Malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan 15 juta kasus dan 38.000 kematian pada tahun 2001 (SKRT, 2001). Untuk mengatasi hal itu maka akses penderita malaria untuk diagnosis dini dan pengobatan yang tepat dan upaya preventif menjadi prioritas program pemberantasan yang dilakukan ber-landaskan kemitraan, dengan sasaran menurunnya angka kematian dan kesakitan malaria di setiap wilayah kabupaten endemik malaria.
Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh sekelompok parasit yang disebut plasmodium yang hidup dalam sel darah merah. Parasit adalah organisme yang sangat kecil dan tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, tidak dapat hidup sendiri. Untuk hidup dan berkembang biak harus mendapat makanan dari organisme lain. Ada banyak plasmodium, dan semuanya menyebabkan malaria pada hewan dan manusia yaitu:
1. Plasmodium Falsifarum,
2. Plasmodium Vivax,
3. Plasmodium Ovale, dan
4. Plasmodium Malariae,
Akan tetapi hanya Plasmodium falsi-farum yang bisa menyebabkan malaria berat dengan komplikasi.
Malaria tidak dapat ditularkan dengan cara kontak langsung dari manusia ke manusia. Tetapi melalui tranfusi darah yang mengandung parasit malaria penyakit ini dapat ditularkan juga secara konginetal dari ibu ke janin melalui placenta. Malaria ditularkan oleh nyamuk anopheles betina yang terinfeksi parasit malaria.
Penularan terjadi karena nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi malaria menggigit manusia dan me-masukkan air liurnya yang mengandung parasit kedalam peredaran darah manusia, selanjutnya parasit masuk kedalam sel hati manusia. Satu sampai dua minggu kemudian parasit kembali masuk pada aliran darah manusia dan gejala malaria pada manusia seperti demam, menggigil, berkeringat dan sakit kepala mulai muncul.
Di Jawa Tengah puncak kasus malaria biasanya terjadi pada bulan juni dan juli dan diperkirakan kasus akan meningkat pada bulan oktober sehingga kewaspadaan sangat perlu agar tidak terjadi peledakan kasus. Kasus yang muncul dibedakan menjadi dua yaitu kasus import (pendertita berasal dari luar wilayah) dan kasus indegenius (penderita berasal dari wilayah).
Diharapkan Jawa Tengah pada tahun 2010 tidak ada desa dengan endemik malaria tinggi dan pada tahun 2012 semua kasus yang ditemukan adalah kasus import sehingga target Jawa Tengah bebas malaria tahun 2015 akan tercapai.
Di Kabupaten Magelang kasus malaria ditemukan bukan lagi di segitiga emas menoreh yang konon merupakan daerah penyumbang tertinggi kasus malaria untuk jawa dan bali. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang tahun 2009 diketahui bahwa kasus malaria yang ditemukan tercatat 23 kasus dimana 22 kasus adalah kasus import dan 1 kasus merupakan kasus indegenius.
Sampai dengan bulan Juni 2010 tercatat penemuan kasus meningkat dari tahun 2009 yakni sebanyak 141 dengan perincian 39 kasus import dan 102 merupakan kasus indegenius dimana kasus tersebut bukan lagi ber-asal dari daerah segitiga emas menoreh saja akan tetapi kasus mulai ditemukan di daerah lain yaitu Kecamatan Srumbung dan Ngluwar (1 kasus impor).
Kasus tertinggi di tahun 2010 ditemukan di daerah Kajoran dan Kecamatan Srumbung. Di Kecamatan Kajoran ditemukan 79 kasus indegenius dan 3 kasus impor dimana 27 kasus adalah malaria pada ibu hamil meskipun sudah dilakukan pencegahan, akan tetapi masih terdapat 3 kasus yang dinyatakan tetap positif. Sedangkan di Kecamatan Srumbung ditemukan 19 kasus indegenius dan 3 impor. Hal tersebut menjadikan keprihatinan dan mem-butuhkan perhatian serius dari semua pihak.
Malaria pada ibu hamil menjadi isu aktual pada pemberantasan malaria mengingat ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang beresiko tinggi terhadap malaria karena malaria dalam kehamilan mempunyai dampak yang negatif terhadap ibu maupun janinnya.
Untuk menyelamatkan ibu hamil dan janinnya diperlukan upaya sebagai berikut:
1. Deteksi dini pada kehamilan melalui pemeriksaan kehamilan secara terfokus atau terintegrasi.
2. Pencegahan malaria dengan Pem-berantasan Sarang Nyamuk (PSN) oleh masyarakat
3. Pengobatan malaria pada ibu hamil sedini mungkin
4. Anjuran kepada ibu hamil untuk menggunakan kelambu yang dicelup insektisida
5. Akses pelayanan yang cepat untuk pengobatan
6. Respon terhadap kejadian luar biasa dan kegawat daruratan malaria.
Infeksi malaria pada kehamilan sangat merugikan baik untuk ibu maupun janinnya, karena dapat me-ningkatkan kesakitan dan kematian ibu maupun janin. Pada ibu, malaria dapat menyebabkan anemi (3-15%). Pada janin malaria menyebabkan abortus, persalinan prematur, berat badan lahir rendah (13-70%), dan kematian neonatal (3-8%).
Infeksi malaria pada wanita hamil sangat mudah terjadi karena adanya penurunan imunitas ibu selama kehamilan yang diduga akibat adanya peningkatan hormon pada wanita selama kehamilan. Berdasarkan hal tersebut, perlu dipahami bahwa wanita hamil membutuhkan perhatian yang serius bila terjangkit infeksi malaria selama periode kehamilan, persalinan maupun nifas, mengingat wanita hamil memiliki risiko terkena malaria lebih tinggi dan lebih berat dibandingkan wanita tidak hamil.
DIAGNOSIS MALARIA PADA KEHAMILAN
Malaria pada kehamilan dapat di-pastikan dengan ditemukannya parasit malaria di dalam darah ibu. Gejala klinis malaria pada wanita hamil di daerah non-endemik bervariasi dari malaria ringan sampai berat dengan risiko tinggi pada ibu dan janin.
Sedangkan pada wanita hamil di daerah endemik gejala sering tidak jelas atau tidak menimbulkan gejala karena mereka biasanya memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut.
Malaria ringan tanpa komplikasi
Harus dicurigai malaria pada seseorang dengan demam dengan atau tanpa gejala-gajala lain apabila seseorang tersebut :
a. Berasal dari daerah endemis malaria
b. Ada riwayat perjalanan ke daerah endemis malaria dalam 2 minggu terakhir
c. Ada riwayat tinggal di daerah malaria , dan
d. Ada riwayat pernah mendapat pengobatan malaria.
Pada wanita hamil jika dilakukan pemeriksaan maka akan ditemukan: Suhu badan lebih dari 37,5°C adanya pembesaran limpa, anemi dan gejala lain seperti menggigil, demam, serta berkeringat. Di daerah endemis malaria, pada penderita yang telah mempunyai imunitas terhadap malaria, gejala di atas tidak timbul berurutan, bahkan tidak semua gejala tersebut dapat ditemukan.
Selain gejala di atas, dapat juga disertai gejala lain yang merupakan gejala khas setempat, seperti lemas, sakit kepala, sakit perut, mual, muntah, dan diare.
Malaria berat
Malaria berat dengan komplikasi adalah bentuk malaria sangat ber-bahaya, memerlukan penanganan segera dan intensif. Oleh karena itu pengenalan tanda-tanda dan gejala-gejala malaria berat sangat penting untuk menurunkan kesakitan malaria.
Beberapa penyakit penting yang mirip dengan malaria berat adalah meningitis, ensefalitis, demam tifoid, infeksi virus, dll. Hal ini menyebabkan pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan untuk menambah kekuatan diagnosis.
WHO mendefinisikan Malaria berat sebagai ditemukannya Plasmodium falciparum dengan satu atau beberapa komplikasi yaitu: Gangguan kesadaran sampai koma (malaria serebral), Anemi berat, Hipoglikemi, odem paru, syok, hipotensi, septicemia, gagal ginjal akut, sakit kuning, kejang umum berulang dalam 24 jam, gangguan keseimbangan cairan, perdarahan abnormal dan gangguan pembekuan darah, Hemo-globinuri, kelemahan dan suhu > 40 ° C.
Perlu diketahui bahwa malaria tanpa komplikasi akan dapat menjadi berat jika tidak diobati secara dini dan semestinya.
PENGARUH MALARIA TERHADAP IBU
Infeksi malaria akan menyebabkan anemi. Pada infeksi Plasmodium falciparum dapat terjadi anemi berat karena eritrosit diserang parasit sehingga mengalami kerusakan, masa hidup eritrosit menjadi lebih singkat dan anemi lebih cepat terjadi, terutama di daerah endemis dan hal itu menjadi penyebab kematian penting.
Eritrosit berparasit akan menyebab-kan terjadinya kerusakan kapiler darah sehingga berpengaruh dalam men-suplai darah ke otak sehingga akan berakibat terjadinya gangguan sirkulasi yang berakibat pada kegagalan aliran darah ke jaringan dan organ tubuh.
Selain itu edema paru dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu peningkat-an permeabilitas vaskuler, disfungsi berat mikrosirkulasi, alergi, terapi cairan yang berlebihan bersamaan dengan gangguan fungsi kapiler alveoli, kehamilan, malaria serebral, tingkat parasitemi yang tinggi, hipotensi, asidosis dan uremia.
Malaria pada kehamilan juga bisa menyebabkan hipoglikemi karena sel darah merah yang terinfeksi memerlu-kan glukosa lebih banyak daripada sel darah normal, atau akibat ibu hamil diberi kina secara intravena. Akibat lainnya adalah terjadinya infeksi plasenta, gangguan elektrolit dan terjadinya malaria serebral serta kematian pada wanita hamil.
PENGARUH MALARIA PADA JANIN
Kematian janin dalam kandungan dapat terjadi akibat hiperpireksi, anemi berat, penimbunan parasit di dalam plasenta yang menyebabkan gangguan sirkulasi ataupun akibat infeksi trans-plasental. Abortus disebabkan adanya demam yang tinggi dan anemia berat. Terjadinya persalinan prematur yang disebabkan adanya panas, kekurangan cairan, asidosis atau infeksi plasenta.
Penderita malaria biasanya men-derita anemi sehingga akan menyebab-kan gangguan sirkulasi nutrisi pada janin dan berakibat terhambatnya per-tumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan. Selain itu dapat terjadi malaria kongenital dengan gejala klinik antara lain tidak mau menyusu, demam, pembesaran hati dan limpa dan anemia tanpa ikterus.
PENANGANAN MALARIA PADA KEHAMILAN
Pemeriksaan kehamilan secara teratur adalah dasar keberhasilan pe-natalaksanaan malaria dalam kehamil-an, yang bertujuan untuk memberikan pendidikan kesehatan termasuk pe-nyuluhan tentang malaria dan dampak-nya pada kehamilan.
Informasi tentang pentingnya per-lindungan pribadi untuk mencegah kontak dengan vektor, misal: pemakaian kelambu yang dicelup insektisida bagi ibu hamil, pemakaian celana panjang dan baju lengan panjang, pemakaian obat nyamuk atau pemasangan kawat nyamuk pada pintu, jendela dan ventilasi udara.
Dengan pemeriksaan teratur maka pada ibu hamil juga dapat dilakukan pemeriksaan hemoglobin dan parasito-logi malaria setiap bulan, pemberian tablet besi dan asam folat serta imunisasi TT lengkap. Disamping itu pada ibu hamil yang ditemukan men-derita malaria maka akan bisa diambil tindakan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam penanganan malaria pada ibu hamil.
Persalinan penderita dengan positif malaria memerlukan pengawasan yang lebih cermat sehingga sangat di-sarankan untuk bersalin di rumah sakit agar kewaspadaan dan tindakan dapat dilakukan dengan baik, termasuk peng-awasan keseimbangan cairan dan tingkat kesadaran serta pemantauan ketat kontraksi denyut jantung janin sehingga dapat diketahui adanya gawat janin lebih awal. Bila ditemukan tanda gawat janin pada persalinan, me-rupakan indikasi seksio sesarea.
PENCEGAHAN
Setiap wanita yang tinggal di daerah endemis atau akan bepergian ke daerah endemis sebaiknya diberi profilaksis meskipun tidak memberikan per-lindungan pasti terhadap infeksi malaria, namun dapat menurunkan parasitemia dan mencegah komplikasi malaria berat dan meningkatkan berat badan bayi.
Klorokuin merupakan obat yang paling aman bagi wanita hamil . Bagi wanita hamil yang akan bepergian ke daerah endemis malaria pemberian dimulai 1 minggu sebelum berangkat, selama berada di daerah endemis, sampai 4 minggu setelah keluar dari daerah tersebut.
Upaya lain untuk pencegahan infeksi malaria adalah dengan memutuskan rantai penularan dengan cara: me-ngurangi kontak atau gigitan nyamuk Anopheles dengan menggunakan kelambu, obat nyamuk, membunuh nyamuk dewasa, membunuh jentik nyamuk, meningkatkan daya tahan tubuh melalui vaksinasi dan gizi yang sesuai dengan kebutuhan ibu hamil.
KESIMPULAN
Malaria pada kehamilan merupakan masalah yang serius mengingat pe-ngaruhnya terhadap ibu dan janin yang bila tidak ditanggulangi secara cepat dan tepat dapat meningkatkan angka kematian ibu dan janin.
Penanggulangan malaria dalam ke-hamilan dapat dimulai secara dini melalui kunjungan ante natal care dengan memberikan pendidikan ke-sehatan termasuk penyuluhan kesehat-an tentang pencegahan malaria dan pengobatan profilaksis bagi yang tinggal di daerah endemis serta kesiapan sistim rujukan bila terjadi kasus.
Diperlukan sistem pelayanan ke-sehatan dengan fasilitas yang memadai untuk menangani kasus-kasus malaria yang ada dan partisipasi aktif masya-rakat mendukung pencegahan dan pemberantasan malaria.
*) Sri Kuswanti,S.ST, Kabid SDK Dinkes Kab Magelang dan Ketua IBI Cab Kab Magelang
Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh sekelompok parasit yang disebut plasmodium yang hidup dalam sel darah merah. Parasit adalah organisme yang sangat kecil dan tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, tidak dapat hidup sendiri. Untuk hidup dan berkembang biak harus mendapat makanan dari organisme lain. Ada banyak plasmodium, dan semuanya menyebabkan malaria pada hewan dan manusia yaitu:
1. Plasmodium Falsifarum,
2. Plasmodium Vivax,
3. Plasmodium Ovale, dan
4. Plasmodium Malariae,
Akan tetapi hanya Plasmodium falsi-farum yang bisa menyebabkan malaria berat dengan komplikasi.
Malaria tidak dapat ditularkan dengan cara kontak langsung dari manusia ke manusia. Tetapi melalui tranfusi darah yang mengandung parasit malaria penyakit ini dapat ditularkan juga secara konginetal dari ibu ke janin melalui placenta. Malaria ditularkan oleh nyamuk anopheles betina yang terinfeksi parasit malaria.
Penularan terjadi karena nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi malaria menggigit manusia dan me-masukkan air liurnya yang mengandung parasit kedalam peredaran darah manusia, selanjutnya parasit masuk kedalam sel hati manusia. Satu sampai dua minggu kemudian parasit kembali masuk pada aliran darah manusia dan gejala malaria pada manusia seperti demam, menggigil, berkeringat dan sakit kepala mulai muncul.
Di Jawa Tengah puncak kasus malaria biasanya terjadi pada bulan juni dan juli dan diperkirakan kasus akan meningkat pada bulan oktober sehingga kewaspadaan sangat perlu agar tidak terjadi peledakan kasus. Kasus yang muncul dibedakan menjadi dua yaitu kasus import (pendertita berasal dari luar wilayah) dan kasus indegenius (penderita berasal dari wilayah).
Diharapkan Jawa Tengah pada tahun 2010 tidak ada desa dengan endemik malaria tinggi dan pada tahun 2012 semua kasus yang ditemukan adalah kasus import sehingga target Jawa Tengah bebas malaria tahun 2015 akan tercapai.
Di Kabupaten Magelang kasus malaria ditemukan bukan lagi di segitiga emas menoreh yang konon merupakan daerah penyumbang tertinggi kasus malaria untuk jawa dan bali. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang tahun 2009 diketahui bahwa kasus malaria yang ditemukan tercatat 23 kasus dimana 22 kasus adalah kasus import dan 1 kasus merupakan kasus indegenius.
Sampai dengan bulan Juni 2010 tercatat penemuan kasus meningkat dari tahun 2009 yakni sebanyak 141 dengan perincian 39 kasus import dan 102 merupakan kasus indegenius dimana kasus tersebut bukan lagi ber-asal dari daerah segitiga emas menoreh saja akan tetapi kasus mulai ditemukan di daerah lain yaitu Kecamatan Srumbung dan Ngluwar (1 kasus impor).
Kasus tertinggi di tahun 2010 ditemukan di daerah Kajoran dan Kecamatan Srumbung. Di Kecamatan Kajoran ditemukan 79 kasus indegenius dan 3 kasus impor dimana 27 kasus adalah malaria pada ibu hamil meskipun sudah dilakukan pencegahan, akan tetapi masih terdapat 3 kasus yang dinyatakan tetap positif. Sedangkan di Kecamatan Srumbung ditemukan 19 kasus indegenius dan 3 impor. Hal tersebut menjadikan keprihatinan dan mem-butuhkan perhatian serius dari semua pihak.
Malaria pada ibu hamil menjadi isu aktual pada pemberantasan malaria mengingat ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang beresiko tinggi terhadap malaria karena malaria dalam kehamilan mempunyai dampak yang negatif terhadap ibu maupun janinnya.
Untuk menyelamatkan ibu hamil dan janinnya diperlukan upaya sebagai berikut:
1. Deteksi dini pada kehamilan melalui pemeriksaan kehamilan secara terfokus atau terintegrasi.
2. Pencegahan malaria dengan Pem-berantasan Sarang Nyamuk (PSN) oleh masyarakat
3. Pengobatan malaria pada ibu hamil sedini mungkin
4. Anjuran kepada ibu hamil untuk menggunakan kelambu yang dicelup insektisida
5. Akses pelayanan yang cepat untuk pengobatan
6. Respon terhadap kejadian luar biasa dan kegawat daruratan malaria.
Infeksi malaria pada kehamilan sangat merugikan baik untuk ibu maupun janinnya, karena dapat me-ningkatkan kesakitan dan kematian ibu maupun janin. Pada ibu, malaria dapat menyebabkan anemi (3-15%). Pada janin malaria menyebabkan abortus, persalinan prematur, berat badan lahir rendah (13-70%), dan kematian neonatal (3-8%).
Infeksi malaria pada wanita hamil sangat mudah terjadi karena adanya penurunan imunitas ibu selama kehamilan yang diduga akibat adanya peningkatan hormon pada wanita selama kehamilan. Berdasarkan hal tersebut, perlu dipahami bahwa wanita hamil membutuhkan perhatian yang serius bila terjangkit infeksi malaria selama periode kehamilan, persalinan maupun nifas, mengingat wanita hamil memiliki risiko terkena malaria lebih tinggi dan lebih berat dibandingkan wanita tidak hamil.
DIAGNOSIS MALARIA PADA KEHAMILAN
Malaria pada kehamilan dapat di-pastikan dengan ditemukannya parasit malaria di dalam darah ibu. Gejala klinis malaria pada wanita hamil di daerah non-endemik bervariasi dari malaria ringan sampai berat dengan risiko tinggi pada ibu dan janin.
Sedangkan pada wanita hamil di daerah endemik gejala sering tidak jelas atau tidak menimbulkan gejala karena mereka biasanya memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut.
Malaria ringan tanpa komplikasi
Harus dicurigai malaria pada seseorang dengan demam dengan atau tanpa gejala-gajala lain apabila seseorang tersebut :
a. Berasal dari daerah endemis malaria
b. Ada riwayat perjalanan ke daerah endemis malaria dalam 2 minggu terakhir
c. Ada riwayat tinggal di daerah malaria , dan
d. Ada riwayat pernah mendapat pengobatan malaria.
Pada wanita hamil jika dilakukan pemeriksaan maka akan ditemukan: Suhu badan lebih dari 37,5°C adanya pembesaran limpa, anemi dan gejala lain seperti menggigil, demam, serta berkeringat. Di daerah endemis malaria, pada penderita yang telah mempunyai imunitas terhadap malaria, gejala di atas tidak timbul berurutan, bahkan tidak semua gejala tersebut dapat ditemukan.
Selain gejala di atas, dapat juga disertai gejala lain yang merupakan gejala khas setempat, seperti lemas, sakit kepala, sakit perut, mual, muntah, dan diare.
Malaria berat
Malaria berat dengan komplikasi adalah bentuk malaria sangat ber-bahaya, memerlukan penanganan segera dan intensif. Oleh karena itu pengenalan tanda-tanda dan gejala-gejala malaria berat sangat penting untuk menurunkan kesakitan malaria.
Beberapa penyakit penting yang mirip dengan malaria berat adalah meningitis, ensefalitis, demam tifoid, infeksi virus, dll. Hal ini menyebabkan pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan untuk menambah kekuatan diagnosis.
WHO mendefinisikan Malaria berat sebagai ditemukannya Plasmodium falciparum dengan satu atau beberapa komplikasi yaitu: Gangguan kesadaran sampai koma (malaria serebral), Anemi berat, Hipoglikemi, odem paru, syok, hipotensi, septicemia, gagal ginjal akut, sakit kuning, kejang umum berulang dalam 24 jam, gangguan keseimbangan cairan, perdarahan abnormal dan gangguan pembekuan darah, Hemo-globinuri, kelemahan dan suhu > 40 ° C.
Perlu diketahui bahwa malaria tanpa komplikasi akan dapat menjadi berat jika tidak diobati secara dini dan semestinya.
PENGARUH MALARIA TERHADAP IBU
Infeksi malaria akan menyebabkan anemi. Pada infeksi Plasmodium falciparum dapat terjadi anemi berat karena eritrosit diserang parasit sehingga mengalami kerusakan, masa hidup eritrosit menjadi lebih singkat dan anemi lebih cepat terjadi, terutama di daerah endemis dan hal itu menjadi penyebab kematian penting.
Eritrosit berparasit akan menyebab-kan terjadinya kerusakan kapiler darah sehingga berpengaruh dalam men-suplai darah ke otak sehingga akan berakibat terjadinya gangguan sirkulasi yang berakibat pada kegagalan aliran darah ke jaringan dan organ tubuh.
Selain itu edema paru dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu peningkat-an permeabilitas vaskuler, disfungsi berat mikrosirkulasi, alergi, terapi cairan yang berlebihan bersamaan dengan gangguan fungsi kapiler alveoli, kehamilan, malaria serebral, tingkat parasitemi yang tinggi, hipotensi, asidosis dan uremia.
Malaria pada kehamilan juga bisa menyebabkan hipoglikemi karena sel darah merah yang terinfeksi memerlu-kan glukosa lebih banyak daripada sel darah normal, atau akibat ibu hamil diberi kina secara intravena. Akibat lainnya adalah terjadinya infeksi plasenta, gangguan elektrolit dan terjadinya malaria serebral serta kematian pada wanita hamil.
PENGARUH MALARIA PADA JANIN
Kematian janin dalam kandungan dapat terjadi akibat hiperpireksi, anemi berat, penimbunan parasit di dalam plasenta yang menyebabkan gangguan sirkulasi ataupun akibat infeksi trans-plasental. Abortus disebabkan adanya demam yang tinggi dan anemia berat. Terjadinya persalinan prematur yang disebabkan adanya panas, kekurangan cairan, asidosis atau infeksi plasenta.
Penderita malaria biasanya men-derita anemi sehingga akan menyebab-kan gangguan sirkulasi nutrisi pada janin dan berakibat terhambatnya per-tumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan. Selain itu dapat terjadi malaria kongenital dengan gejala klinik antara lain tidak mau menyusu, demam, pembesaran hati dan limpa dan anemia tanpa ikterus.
PENANGANAN MALARIA PADA KEHAMILAN
Pemeriksaan kehamilan secara teratur adalah dasar keberhasilan pe-natalaksanaan malaria dalam kehamil-an, yang bertujuan untuk memberikan pendidikan kesehatan termasuk pe-nyuluhan tentang malaria dan dampak-nya pada kehamilan.
Informasi tentang pentingnya per-lindungan pribadi untuk mencegah kontak dengan vektor, misal: pemakaian kelambu yang dicelup insektisida bagi ibu hamil, pemakaian celana panjang dan baju lengan panjang, pemakaian obat nyamuk atau pemasangan kawat nyamuk pada pintu, jendela dan ventilasi udara.
Dengan pemeriksaan teratur maka pada ibu hamil juga dapat dilakukan pemeriksaan hemoglobin dan parasito-logi malaria setiap bulan, pemberian tablet besi dan asam folat serta imunisasi TT lengkap. Disamping itu pada ibu hamil yang ditemukan men-derita malaria maka akan bisa diambil tindakan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam penanganan malaria pada ibu hamil.
Persalinan penderita dengan positif malaria memerlukan pengawasan yang lebih cermat sehingga sangat di-sarankan untuk bersalin di rumah sakit agar kewaspadaan dan tindakan dapat dilakukan dengan baik, termasuk peng-awasan keseimbangan cairan dan tingkat kesadaran serta pemantauan ketat kontraksi denyut jantung janin sehingga dapat diketahui adanya gawat janin lebih awal. Bila ditemukan tanda gawat janin pada persalinan, me-rupakan indikasi seksio sesarea.
PENCEGAHAN
Setiap wanita yang tinggal di daerah endemis atau akan bepergian ke daerah endemis sebaiknya diberi profilaksis meskipun tidak memberikan per-lindungan pasti terhadap infeksi malaria, namun dapat menurunkan parasitemia dan mencegah komplikasi malaria berat dan meningkatkan berat badan bayi.
Klorokuin merupakan obat yang paling aman bagi wanita hamil . Bagi wanita hamil yang akan bepergian ke daerah endemis malaria pemberian dimulai 1 minggu sebelum berangkat, selama berada di daerah endemis, sampai 4 minggu setelah keluar dari daerah tersebut.
Upaya lain untuk pencegahan infeksi malaria adalah dengan memutuskan rantai penularan dengan cara: me-ngurangi kontak atau gigitan nyamuk Anopheles dengan menggunakan kelambu, obat nyamuk, membunuh nyamuk dewasa, membunuh jentik nyamuk, meningkatkan daya tahan tubuh melalui vaksinasi dan gizi yang sesuai dengan kebutuhan ibu hamil.
KESIMPULAN
Malaria pada kehamilan merupakan masalah yang serius mengingat pe-ngaruhnya terhadap ibu dan janin yang bila tidak ditanggulangi secara cepat dan tepat dapat meningkatkan angka kematian ibu dan janin.
Penanggulangan malaria dalam ke-hamilan dapat dimulai secara dini melalui kunjungan ante natal care dengan memberikan pendidikan ke-sehatan termasuk penyuluhan kesehat-an tentang pencegahan malaria dan pengobatan profilaksis bagi yang tinggal di daerah endemis serta kesiapan sistim rujukan bila terjadi kasus.
Diperlukan sistem pelayanan ke-sehatan dengan fasilitas yang memadai untuk menangani kasus-kasus malaria yang ada dan partisipasi aktif masya-rakat mendukung pencegahan dan pemberantasan malaria.
*) Sri Kuswanti,S.ST, Kabid SDK Dinkes Kab Magelang dan Ketua IBI Cab Kab Magelang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar