buah
Sementara itu unsur Natrium atau Na2O (3.62 %), HD (0.2 %) dan TiO2 (0.92 %) jarang terdeteksi dalam proses fisiologi tanaman. Sedangkan air atau H2O (0.11 %) merupakan bahan pelarut dari semua unsur dalam proses hidupnya tanaman.
Dampak Hujan Abu Vulkanik Merapi
Akibat hujan abu vulkanik tahun ini begitu besarnya, sehingga tak kurang dari tujuh juta pohon salak Nglumut produktif rusak dengan intensitas lebih dari 90%. Dengan perhitungan produktifitas buah 8 – 10 kg/rumpun/tahun, dan harga Rp5.000,- - 6.000,-/kg, maka kerugian nilai panen pada tahun ini diperhitungkan lebih dari Rp220 M.
Selain kerugian nilai panen tahun ini, petani masih menderita kerugian berupa rusaknya pohon salak yang untuk pemulihannya memerlukan waktu lebih dari dua - tiga tahun. Beberapa tanaman yang tertimbun dalam waktu lama juga mengalami kematian titik tumbuh, sehingga pemulihannya harus menunggu tumbuhnya tunas samping. Untuk itu agar tanaman berproduksi normal butuh waktu lebih dari lima tahun.
Perlakuan Teknis terhadap tanaman rusak.
Pada dasarnya tanaman yang rusak karena tertimbun abu vulkanik Merapi masih dapat diselamatkan dengan berbagai tindakan.
1. Tindakan terhadap tanaman
a. Pengurangan daun dan pelepah agar pelepah yang roboh dapat tegak kembali. Pengurangan ini diupayakan sesedikit mungkin membuang daun, agar daun masih dapat berasimilasi.
b. Apabila pelepah patah, sebaiknya dipangkas hingga dibawah bagian yang patah atau hingga mendekati pangkal pelepah. Posisi potongan dibuat miring agar air hujan dapat mudah hilang.
c. Apabila titik tumbuh terlihat kering atau membusuk bagian ujung, Karena terlalu lama tertimbun, sebaiknya segera dilakukan pemotongan hingga memperoleh bagian yang tidak busuk. Dengan cara ini diharapkan titik tumbuh akan mampu bertunas kembali.
d. Apabila ternyata titik tumbuh membusuk sampai pangkal hingga pohon utama mati, sebaiknya tetap dibersihkan dan ditunggu tumbuhnya tunas anakan untuk dipiara sebagai pengganti pohon utama. Tunas anakan yang tumbuh lebih dari satu, sebaiknya dikurangi dengan cara mencangkok dan ditinggalkan satu – dua anakan yang baik.
e. Setelah pemangkasan pelepah selesai, pelepah bekas pangkasan sebaiknya dipotong-potong dan diletakkan diantara tanaman dalam barisan, sehingga tanah antar barisan tetap terbuka.
f. Setelah pemangkasan dan penataan pelepah bekas pangkasan selesai, sebaiknya pohon salak beserta buah yang masih ada segera dibersihkan dengan cara menyemprotkan air bersih menggunakan penyemprot bermesin (power sprayer) sampai bersih.
g. Apabila dipohon yang habis disemprot tersebut masih ada buah yang siap panen atau cukup tua, sebaiknya segera dipetik paling cepat 24 jam setelah disemprot. Hal itu agar air bekas penyemprotan tuntas dan tidak menyebabkan buah mudah busuk.
2. Tindakan terhadap tanah.
Abu vulkanik dengan kandungan Si, Al, Fe dengan fraksi debu yang ukurannya < 2 mikron, akan mudah memadat apabila tertumpuk. Apabila tumpukan abu vulkanik ketebalannya lebih dari 5 cm, maka akan menyebabkan bagian tanah dibawahnya yang banyak ditumbuhi akar salak kekurangan oksigen (O2).
Akar yang kekurangan oksigen akan terganggu aktifitas pertumbuhan dan penyerapan zat haranya dari dalam tanah. Selain menyebabkan tanah kekurangan oksigen, karena unsur Fe2O3 dan Al2O3 yang tinggi itu menyebabkan reaksi tanah menjadi asam, pH kurang dari 5,5.
Untuk menghindari matinya akar karena kekurangan oksigen, maka beberapa tindakan terhadap tanah yang tertumpuk abu vulkanik diantaranya adalah :
a. Segera dilakukan pencangkulan hingga menembus bagian tanah dibawah tumpukan abu vulkanik. Mungkin beberapa akar terputus tidak mengapa, karena akan tumbuh cabang akar baru.
b. Tanah bekas cangkulan yang bercampur abu vulkanik sebagian dipakai untuk menutup potongan daun/pelepah salak yang telah ditumpuk diantara tanaman.
c. Khusus untuk tanaman yang mati titik tumbuhnya dan akan dipelihara anakannya, sebaiknya pangkal batangnya di-timbun, sehingga pangkal anakan tertutup tanah. Dengan begitu pertumbuhan anakan akan lebih cepat.
d. Apabila telah tersedia pupuk, sebaiknya tanaman segera dipupuk dengan pupuk organic 1 kranjang + pupuk NPK 100 – 200 gram per rumpun. Pemupukan cukup dilakukan 1 – 2 bulan sekali. Untuk mengurangi keasaman tanah, kedalam pupuk kandang tersebut dapat dicampurkan pula kapur dolomite 200 – 250 gram.
e. Apabila tersedia pupuk daun, tanaman yang baru dipangkas dan memperlihatkan pertumbuhan tunas baru dapat disemprot dengan pupuk daun (Neo Kristalon hijau, Neo Kristalon kuning, Gandasil D atau lainnya). Penyemprotan cukup dilakukan setengah bulan sekali.
Ada dampak positif dan negative dari hujan abu vulkanik G. Merapi. Tetapi, hampir semua tanah yang subur, selalu berada dilereng gunung yang berapi. Untuk itu dengan tetap mengikuti anjuran ahli vulkanologi, masyarakat tani dapat memanfaatkan tanah vulkanik itu untuk usaha tani.
Tentu dengan tetap memperhatikan dan mentaati acuan lokasi yang aman dari bahayanya dari ahli vulkanologi. Semoga bermanfaat. *) Ir. H. Soekam Parwadi
Kondisi seperti itu menyebabkan tanaman salak tidak dapat melakukan asimilasi, kekurangan oksigen dan suhu disekitar tanaman menjadi tinggi. Akibat dari itu banyak tanaman yang daunnya mati dan tanaman terhambat pertumbuhannya.
Untuk menghindari tanaman mati dan kerugian petani salak yang besar, perlu dilakukan tindakan yang tepat untuk tanaman salak Nglumut yang “tertimbun” abu/pasir Merapi itu. Untuk mengetahui seberapa besar bahayanya hujan abu Merapi terhadap tanaman pertanian, diperlukan pemahaman yang baik atas material G. Merapi yang menimpa tanaman dan memenuhi lahan pertanian.
Abu Vulkanik Merapi
Abu Vulkanik/tanah gunung berapi, yang selanjutnya disebut ”vulkanik” saja, adalah tanah yang terbentuk dari lapukan materi dari letusan gunung berapi yang subur mengandung unsur hara yang tinggi. Vulkanik yang dapat dijumpai di sekitar lereng gunung berapi umumnya dicirikan oleh kandungan mineral liat allophan yang tinggi. Allophan adalah Aluminosilikat amorf yang dengan bahan organik dapat membentuk ikatan kompleks.
Sifat-sifat tanah allophan adalah, Profil tanahnya dalam, Lapisan atas maupun permukaannya gembur serta berwarna kehitaman, Lapisan subsoil berwarna kecoklatan dan terasa licin bila digosok diantara jari-jari, Bulk densitynya sangat rendah (< 0, 85), Daya tahan terhadap air tinggi, Perkembang-an struktur tanah baik, Daya lekat maupun plastisitasnya tidak ada bila lembab dan Sukar dibasahi kembali bila sudah kering serta dapat mengapung di atas permukaan air.
Mineralogi tanah yang berasal dari gunung Merapi dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu,
(1). Mineral skeletal yang berasal dari mineral primer (mineral pasir dan debu) serta agregat mikro kristalin yang terdiri atas Pasir atau debu yang masing-masing butir merupakan satu macam mineral primer, Agregat mikro kristalin yang terdiri atas abu vulkan (campuran berbagai mineral primer) dan Chert (silica mikrokristalin).
(2). Fragment yang semuanya berasal dari bahan induk, mineral liat dan liat amorf. Fragmen merupakan pecahan batuan dalam ukuran pasir maupun debu yang terdiri dari berbagai macam mineral primer. Fragmen dalam bentuk mineral liat dan liat amorf terdiri atas, Layer aluminium silicate clay (liat aluminium silikat berkisi/berlapis), Hydrous iron oxide yang merupakan hidroksida Fe serta gibbist yang berupa hidroksida dari Al pada tanah-tanah dengan pelapukan lanjut dan Allophan yang merupakan alluminosilicate amorph pada tanah dari abu vulkanik di daerah humid.
Berdasarkan penelitian dilahan salak didaerah lokasi sekitar Gunung Merapi menemukan hasil bahwa, tanah vulkanik yang berasal dari lokasi sepanjang sungai yang berasal dari G. Merapi mengandung unsur logam Al, Mg, Si dan Fe.
Berdasarkan Uji Komposisi Kimia Tanah Abu Vulkanik Gunung Merapi yang dilakukan oleh Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Yogyakarta menunjukkan bahwa dalam abu vulkanik tersebut mengandung 12 macam unsur.
Unsur Silikat atau SiO2 (54.56 %). Unsur ini secara mikroskopik berbentuk kristalin menyudut. Apabila diamati terutama pada uji komposisi kimianya unsur silikat ini memiliki potensi untuk dapat dimanfaatkan sebagai material keramik berbasis Alumino Silicate.
Pemanfaatan Abu Vulkanik Gunung Merapi untuk industri keramik ini dapat dilakukan apabila tersedianya vulkanik yang sangat melimpah dan sudah menjadi barang limbah dan mengganggu. Namun karena Abu Vulkanik sangat baik untuk dipergunakan sebagai media bercocok tanam maka pemanfaatan sebagai bahan baku keramik akan mengganggu lahan pertanian. Bahan abu vulkanik itu juga menjadi bahan tambang galian C untuk bangunan, sehingga cadangannya semakin lama semakin habis.
Unsur Alumunium atau Al2O3 (18.37 %). Unsur ini sangat sedikit dimanfaatkan tanaman. Jumlah yang berlebihan dalam tanah bersama zat besi akan menyebabkan tanah bereaksi asam atau pH kurang dari 6,0. Tanah yang asam kurang baik untuk pertumbuhan tanaman.
Unsur Besi atau Fe2O3 (18.59 %). Bagi tanaman, Unsur hara Besi (Fe) penting dalam pembentukan klorofil. Namun kelebihan zat besi bersama Alumunium akan menyebabkan tanah asam sehingga perlu penambahan kapur pertanian agar pH-nya menjadi naik sampai netral.
Unsur Kalsium atau CaO (8.33 %). Unsur hara Kalsium (Ca) bermanfaat Merangsang pembentukan bulu akar, Mengeras-kan bagian kayu tanaman dan Merangsang pembentukan buah dan biji-bijian. Kalsium juga bermanfaat menaikkan pH tanah.
Unsur Magnesium atau MgO (2.45 %). Unsur hara Magnesium (Mg) bermanfaat Membentuk hijau daun/klorofil tanaman, sehingga tanaman cepat menghijau.
Unsur Phosphat atau P2O5 (0.32 %). Unsur hara Pospor (P) bermanfaat memacu pertumbuhan akar, lebih banyak dan lebih panjang, menambah daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit, mempercepat pertumbuhan jaringan tanaman yang membentuk titik tumbuh (ujung tanaman, ujung akar), Memacu pertumbuhan/pembentukan bunga & masaknya buah/biji lebih banyak dan Mempercepat masa panen
Unsur Kalium atau K2O (2.32 %). Unsur hara Kalium (K) bermanfaat untuk Memperlancar proses asimilasi, Memacu pertumbuhan tanaman pada tingkat permulaan, Memperkuat batang tanaman sehingga lebih tahan rebah, Menguatkan buah sehingga mengurangi kecepatan pembusukan saat pengangkutan & penyimpanan, Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama, penyakit dan kekeringan dan Memperbaiki mutu hasil, bungan lebih cerah rasa buah lebih manis.
Unsur Mangan atau MnO (0.17 %). Unsur hara Mangan (Mn) bermanfaat dan penting dalam pembentukan klorofil, Membantu proses asimilasi, Merangsang perkecambahan biji dan Merangsang pemasakan buah
Sementara itu unsur Natrium atau Na2O (3.62 %), HD (0.2 %) dan TiO2 (0.92 %) jarang terdeteksi dalam proses fisiologi tanaman. Sedangkan air atau H2O (0.11 %) merupakan bahan pelarut dari semua unsur dalam proses hidupnya tanaman.
Dampak Hujan Abu Vulkanik Merapi
Akibat hujan abu vulkanik tahun ini begitu besarnya, sehingga tak kurang dari tujuh juta pohon salak Nglumut produktif rusak dengan intensitas lebih dari 90%. Dengan perhitungan produktifitas buah 8 – 10 kg/rumpun/tahun, dan harga Rp5.000,- - 6.000,-/kg, maka kerugian nilai panen pada tahun ini diperhitungkan lebih dari Rp220 M.
Selain kerugian nilai panen tahun ini, petani masih menderita kerugian berupa rusaknya pohon salak yang untuk pemulihannya memerlukan waktu lebih dari dua - tiga tahun. Beberapa tanaman yang tertimbun dalam waktu lama juga mengalami kematian titik tumbuh, sehingga pemulihannya harus menunggu tumbuhnya tunas samping. Untuk itu agar tanaman berproduksi normal butuh waktu lebih dari lima tahun.
Perlakuan Teknis terhadap tanaman rusak.
Pada dasarnya tanaman yang rusak karena tertimbun abu vulkanik Merapi masih dapat diselamatkan dengan berbagai tindakan.
1. Tindakan terhadap tanaman
a. Pengurangan daun dan pelepah agar pelepah yang roboh dapat tegak kembali. Pengurangan ini diupayakan sesedikit mungkin membuang daun, agar daun masih dapat berasimilasi.
b. Apabila pelepah patah, sebaiknya dipangkas hingga dibawah bagian yang patah atau hingga mendekati pangkal pelepah. Posisi potongan dibuat miring agar air hujan dapat mudah hilang.
c. Apabila titik tumbuh terlihat kering atau membusuk bagian ujung, Karena terlalu lama tertimbun, sebaiknya segera dilakukan pemotongan hingga memperoleh bagian yang tidak busuk. Dengan cara ini diharapkan titik tumbuh akan mampu bertunas kembali.
d. Apabila ternyata titik tumbuh membusuk sampai pangkal hingga pohon utama mati, sebaiknya tetap dibersihkan dan ditunggu tumbuhnya tunas anakan untuk dipiara sebagai pengganti pohon utama. Tunas anakan yang tumbuh lebih dari satu, sebaiknya dikurangi dengan cara mencangkok dan ditinggalkan satu – dua anakan yang baik.
e. Setelah pemangkasan pelepah selesai, pelepah bekas pangkasan sebaiknya dipotong-potong dan diletakkan diantara tanaman dalam barisan, sehingga tanah antar barisan tetap terbuka.
f. Setelah pemangkasan dan penataan pelepah bekas pangkasan selesai, sebaiknya pohon salak beserta buah yang masih ada segera dibersihkan dengan cara menyemprotkan air bersih menggunakan penyemprot bermesin (power sprayer) sampai bersih.
g. Apabila dipohon yang habis disemprot tersebut masih ada buah yang siap panen atau cukup tua, sebaiknya segera dipetik paling cepat 24 jam setelah disemprot. Hal itu agar air bekas penyemprotan tuntas dan tidak menyebabkan buah mudah busuk.
2. Tindakan terhadap tanah.
Abu vulkanik dengan kandungan Si, Al, Fe dengan fraksi debu yang ukurannya < 2 mikron, akan mudah memadat apabila tertumpuk. Apabila tumpukan abu vulkanik ketebalannya lebih dari 5 cm, maka akan menyebabkan bagian tanah dibawahnya yang banyak ditumbuhi akar salak kekurangan oksigen (O2).
Akar yang kekurangan oksigen akan terganggu aktifitas pertumbuhan dan penyerapan zat haranya dari dalam tanah. Selain menyebabkan tanah kekurangan oksigen, karena unsur Fe2O3 dan Al2O3 yang tinggi itu menyebabkan reaksi tanah menjadi asam, pH kurang dari 5,5.
Untuk menghindari matinya akar karena kekurangan oksigen, maka beberapa tindakan terhadap tanah yang tertumpuk abu vulkanik diantaranya adalah :
a. Segera dilakukan pencangkulan hingga menembus bagian tanah dibawah tumpukan abu vulkanik. Mungkin beberapa akar terputus tidak mengapa, karena akan tumbuh cabang akar baru.
b. Tanah bekas cangkulan yang bercampur abu vulkanik sebagian dipakai untuk menutup potongan daun/pelepah salak yang telah ditumpuk diantara tanaman.
c. Khusus untuk tanaman yang mati titik tumbuhnya dan akan dipelihara anakannya, sebaiknya pangkal batangnya di-timbun, sehingga pangkal anakan tertutup tanah. Dengan begitu pertumbuhan anakan akan lebih cepat.
d. Apabila telah tersedia pupuk, sebaiknya tanaman segera dipupuk dengan pupuk organic 1 kranjang + pupuk NPK 100 – 200 gram per rumpun. Pemupukan cukup dilakukan 1 – 2 bulan sekali. Untuk mengurangi keasaman tanah, kedalam pupuk kandang tersebut dapat dicampurkan pula kapur dolomite 200 – 250 gram.
e. Apabila tersedia pupuk daun, tanaman yang baru dipangkas dan memperlihatkan pertumbuhan tunas baru dapat disemprot dengan pupuk daun (Neo Kristalon hijau, Neo Kristalon kuning, Gandasil D atau lainnya). Penyemprotan cukup dilakukan setengah bulan sekali.
Ada dampak positif dan negative dari hujan abu vulkanik G. Merapi. Tetapi, hampir semua tanah yang subur, selalu berada dilereng gunung yang berapi. Untuk itu dengan tetap mengikuti anjuran ahli vulkanologi, masyarakat tani dapat memanfaatkan tanah vulkanik itu untuk usaha tani.
Tentu dengan tetap memperhatikan dan mentaati acuan lokasi yang aman dari bahayanya dari ahli vulkanologi. Semoga bermanfaat. *) Ir. H. Soekam Parwadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar