Rabu, 19 Januari 2011

“Wedhus Gèmbèl” MERAPI, YANG DITAKUTI


Hal yang paling ditakuti penduduk kawasan gunung Merapi ketika terjadi erupsi atau letusaan adalah luncuran awan panas atau yang biasa mereka sebut sebagai Wedhus Gembel. Dinamakan Wedhus Gembel, menurut para leluhur mereka yang bermukim di kawasan gunung Merapi karena bentuknya bergulung-gulung, ikal seperti bulu domba (Wedhus Gembel=jawa).
    Sebutan itu memang dikiaskan, sebab bagi penduduk kawasan Merapi ditabukan menyebut secara langsung keadaan atau aktifitas yang sedang dilakukan Gunung Merapi, termasuk pantangan menyebutkan nama dan peristiwa yang sedang terjadi. Bahkan untuk memeritahkan agar warga masyarakat mengungsi-pun tidak boleh dilakukan dengan membunyikan tetabuhan. Misalnya, menyebut gunung Merapi sedang erupsi dengan  “pepundhen Merapi nembe kagungan kersa” (sebagai penghormatan leluhur Merapi sedang melakukan hajatan).
    Wedhus gembel inilah justru yang sering menelan banyak korban jiwa serta harta benda penduduk. Karena tidak pernah disangka datangnya. Hal itu disebabkan, disamping kecepatan luncurannya bisa mencapai 200 Km/ Jam, juga karena setiap peristiwa itu terjadi keadaan Merapi selalu terselimuti kabut. 
    Ketika Gunung Merapi melakukan erupsi (letusan), ada beberapa aktifitas yang dilakukan, diantara-nya, seperti semburan material vulkanik, guguran lava pijar, dan luncuran awan panas atau wedhus gembel. Semburan material vulkanik, adalah semburan dari mulut kepundan Gunung Merapi yang mengarah keatas.
    Material yang disemburkan berupa bermacam-macam bentuk material vulkanik, seperti bebatuan, kerikil, pasir, abu maupun gas. Akibat dari semburan ini diantaranya; terjadi-nya hujan batu, kerikil dan pasir disekitar puncak Merapi. Karena material vulkanik tersebut cukup berat sehingga radius cakupannya tidak terlalu luas. Sedangan hujan asam dan hujan debu vulkanik radiusnya bisa sampai berpuluh-puluh bahkan bisa sampai ratusan kilometer, tergantung arah dan kekuatan tekanan angin yang berhembus di atas gunung Marapi saat erupsi terjadi.
    Semburan material vulkanik pada letusan Merapi kali ini adalah yang terkuat dan terlama, semburan bisa mencapai ribuan meter keatas (erupsi yang terjadi mulai 26 Oktober sampai 5 Nopember 2010). Sehingga radius hujan debu vulkanik bisa sampai ke kota Kebumen, Cilacap bahkan sampai ke wilayah Bandung Selatan.
    Debu vulkanik tersebut mengandung unsur SiO2 (Silika) yang sangat halus tetapi memiliki sisi-sisi yang tajam, sehingga dapat merobek jaringan paru-paru bila terhirup, dan menyebabkan iritasi apabila terkena mata. Untuk itu disarankan kepada penduduk yang terkena hujan debu vulkanik  dari gunung Merapi agar menggunakan Masker dan kacamata pelindung.    
    Sedangkan Guguran Lava Pijar adalah peristiwa keluarnya material padat vulkanik yang masih membara dari Magma gunung  ketika gunung tersebut melakukan erupsi. Keluarnya magma ini tidak mesti dibarengi dengan semburan. Bisa sendiri sendiri atau bisa pula bersama-sama, hal itu tergantung kuatnya energi yang masih ada di dalam perut gunung tersebut. Biasanya guguran lava pijar ini juga dibarengi dengan luncuran Awan Panas atau wedhus gembel.
    Guguran lava pijar ini mulanya berupa lelehan yang keluar dari mulut gunung yang turun melalui lereng lerengnya. Kalau gunung tersebut berbentuk kerucut maka lelehan lava pijar (material vulkanik yang masih membara) tersebut akan menjadi guguran dan luncuran lava pijar yang berbentuk seperti bola bola api dan jangkauanya bisa mencapai jarak berkilo kilometer dari puncak. Guguran lava pijar pada erupsi gunung Merapi kali ini adalah yang terjauh dalam kurun waktu 100 tahun belakangan, yaitu sampai 14 Km dari puncak Merapi.
    Menurut Mas Atje seorang pakar dan peneliti kegunung apian di Indonesia terutama Gunung Merapi,dan pernah aktif di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada kementrian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), mengatakan; AKtifitas Gunung Merapi yang ditunjukan dengan keluarnya lava dari dapur magma ke lubang kepundan dan biasanya dalam bentuk lelehan lava yang menumpuk di sekeliling bibir kawah dan membentuk kubah. 
    Aktifitas naiknya magma ke permukaan (kepundan) gunung tersebut akan menimbulkan kepulan asap, hingga membentuk awan panas dan menyebabkan letusan material yang terdiri dari uap, debu dan bebatuan.
    Awan panas atau ledakan freatik tersebut terjadi apabila magma yang naik itu menyentuh air atau genangan air yang ada di kepundan. Suhu magma yang baru keluar dari dapur magma tersebut sangat tinggi, (bisa mencapai 1.170 derajat celcius), sehingga kalau magma panas tersebut terkena air yang ada di kepundan puncak Merapi langsung menguap dan menimbulkan letusan uap, debu, bebatuan dan ledakan vulkanik. Letusan inilah yang meng-hasilkan awan panas, yaitu awan yang disertai bebarapa material vulkanik yang masih panas (antara 600 – 800 derajat Celsius) yang keluar dari kepundan, baik melalui semburan maupun lelehan yang menyusuri lereng lereng gunung yang disebut dengan aliran Piroklastik, dan apabila material guguran lava tersebut dalam volume yang besar maka akan berubah menjadi rock avalanche atau wedhus gembel yang akan menerkam apa saja yang ada di hadapannya. 
    Memang dari peningkatan aktifitas vulkanik Merapi, magma yang keluar terus-menerus dari dapur magma akan membentuk kubah lava di kepundan. Karena aktifitas tersebut terjadi terus-menerus maka magma baru yang keluar akan mendesak kubah lava yang telah ada dan terbangun setelah bertahun tahun, akibatnya terjadilah guguran kubah lava. Guguran inilah yang menyebabkan kubah yang terbentuk selama bertahun tahun  ikut terbongkar.
    Guguran sebagian besar kubah tersebut akan membuka jalan lebih besar bagi magma untuk naik kepermukaan. Kondisi ini menyebabkan terbongkarnya kubah lava secara besar-besaran. Hal ini mengakibatkan terjadinya letusan besar, seperti yang terjadi pada letusan Merapi 26/10 lalu. Letusan tersebut juga diikuti dengan terjadinya fragmentasi material magma baru dan munculnya awan panas yang menyembur keatas sehingga mengakibatkan hujan abu dan hujan asam di sekitar Merapi. 
    Di Merapi, guguran lava yang menghasilkan awan panas umumnya terjadi setelah pertumbuhan kubah lava. Tipe erupsi khas Merapi adalah efusif. Yaitu pembentukan kubah yang tidak stabil karena terdesak magma hingga akhirnya runtuh berupa guguran lava pijar dan awan panas.
    Karena sifat Merapi yang unik dan tidak bisa di perkirakan, akan seperti apa letusan Merapi kelak….? Kita tidak tahu.Untuk itu diharapkan, agar masyarakat di sekitar Merapi tetap menjaga kewaspaannya agar tidak menjadi korban sia-sia. Banyak hal yang tidak mungkin justru terjadi di Merapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar