Karena perhatiannya terhadap bahaya Erupsi Gunung Merapi terhadap penduduk sekitar, Gubernur jawa Tengah H.Bibit Waluyo berulangkali menyempatkan diri meninjau daerah daerah di kawasan ini, baik untuk mengecek kesiapsiagaan pemerintah daerah menghadapi kemungkinan terjadinya bencana, maupun memberi perhatian dan pemahaman kepada warga masyarakat yang bermukim dan mencari nafkah di lereng Merapi. “Jadi saya minta semua warga tanpa terkecuali untuk selalu waspada dan siap diungsikan," kata Gubernur Jawa Tengah H.Bibit Waluyo, yang didampingi Wakil Bupati Magelang M.H.Zaeanal Arifin,SH (24/10) beberapa saat sebelum Merapi Meletus, ketika mengecek kesiapsiagaan tempat pengungsian akhir (TPA) Tanjung di Kecamatan Muntilan.
Bencana erupsi Gunung Merapi tidak bisa dianggap enteng mengingat akibat yang ditimbulkan. Gunung Merapi memiliki karakter berbeda dengan gunung gunung api lainnya. Kapan Merapi meletus, seberapa besar letusannya, kemana luncuran awan panas atau 'wedhus gembel' maupun banjir lahar dinginya tidak ada seorang pun yang bisa memprediksi.
Di sisi lain, masih ada sementara penduduk yang menganggap enteng, menghadapi keadaan Gunung Merapi kali ini dengan kata ‘biasa’, terutama para penambang dan sopir truk pengangkut pasir yang selama ini sering membandel tak menghiraukan peringatan petugas, dengan dalih kebutuhan nafkah. Padahal bila terjadi korban, aparatlah yang akan dipersalahkan. Hal itulah yang menjadikan kerisauan Gubernur Bibit Waluyo. Sehingga, Gubernur-pun sempat marah kepada salah satu sopir truk bandel yang sempat berpapasan dengan rombongan Gubernur saat mengecek jalur evakuasi di wilayah kecamatan Dukun dan Srumbung Kab Magelang serta kecamatan Selo di Kab Boyolali yang menjadi wilayah kerjanya dengan ditemani Kepala BPPTK Subandriyo dan Wakil Bupati Magelang HM. Zaenal Arifin,SH.
Setelah melihat kondisi lapangan, Gubernur Bibit Waluyo mengharapkan, agar pemerintah daerah Kabupaten yang berada di kawasan Gunung Merapi segera menyiapkan dana untuk perbaikan jalur evakuasi, karena ini merupakan kegiatan tanggap darurat yang harus segera dilaksanakan sebelum bencana letusan benar benar terjadi. Sebab jalur evakuasi ini penting untuk menyelamatkan dan mengamankan penduduk dari bahaya letusan Merapi. Bibit meminta agar proses evakuasi bisa berlangsung dengan lancar. Gubernur juga minta masyarakat harus sudah paham prosedur tetap pengungsian. “Mereka harus mengerti dimana titik kumpul dan tempat kendaraan berada termasuk jalur jalur evakuasi dan lokasi TPS maupun TPA,” kata Bibit.
Wakil Bupati Magelang HM.Zaenal Arifin,SH yang menyertai kunjungan kerja tersebut, mengatakan, untuk mengantisipasi kemungkinan dampak letusan Merapi, pihaknya sudah menyiapkan berbagai sarana prasarana, termasuk, memperbaiki jalur evakuasi. Untuk memperbaiki jalur evakuasi, pemerintah kabupaten Magelang telah mengajukan permohonan bantuan dana sebesar Rp 4 Milliar kepada pemerintah pusat, untuk perbaikan jalur evakuasi di kecamatan Dukun dan Srumbung sepanjang 15 kilometer, diperkirakan dana tersebut cair tahun 2011.
Disamping mengecek kondisi jalur evakuasi, Gubernur juga melihat kesiapan kamar tidur, kamar mandi, dapur umum dan tenda tenda pengungsian baik di Lapangan Dukun, Lapangan Jumoyo Salam dan TPA Tanjung Muntilan. Kecuali itu Gubernurpun menyempatkan memantau langsung aktivitas Gunung Merapi melalui Pos Pemantuan di Babadan.
Menurut Kasi Asistensi Sosial, Dinas Nakersostrans Kab Magelang, Dian Hermawan,S.sos; TPA Tanjung mampu menampung 1.200 jiwa, dan memiliki fasilitas lengkap diantaranya Aula, Puskesmas, kamar tidur, dapur umum dan puluhan tenda serta 23 kamar mandi. Tetapi jika dibutuhkan, tenda tenda yang ada bisa didirikan di lapangan desa Tanjung yang juga mampu menampung ribuan pengungsi.*)dharma ali
Bencana erupsi Gunung Merapi tidak bisa dianggap enteng mengingat akibat yang ditimbulkan. Gunung Merapi memiliki karakter berbeda dengan gunung gunung api lainnya. Kapan Merapi meletus, seberapa besar letusannya, kemana luncuran awan panas atau 'wedhus gembel' maupun banjir lahar dinginya tidak ada seorang pun yang bisa memprediksi.
Di sisi lain, masih ada sementara penduduk yang menganggap enteng, menghadapi keadaan Gunung Merapi kali ini dengan kata ‘biasa’, terutama para penambang dan sopir truk pengangkut pasir yang selama ini sering membandel tak menghiraukan peringatan petugas, dengan dalih kebutuhan nafkah. Padahal bila terjadi korban, aparatlah yang akan dipersalahkan. Hal itulah yang menjadikan kerisauan Gubernur Bibit Waluyo. Sehingga, Gubernur-pun sempat marah kepada salah satu sopir truk bandel yang sempat berpapasan dengan rombongan Gubernur saat mengecek jalur evakuasi di wilayah kecamatan Dukun dan Srumbung Kab Magelang serta kecamatan Selo di Kab Boyolali yang menjadi wilayah kerjanya dengan ditemani Kepala BPPTK Subandriyo dan Wakil Bupati Magelang HM. Zaenal Arifin,SH.
Setelah melihat kondisi lapangan, Gubernur Bibit Waluyo mengharapkan, agar pemerintah daerah Kabupaten yang berada di kawasan Gunung Merapi segera menyiapkan dana untuk perbaikan jalur evakuasi, karena ini merupakan kegiatan tanggap darurat yang harus segera dilaksanakan sebelum bencana letusan benar benar terjadi. Sebab jalur evakuasi ini penting untuk menyelamatkan dan mengamankan penduduk dari bahaya letusan Merapi. Bibit meminta agar proses evakuasi bisa berlangsung dengan lancar. Gubernur juga minta masyarakat harus sudah paham prosedur tetap pengungsian. “Mereka harus mengerti dimana titik kumpul dan tempat kendaraan berada termasuk jalur jalur evakuasi dan lokasi TPS maupun TPA,” kata Bibit.
Wakil Bupati Magelang HM.Zaenal Arifin,SH yang menyertai kunjungan kerja tersebut, mengatakan, untuk mengantisipasi kemungkinan dampak letusan Merapi, pihaknya sudah menyiapkan berbagai sarana prasarana, termasuk, memperbaiki jalur evakuasi. Untuk memperbaiki jalur evakuasi, pemerintah kabupaten Magelang telah mengajukan permohonan bantuan dana sebesar Rp 4 Milliar kepada pemerintah pusat, untuk perbaikan jalur evakuasi di kecamatan Dukun dan Srumbung sepanjang 15 kilometer, diperkirakan dana tersebut cair tahun 2011.
Disamping mengecek kondisi jalur evakuasi, Gubernur juga melihat kesiapan kamar tidur, kamar mandi, dapur umum dan tenda tenda pengungsian baik di Lapangan Dukun, Lapangan Jumoyo Salam dan TPA Tanjung Muntilan. Kecuali itu Gubernurpun menyempatkan memantau langsung aktivitas Gunung Merapi melalui Pos Pemantuan di Babadan.
Menurut Kasi Asistensi Sosial, Dinas Nakersostrans Kab Magelang, Dian Hermawan,S.sos; TPA Tanjung mampu menampung 1.200 jiwa, dan memiliki fasilitas lengkap diantaranya Aula, Puskesmas, kamar tidur, dapur umum dan puluhan tenda serta 23 kamar mandi. Tetapi jika dibutuhkan, tenda tenda yang ada bisa didirikan di lapangan desa Tanjung yang juga mampu menampung ribuan pengungsi.*)dharma ali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar