Rabu, 19 Januari 2011

MENEG PDT, Ir.H.A.Helmi Faisal Zaeni: “Jumlah Pengungsi di luar perkiraan”


Dalam kunjungan kerja Meneg Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Ir.H.A.Helmy Faisal Zaeni di Ponpes Darussalam Watucongol Muntilan Kab Magelang, (14/11), juga memberikan bantuan Rp 100 juta untuk penanganan pengungsi Merapi di beberapa Posko, dan 50 Juta untuk Ponpes Darussalam Timur. Kunjungan Meneg PDT tersebut juga disertai Bupati Wonosobo H.A.Kholiq Arif dan PP Fatayat NU, Dra.Ida Fauziah.
    Dalam sambutannya, Helmy Faisal mengharapkan semua pihak kompak dalam menghadapi bencana, jangan saling menyalahkan. “Ketika menghadapi bencana, kita jangan saling menyalahkan satu dengan yang lain, karena sesungguhnya kita sedang diuji untuk naik kelas. Untuk itu kita harus senantiasa tolong menolong dengan tidak memandang asal usul dan dari kelompok mana,” kata Helmy.
    “Memang, kita berada pada titik rawan bencana, baik gunung berapi, tsunami maupun gempa. Dengan kondisi geografis seperti ini, apapun resikonya harus kita terima,  karena itu, kita harus siap dengan berbagai macam krisis,” katanya. untuk itu perlu sosialisasi agar masyarakat tumbuh kesadaran menghadapi bencana dan memiliki kemampuan menata pasca bencana, baik menyiapkan relokasi maupun perbaikan infrastuktur dan memulihkan perekonomian rakyat. Helmi mencontohkan ketika terjadi bencana di Aceh dan Nias, selain membangun infrastuktur juga membangun produk pemulihan ekonomi, baik berupa padat karya maupun berbagai aktifitas yang dapat membantu masyarakat. 
    Menanggapi penanganan bencana Merapi, KH.Ali Choisor Ahmad, pengasuh Ponpes Darusalam Timur mengatakan; dampak letusan susulan Merapi adalah kurang efektifnya koordinasi akibat jumlah pengungsi di luar perkiraan. Dampak letusan itu juga menyisakan pekerjaan rumah bagi kepala rumah tangga penduduk di kawasan Merapi, bagaimana mereka akan bertahan hidup sepulang dari pengungsian, padahal semua sudah musnah atau rusak; tanaman dan lahan pertanian, peternakan, tempat tinggal tidak bisa difungsikan lagi, padahal mereka butuh hidup. Walaupun sampai saat ini, logistik di tempat pengungsian lebih dari cukup bahkan melimpah, tetapi masyarakat diluar pengungsi juga mengalami dampak kelaparan. Maka Ali Choisor mengharapkan keadaan tersebut agar juga dipikirkan.
    Menanggapi pernyataan KH.Ali Choisor, Bupati Magelang Ir Singgih Sanyoto dalam sambutannya mengatakan, jumlah pengungsi di Kab Magelang ada  83.824 jiwa yang berasal dari desa desa di kecamatan Dukun, Srumbung dan Sawangan. Mereka ditampung di 276 TPS maupun TPA yang merupakan fasilitas umum seperti Balai Desa, Sekolahan dan tempat umum lain yang tersebar di 18 kecamatan. Selain itu ada sekitar 12.229 jiwa penduduk yang mengungsi di Kab Wonosobo, Semarang, Kendal dan Kota Magelang.
    sedangkan relawan yang membantu penanganan pengungsi di Kabupaten Magelang ada  4.985 personil. Kab Magelang juga telah menerima bantuan dari berbagai pihak baik lembaga pemerintah maupun swasta dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yaitu berupa jatah lauk pauk untuk para pengungsi sebesar Rp 4.500 dan Beras 0,4 Kg per-orang per-hari. Sedangkan bantuan dari berbagai pihak (donatur) di-gunakan untuk pembelian sarana dan prasarana pendukung lainnya. Bantuan yang berupa barang disalurkan ke TPA dan TPS sesuai kebutuhan.
    Menanggapi harapan KH.Ali Choisor Ahmad, Bupati menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Magelang dalam tanggap darurat bencana Merapi ini tidak bisa membantu masyarakat selain pengungsi, karena selain keterbatasan dana juga sesuai arahan BNPB dalam masa tanggap darurat yang diprioritaskan dipulihkan dan dibantu hanya pengungsi akibat awan panas dan lahar dingin, sedangkan yang terkena dampak, sesuai arahan BNPB tidak termasuk tugas BNPB. Untuk itu Bupati Singgih mengharapkan roda ekonomi di kawasan Merapi dan terutama Pasar Muntilan dan sekitarnya bisa segera berputar kembali sehingga masyarakat dapat mencari nafkah. *)mami-s

Tidak ada komentar:

Posting Komentar