Rabu, 19 Januari 2011

ABU VULKANIK MERAPI MENGANCAM KELESTARIAN CANDI BOROBUDUR



Letusan Gunung Merapi tanggal 26 Oktober 2010 yang disusul letusan-letusan beberapa hari berikutnya dengan intensitas yang 'luar biasa' menebarkan material pyroklastika berupa batu, kerikil, pasir dan abu vulkanis di daerah sekitarnya. Bahkan berdasarkan informasi dari Volcanic Ash Centre Australia ketinggian abu vulkanis Gunung Merapi mencapai 55.000 kaki atau hampir 17 kilometer. Sehingga jangkauan tebaran abu vulkanik mencapai kota-kota di Jawa Barat seperti Tasikmalaya, Bandung, Bogor bahkan Jakarta. Meski abu vulkanik merupakan pupuk alam yang bisa menyuburkan tanah, namun ketika abu vulkanis itu berhamburan di udara sangatlah membahayakan bagi kesehatan manusia terutama untuk kesehatan pernafasan dan mata.
    Abu vulkanik Merapi yang mengandung zat belerang dan silica secara kimiawi bersifat asam yang tinggi dengan tingkat keasaman (pH) antara 4 – 5. Tingkat keasaman yang tinggi ini bersifat korosif dan sangat berbahaya bagi batu-batu candi. Candi Borobudur dan candi-candi lainnya di sekitar Gunung Merapi seperti Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Ngawen, Candi Lumbung, Candi Asu dan Candi Pendem tak luput dari tebaran abu vulkanik yang cukup tebal.
    Untuk membersihkan abu vulkanis yang melekat di batu-batu candi perlu teknik-teknik khusus. Bila tidak segera di-bersihkan, abu vulkanik Merapi yang menempel di batu-batu candi ini dapat mengancam kelestarian Candi Borobudur dan candi-candi lainnya.
    Dalam upaya membersihkan abu vulkanik dari candi-candi itu, khususnya Candi Borobudur, pihak Balai Konservasi Pe-ninggalan Borobudur sebagai institusi yang bertanggung-jawab langsung atas kelestarian candi tersebut menangani pembersihan candi ini yang berkoordinasi dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. Untuk kelancaran upaya pembersihan abu vulkanik di Candi Borobudur ini pada tanggal 11 Nopember 2010 Candi Borobudur ditutup sementara bagi kunjungan wisatawan, dan dibuka kembali pada tanggal 21 Nopember 2010 meski para wisatawan belum diperbolehkan naik sampai ke puncak candi.
    Teknik pembersihan abu vulkanik secara fisik dalam kondisi kering dengan menyapu, menyikat, mengumpulkan dan membuang abu vulkanik yang menempel di batu-batu candi. “Untuk pekerjaan ini tidak diperbolehkan dengan meng-gunakan piranti dari logam yang bisa menggores batu-batu candi yang sudah rapuh karena usianya sudah lebih dari seribu tahun,” jelas Yudi, petugas dari Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, kepada para seniman dan santri dari sekitar Borobudur yang membantu sebagai relawan tenaga pembersih candi.
    Sedangkan teknik pembersihan fisik secara basah yaitu dengan menggunakan 'steam cleaner' (semprotan uap air) sehingga batu candi bisa benar-benar bersih dari lekatan abu vulkanik. Pembersihan secara kimiawi untuk menurunkan tingkat keasaman batu candi disemprot dengan 'soda kue'. Stupa-stupa Candi Borobudur yang sudah dibersihkan untuk sementara dibungkus dengan plastik agar tidak terkontaminasi lagi oleh abu vulkanik.
    Ada beberapa blok batu candi yang tertutup abu vulkanik sengaja diisolasi tidak dibersihkan. Abu vulkanik yang menempel di blok batu candi itu dijadikan objek pengamatan dalam menguji tingkat keasaman yang setiap hari dilakukan pengukuran. Disamping itu juga untuk mengetahui pengaruh abu vulkanik terhadap batu dan pertumbuhan organisme seperti lumut dan algae.
    Kepedulian kelompok-kelompok masyarakat, instansi pemerintah, perguruan tinggi dan TNI dalam ikut melestarikan Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia ternyata cukup besar. Ini terbukti, dalam upaya membersihkan candi tersebut dari 'selimut abu vulkanik Merapi' banyak kelompok masyarakat, instansi, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan TNI yang membantu sebagai relawan pembersih candi. Para relawan ini khususnya untuk pembersihan yang bersifat relatif mudah dikerjakan.
    Karena untuk pembersihan abu vulkanik yang menempel di relief dan arca-arca memerlukan ketelitian dan ketelatenan, sehingga dikerjakan oleh tenaga khusus dengan 'skill' (keterampilan terlatih) dan ditangani oleh tenaga-tenaga Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Disamping itu, para relawan yang sudah tahu bagaimana menangani pembersihan benda-benda peninggalan purbakala, misalnya para relawan dari mahasiswa jurusan Arkeologi, bisa membantu membersihkan bagian-bagian candi yang bentuknya cukup rumit seperti relief dan arca.

    Kepedulian kelompok masyarakat setempat terhadap kelestarian Candi Borobudur juga tampak nyata. Misalnya, kelompok masyarakat seniman Borobudur dan santri pondok pesantren 'Miftakur Rohmah' desa Majaksingi juga ber-partisipasi sebagai relawan membersihkan candi tersebut dari abu vulkanik Merapi. Kegiatan 'kerja bhakti' yang melibatkan tidak kurang dari seratus seniman dan warga masyarakat ini dikoordinasikan oleh LSM “Warung Info Jagad Cleguk” Borobudur. Menurut ketuanya, Sucoro, kegiatan ini sebagai 'balas budi' kepada Candi Borobudur yang telah memberi rejeki kepada para seniman dan pelaku pariwisata di sekitar candi ini. Sedangkan Beny, koordinator lapangan kerja bakti ini menuturkan, aksi ikut membersihkan abu vulkanik Merapi di candi Borobudur ini murni untuk membantu tetap lestarinya candi tersebut.
    Hal ini merupakan wujud nyata dalam meningkatkan kepedulian terhadap candi Borobudur sebagai Warisan Budaya Dunia.*)Amat Sukandar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar