Pijaran sinar Lighting yang temaram membias di seluruh penjuru stage yang berbentuk procenium. Beberapa penari menyebar ke seluruh penjuru dengan membentuk gerak dengan berbagai konfigurasi yang sangat eksotis. Para penari berusaha mengeksploiatasi diri dengan mengoptimalkan karakterisasi gerak selaras dengan casting yang dibawakan.
Adegan itu mengawali Pagelaran Sendratari bertajuk “Tilakkhana” dalam rangkaian upacara Waisak di Taman Lumbini Borobudur. Sendratari dengan koreografer Joko Suka Sadana dari Surakarta ini didukung kurang lebih 50 penari.
Tajuk “Tillakhana” yang dipilih dalam pagelaran kolosal itu merupakan pesan moral dari Sidharta Gautama. Skenario sendratrari tersebut disiapkan oleh Bhiksuni Viryaguna Mahasthavira. Ikut menyaksikan sendratari tersebut sejumlah delegasi dari 14 negara Asean, termasuk Jepang, Korea, China, India, dan Srilangka, serta para duta besar negara sahabat.
Dalam sendratari yang dikemas sangat spektakuler itu mengisahkan seorang perempuan bernama Khissa Gotami yang memaksa bertemu Sang Buddha untuk menghidupkan kembali anaknya yang meninggal akibat tergigit ular hitam kecil berbisa. Keletihan, lapar, dan haus terkalahkan oleh harapannya bahwa sang anak bisa dihidupkan kembali oleh Sang Buddha.
Dengan langkah gontai dan terhuyung sambil memeluk anaknya yang sudah membiru, perempuan itu terus melangkahkan kakinya menghampiri murid Sang Buddha yang bernama Anandha. Dengan diselingi isak tangis, ia memohon dan mengutarakan maksud kedatangannya itu. Anandha pun dengan penuh kesabaran menjelaskan bahwa Sang Budda barusan berobat ke tabib dan tidak mungkin bisa menghidupkan kembali anaknya yang sudah meninggal.
Tetapi Khissa Gotami tidak percaya. Bagi dirinya, Sang Buddha adalah maha segalanya, pasti bisa menghidupkan kembali anaknya. Anandha dengan penuh kesabaran berusaha menyadarkan Khissa Gotami bahwa Sang Buddha tidak bisa menyembuhkan orang sakit, tetapi dapat menyembuhkan orang yang sedang menderita karena batinnya resah dan tidak seimbang.
Akhirnya Gotami menjatuhkan diri dan duduk bersimpuh memandang Sang Buddha dengan penuh harap. Pancaran hati perempuan yang memelas itu menyadarkan Sang Buddha dari meditasinya. Dengan pancaran hati yang penuh cinta kasih, Sang Buddha menatap Gotami dengan menjelaskan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menghidupkan kembali orang yang telah meninggal, termasuk dirinya.
Perempuan itu terperangah, terkejut, dan hatinya hancur berkeping-keping diikuti oleh kekecewaan yang begitu besar karena harapannya untuk melihat anaknya hidup kembali pupus di tengah jalan. Di antara kepiluan dan isak tangis perempuan itu, Sang Buddha berkata, “Carilah segenggam biji lada dari sebuah keluarga yang belum pernah ada kematian di dalam sanak keluarganya. Kalau engkau berhasil, maka anakmu akan hidup kembali.”
Sontak perempuan itu berbinar, karena memiliki harapan baru. Wajahnya kembali bersemangat, dia bermaksud mencari lada itu sampai ke ujung dunia manapun asalkan anaknya dapat hidup kembali seperti sedia kala.
Kepergian Gotami itu sangat meresahkan hati Anandha. Karena dihantui oleh perasaan yang tidak berkesudahan, maka sang murid itu bertanya kepada Sang Buddha,“ Mengapa Khissa Gotami diberi persyaratan yang tidak masuk akal itu Guru ? Bukankah kematian sudah menjadi bagian dari kehidupan setiap keluarga di muka bumi ini? Sudah pasti Khissa Gotami tidak akan menemukannya.”
Dengan senyum penuh welas asih, Sang Buddha menjelaskan kepada Anandha bahwa kematian anak yang sangat dicintainya itu membuat Khissa Gotami sangat menderita dan tergoncang jiwanya. Akibatnya dia tidak dapat lagi berpikir jernih dan wajar karena kegelapan batin yang sedang membelenggu-nya.
Mencari segenggam lada bukanlah pekerjaan sulit. Akan tetapi, dari keluarga yang sama sekali tidak pernah ditinggal kematian oleh sanak keluarga adalah mustahil. Dengan dihadapkan pada kenyataan itu, kegelapan batin akan menghilang dan berganti dengan kesadaran bahwa kematian adalah bagian dari kenyataan yang harus dijalani di dalam kehidupan yang tidak kekal ini.
Sabda Sang Buddha memang benar-benar terjadi. Setelah begitu banyak rumah yang membukakan pintu untuk Gotami terpaksa ditolak, karena setiap rumah selalu menjawab bahwa keluarganya sudah pernah ada yang meninggal.
Akhirnya Gotami pun harus menerima kenyataan, bahwa kematian adalah sebuah realitas kehidupan yang harus dijalani oleh setiap manusia. “Kematian adalah bukti ketidakkekalan hidup. Itu tak lebih merupakan jalan kita menuju kelahiran baru,”jelas Sang Buddha kepada Khissa Gotami tatkala dirinya kembali menghadap untuk minta petunjuk dan penghiburan. Meski dirinya sudah mulai mampu menerima realitas hidup, Khissa Gotami selalu memohon nasihat agar dirinya bisa tetap memiliki semangat hidup, walaupun tanpa kehadiran anak semata wayangnya tersebut.
Pesan Moral
Kisah dalam sendratari tersebut memberikan pesan moral kepada kita bahwa tidak kekalnya kehidupan adalah kenyataan yang tidak dapat ditolak. Berpengharapan pada ketidak-kekalan adalah pekerjaan sia-sia. Untuk itu, hidup ini perlu dijalani dengan terus menerus berbuat kebaikan. Adalah suatu kebijaksanaan apabila pengharapan dalam menjalani hidup yang tidak kekal di dunia ini ditujukan pada kesadaran moral tertinggi.
Semua yang kita terima di dunia ini baik materi ataupun kekuasaan tak lebih merupakan warna dunia yang sementara dan tidak akan terbawa pada kehidupan berikutnya. Perbuatan baik merupakan bekal yang akan menemani kita menuju kepada kesadaran tertinggi.
Namun perlu disadari perbuatan baik tidak perlu ditonjol-tonjolkan. Kesadaran dan penghayatan yang kuat terhadap hukum kesunyataan (realitas hidup) sangat membantu dan menyadarkan kita agar terus menerus menambah kebaikan dari waktu ke waktu. Karena memang itulah kiat yang harus ditempuh dan merupakan bekal simpanan yang akan berbuah pada kelahiran mendatang.
Di samping itu penghayatan terhadap hukum kesunyataan akan membangun kesadaran hidup manusia untuk selalu fokus tehadap tujuan hidup lewat karma-karma yang baik. Dengan mengaplikasikan kesadaran terhadap hukum kesunyataan akan membuat manusia tidak terhanyut dalam kesedihan, kekecewaan, keragu-raguan, ketakutan, atau pikiran-pikiran negatif lainnya.
Sendratari yang digarap dengan penuh spektakuler itu sudah terajut dalam alur naratif yang bisa dinikmati oleh penonton. Namun yang masih perlu menjadi perhatian musik yang digunakan sebagai pendukung iringan tidak langsung. Rekaman CD yang digunakan sebagai pengiring tari, kadang pemotongan dari adegan satu dengan adegan lainnya tidak konsisten alias tidak match.
Imbas yang dirasakan, totalitas penari sedikit terganggu, karena menari dengan menggunakan media pengiring CD dan musik pengiring langsung jelas sangat mempengaruhi dalam hal teknis. *) Ch. Dwi Anugrah, Kabid Litbang Dewan Kesenian Kab Magelang
Adegan itu mengawali Pagelaran Sendratari bertajuk “Tilakkhana” dalam rangkaian upacara Waisak di Taman Lumbini Borobudur. Sendratari dengan koreografer Joko Suka Sadana dari Surakarta ini didukung kurang lebih 50 penari.
Tajuk “Tillakhana” yang dipilih dalam pagelaran kolosal itu merupakan pesan moral dari Sidharta Gautama. Skenario sendratrari tersebut disiapkan oleh Bhiksuni Viryaguna Mahasthavira. Ikut menyaksikan sendratari tersebut sejumlah delegasi dari 14 negara Asean, termasuk Jepang, Korea, China, India, dan Srilangka, serta para duta besar negara sahabat.
Dalam sendratari yang dikemas sangat spektakuler itu mengisahkan seorang perempuan bernama Khissa Gotami yang memaksa bertemu Sang Buddha untuk menghidupkan kembali anaknya yang meninggal akibat tergigit ular hitam kecil berbisa. Keletihan, lapar, dan haus terkalahkan oleh harapannya bahwa sang anak bisa dihidupkan kembali oleh Sang Buddha.
Dengan langkah gontai dan terhuyung sambil memeluk anaknya yang sudah membiru, perempuan itu terus melangkahkan kakinya menghampiri murid Sang Buddha yang bernama Anandha. Dengan diselingi isak tangis, ia memohon dan mengutarakan maksud kedatangannya itu. Anandha pun dengan penuh kesabaran menjelaskan bahwa Sang Budda barusan berobat ke tabib dan tidak mungkin bisa menghidupkan kembali anaknya yang sudah meninggal.
Tetapi Khissa Gotami tidak percaya. Bagi dirinya, Sang Buddha adalah maha segalanya, pasti bisa menghidupkan kembali anaknya. Anandha dengan penuh kesabaran berusaha menyadarkan Khissa Gotami bahwa Sang Buddha tidak bisa menyembuhkan orang sakit, tetapi dapat menyembuhkan orang yang sedang menderita karena batinnya resah dan tidak seimbang.
Akhirnya Gotami menjatuhkan diri dan duduk bersimpuh memandang Sang Buddha dengan penuh harap. Pancaran hati perempuan yang memelas itu menyadarkan Sang Buddha dari meditasinya. Dengan pancaran hati yang penuh cinta kasih, Sang Buddha menatap Gotami dengan menjelaskan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menghidupkan kembali orang yang telah meninggal, termasuk dirinya.
Perempuan itu terperangah, terkejut, dan hatinya hancur berkeping-keping diikuti oleh kekecewaan yang begitu besar karena harapannya untuk melihat anaknya hidup kembali pupus di tengah jalan. Di antara kepiluan dan isak tangis perempuan itu, Sang Buddha berkata, “Carilah segenggam biji lada dari sebuah keluarga yang belum pernah ada kematian di dalam sanak keluarganya. Kalau engkau berhasil, maka anakmu akan hidup kembali.”
Sontak perempuan itu berbinar, karena memiliki harapan baru. Wajahnya kembali bersemangat, dia bermaksud mencari lada itu sampai ke ujung dunia manapun asalkan anaknya dapat hidup kembali seperti sedia kala.
Kepergian Gotami itu sangat meresahkan hati Anandha. Karena dihantui oleh perasaan yang tidak berkesudahan, maka sang murid itu bertanya kepada Sang Buddha,“ Mengapa Khissa Gotami diberi persyaratan yang tidak masuk akal itu Guru ? Bukankah kematian sudah menjadi bagian dari kehidupan setiap keluarga di muka bumi ini? Sudah pasti Khissa Gotami tidak akan menemukannya.”
Dengan senyum penuh welas asih, Sang Buddha menjelaskan kepada Anandha bahwa kematian anak yang sangat dicintainya itu membuat Khissa Gotami sangat menderita dan tergoncang jiwanya. Akibatnya dia tidak dapat lagi berpikir jernih dan wajar karena kegelapan batin yang sedang membelenggu-nya.
Mencari segenggam lada bukanlah pekerjaan sulit. Akan tetapi, dari keluarga yang sama sekali tidak pernah ditinggal kematian oleh sanak keluarga adalah mustahil. Dengan dihadapkan pada kenyataan itu, kegelapan batin akan menghilang dan berganti dengan kesadaran bahwa kematian adalah bagian dari kenyataan yang harus dijalani di dalam kehidupan yang tidak kekal ini.
Sabda Sang Buddha memang benar-benar terjadi. Setelah begitu banyak rumah yang membukakan pintu untuk Gotami terpaksa ditolak, karena setiap rumah selalu menjawab bahwa keluarganya sudah pernah ada yang meninggal.
Akhirnya Gotami pun harus menerima kenyataan, bahwa kematian adalah sebuah realitas kehidupan yang harus dijalani oleh setiap manusia. “Kematian adalah bukti ketidakkekalan hidup. Itu tak lebih merupakan jalan kita menuju kelahiran baru,”jelas Sang Buddha kepada Khissa Gotami tatkala dirinya kembali menghadap untuk minta petunjuk dan penghiburan. Meski dirinya sudah mulai mampu menerima realitas hidup, Khissa Gotami selalu memohon nasihat agar dirinya bisa tetap memiliki semangat hidup, walaupun tanpa kehadiran anak semata wayangnya tersebut.
Pesan Moral
Kisah dalam sendratari tersebut memberikan pesan moral kepada kita bahwa tidak kekalnya kehidupan adalah kenyataan yang tidak dapat ditolak. Berpengharapan pada ketidak-kekalan adalah pekerjaan sia-sia. Untuk itu, hidup ini perlu dijalani dengan terus menerus berbuat kebaikan. Adalah suatu kebijaksanaan apabila pengharapan dalam menjalani hidup yang tidak kekal di dunia ini ditujukan pada kesadaran moral tertinggi.
Semua yang kita terima di dunia ini baik materi ataupun kekuasaan tak lebih merupakan warna dunia yang sementara dan tidak akan terbawa pada kehidupan berikutnya. Perbuatan baik merupakan bekal yang akan menemani kita menuju kepada kesadaran tertinggi.
Namun perlu disadari perbuatan baik tidak perlu ditonjol-tonjolkan. Kesadaran dan penghayatan yang kuat terhadap hukum kesunyataan (realitas hidup) sangat membantu dan menyadarkan kita agar terus menerus menambah kebaikan dari waktu ke waktu. Karena memang itulah kiat yang harus ditempuh dan merupakan bekal simpanan yang akan berbuah pada kelahiran mendatang.
Di samping itu penghayatan terhadap hukum kesunyataan akan membangun kesadaran hidup manusia untuk selalu fokus tehadap tujuan hidup lewat karma-karma yang baik. Dengan mengaplikasikan kesadaran terhadap hukum kesunyataan akan membuat manusia tidak terhanyut dalam kesedihan, kekecewaan, keragu-raguan, ketakutan, atau pikiran-pikiran negatif lainnya.
Sendratari yang digarap dengan penuh spektakuler itu sudah terajut dalam alur naratif yang bisa dinikmati oleh penonton. Namun yang masih perlu menjadi perhatian musik yang digunakan sebagai pendukung iringan tidak langsung. Rekaman CD yang digunakan sebagai pengiring tari, kadang pemotongan dari adegan satu dengan adegan lainnya tidak konsisten alias tidak match.
Imbas yang dirasakan, totalitas penari sedikit terganggu, karena menari dengan menggunakan media pengiring CD dan musik pengiring langsung jelas sangat mempengaruhi dalam hal teknis. *) Ch. Dwi Anugrah, Kabid Litbang Dewan Kesenian Kab Magelang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar