Rabu, 19 Januari 2011

Merapi: "Don't Hate Me"


Andaikan saja saya jadi Gunung Merapi mungkin akan berucap ”Don't Hate Me..”, eh tapi bukan seperti itu bahasanya, meskipun maksudnya sama, karena sejak dahulu Merapi sudah ada di pulau Jawa, mungkin akan berucap “ ojo sengit karo aku”. Saya beranggapan seperti itu mengingat betapa saat ini orang telah dibuat stres karena Merapi. Empat Kabupaten di dua Provinsi.
Merapi telah membuat orang mengalami kerugian material yang tidak sedikit. Berapa banyak orang yang merugi karena wedus gembel dan abu vulkaniknya itu. Orang-orang juga di buat panik luar biasa. Mereka meng-ungsi dan mempertaruhkan segalanya untuk menyelamatkan diri. Pemerintah daerah dan pusat kewalahan menangani dampak bencana Merapi. Pokoknya semua orang disekitar merapi sedang dalam kondisi yang tidak biasa.
    Ekonomi lumpuh berhari-hari, bahkan saya sempat membaca berita di Internet dengan judul, warga Muntilan terancam kelaparan. Karena saya tinggal di Muntilan sayapun cukup terkejut dengan berita itu. Tapi saya juga merasakan sendiri selama 8 hari hidup tanpa listrik dan sulit sekali mencari bahan makanan di Muntilan, suatu kondisi yang seumur hidup belum pernah saya alami di kota kecil ini.
    Dengan mata kepala sendiri saya juga menyaksikan persawahan yang hancur, pohon-pohon tumbang, atap rumah rusak, kabel-kabel listrik putus, banjir lahar dingin di sungai yang jaraknya 300 meter dari kampung saya, jalan yang licin kerena abu bercampur air hujan (saya telah menjadi korban keganasan lumpur abu, saya dan motor terpelesat hingga tangan dan kaki lecet-lecet), nafas sesak , panas, mata pedih serta jarak pandang yang pendek dikarenakan abu vulkanik. Keadaan yang saya alami berbeda dari biasanya dan juga berbeda dari letusan-letusan Merapi yang pernah saya alami se-panjang hidup saya.
    Setiap hari saya mendengar ber-bagai pembicaraan tentang Merapi, baik di kampung, ditempat kerja atau ketika di posko pengungsian (kebetulan saya dapat jatah jaga posko pengungsi-an). Dari perbincangan tentang bencana Merapi, ternyata  semua beranggapan sama, bahwa bencana Merapi ini berbeda dari bencana-bencana se-belumnya. Terkadang perbincangan itu dalam konteks yang ilmiah tapi tak jarang pula mereka membicarakannya berdasar mitos, isu atau kepercayaan tertentu.
    Ketika isu-isu tentang bencana Merapi beredar dengan cepat dan me-racuni hampir semua otak manusia disekitar Merapi, semua dilanda ke-panikan dan kekhawatiran. Isu itu antara lain: “masih ada letusan yang lebih besar lagi”, “wedus gembel bisa sampai radius 65 Km”, “kalau ingin selamat harus membuat jenang abang yang direbus dengan air dari tujuh sumur berbeda”, “letusan yang akan terjadi seperti 600 tahun lalu yang membuat candi Borobudur terkubur”, saya sempat berpikir “ kalau candi Borobudur yang jaraknya 13 Km dari kampung saya terkubur terus kampung saya seperti apa..?” dan masih banyak isu ber-kembang disekitar Merapi yang men-jangkiti warga.
    Isu itu semakin parah karena di-dukung penuh oleh media. Karena kebablasan dalam menyajikan isu, ada infotaiment yang sampai meminta maaf pada publik, lalu mengganti nama dan presenternya. Ada juga reporter dari salah satu station TV yang ngawur dalam pemberitaan. Reporter itu berkata ”bisa merasakan awan panas..”, tentu saja hal itu jadi bahan tertawaan orang, bisa merasakan awan panas kok masih bisa meliput berita.
    Saya termasuk orang yang lebih suka membicarakan Merapi dari sisi ilmiah dan lebih mempercayai ungkapan para ahli seperi Bapak Surono dalam melihat Merapi. Sehingga ketika banyak warga Muntilan mengungsi termasuk para tetangga, saya enggan untuk meng-ungsi. Saya langsung mempercayai perkataan tetangga saya, yang menurut saya lebih masuk akal, yaitu perkataan dari seorang pemuda yang masih berstatus mahasiswa.
    Pada tanggal 5 Nopember 2010 dini hari terjadi letusan besar hingga kampung saya hujan abu dan pasir lebat, merasakan dan mendengar getaran letusan. Kami sekampung dikumpulkan di masjid dan siap diungsikan. Seorang pemuda itu berkata “kampung ini aman, wedus gembel tidak akan sampai disini, saya sudah dapat info dari yang ber-tanggungjawab memantau  Merapi”. Tentunya perkataan itu tidak dipercayai semua warga, terbukti pada pagi harinya banyak warga mengungsi ketempat saudara mereka. Ada yang ke Jakarta, ke Semarang, Kudus dan kota yang lain. Mertua saya juga beberapa kali telepon agar saya mengungsi di rumah beliau di Temanggung, tapi saya enggan melakukannya. Saya tetap be-kerja seperti biasa dan membantu di salah satu posko pengungsian di Muntilan.
    Terlepas dari tragedi letusan besar itu, mari kita bicara dan melihat bencana ini dari sisi lain. Entahlah hal ini dikarenakan apa, saya tidak membenci Gunung Merapi yang indah itu. Dua minggu sebelum Merapi meletus, saya pergi ke Ketep dan Kaliurang untuk menikmati keindahannya dan meng-abadikannya dengan kamera digital.
    Waktu itu status Merapi berada dalam level dua yaitu level Siaga. Sungguh pada waktu itu Merapi sangat indah dan saya masih menyimpan foto-foto itu. Merapi adalah gunung yang masih aktif. Dengan demikian Merapi masih suka meletus, mengeluarkan Lava Pijar dan Wedus Gembel. Semua orang dewasa pasti tahu akan hal itu tanpa harus membuka buku-buku tentang gunung api. Usia Merapi jauh lebih tua dari usia manusia yang sekarang tinggal di sekitar Merapi, artinya Merapi sudah suka meletus sejak dulu.
    Dalam sebuah lelucon seolah Merapi berujar (entah ini patut dijadi-kan lelucon atau tidak) : ”udah tahu gue gunung api aktif yang suka meletus, kok loe stres sih.., suka-suka gue donk mau meletus atau tidak, Tuhan meng-hendaki meletus ya gue meletus aja, jangan salahin gue donk, gue kan cuma gunung yang gak punya otak, loe manusia yang punya otak, seharus-nya mikir biar gak kena letusan gue”.

    Saat bencana ini me-landa, melihat segala yang terjadi, saya beranggapan, sungguh warga (termasuk saya) belum siap hidup ber-dampingan dengan Merapi. Kita hanya siap ketika Merapi terlihat sangat cantik, dengan begitu kita bisa memperkosanya untuk mengambil pasir dan batunya. Berapa rumah atau bangunan yang berdiri karena pasir dan batu Merapi, pasti sudah sangat banyak. Kita tidak berpikir selain mendapatkan material itu dan berapa keuntungan yang kita dapat. Oh ya hampir lupa, abu vulkanik juga membuat tanah subur. Kalau kita mengingat semua itu, betapa Merapi adalah anugerah yang Tuhan berikan untuk kita.
    Marilah berubah, berubah dalam berpikir.  Semua orang harus berubah setelah bencana ini. Bangkit dan segera berubah. Kita harus mempersiapkan diri hidup dengan Merapi. Bagaimana menghadapi keganasannya serta ber-ramah tamah dengan kecantikannya. Selain warga disekitar Merapi, saya juga teringat sang “pemimpin-nya” atau yang biasa disebut Pemerintah.
    Beberapa waktu yang lalu saya mendengar teman bicara se-perti ini, ketika pemerintah membicarakan bencana, hal itu masih sebatas distribusi bantu-an, penanganan pengungsi atau istilah lain seputar kegentingan ketika bencana terjadi. Pemerintah belum melakukan tindakan yang berbentuk pen-didikan untuk mempersiapkan hidup dengan bencana, karena negeri ini sangat dekat dengan bencana. Merapi sebagai sumber bencana rutin, minimal di empat Kabupaten, tapi saya tidak terlalu yakin Pemerintah Daerah setempat sudah berpikiran jauh ke arah mem-persiapkan warga hidup dengan Merapi.
    Marilah kita berdoa untuk saudara kita yang meninggal karena wedus gembel (sekitar 200-an orang), semoga mereka adalah manusia-manusia yang dicintai Tuhan dan saat ini telah merasakan kedamaian di alam kubur. Tak lupa pula untuk yang terluka, baik yang berat atau ringan, semoga cepat sembuh, diberikan kesabaran dan kekuatan untuk menuju masa depan. Untuk yang kehilangan harta benda juga semoga tetap bersabar, tidak berputus asa terhadap Rahmat Tuhan dan semoga mereka menjalani kehidupan dengan jauh lebih baik daripada sebelum bencana. Tuhan Maha Mendengar, dan sangat mudah bagi-Nya untuk melaku-kan itu pada hamba-hamba-Nya.
    Saya memimpikan tentang ke-hidupan di sekitar Merapi. Sebuah kehidupan yang penuh harmoni. Masyarakat memahami tentang hidup mereka yang dekat dengan gunung aktif itu. Mereka mengetahui tentang karakter gunung, mempelajari dengan baik, dengan begitu kehidupan mereka di set untuk siap menghadapi Merapi dalam bentuk yang cantik atau yang mengerikan. Mereka tahu kapan harus meninggalkan Merapi atau mendekati-nya, terus karena mereka dalam 4 atau 5 tahun sekali akan mengungsi maka mereka mem-persiapkan diri dan anak-anak mereka untuk hidup di peng-ungsian ( mengungsi dengan nyaman ).
    Pokoknya mereka memiliki pe-ngetahuan tentang Merapi di masa lalu dengan detail juga senantiasa memiliki up date pengetahuan tentang Merapi. Mereka menjadi masyarakat yang belajar bersama tentang Merapi. Tentu-nya ini akan sulit terwujud bila tanpa dukungan penuh oleh Pemerintah. Pemerintah membuat kebijakan-ke-bijakan untuk menuju kondisi tersebut.
    Ada sebuah kebijakan yang berisi pembelajaran secara menyeluruh dan berkesinambungan terhadap ke-lompok-kelompok masyarakat. Di-bentuk sebuah organisasi yang fokus dalam menangani hal tersebut. Ada sebuah tindakan untuk mengorganisir masyarakat dalam rangka pembelajaran berdampingan dengan bencana. Pemerintah menjadi leader dalam kegiatan tersebut. Untuk pelaksananya, ambil saja dari pemuda-pemuda yang nganggur, negeri kita ini kan banyak pengangguran, dari yang gak sekolah sampai sarjana dilibatkan saja (yang gak sekolah sampai sarjana kan banyak yang nganggur). Tentunya harus ada dukungan anggaran yang memadai untuk mendukung kesuksesannya.
    Hal ini dilakukan terus-menerus tapi ditetapkan target disetiap waktu yang ditentukan. Tempat pengungsian juga disiapkan dengan baik, di titik mana dan fasilitas apa yang dibangun ditentukan oleh data valid tentang Merapi. Oh ya, masalah Data, saya jadi berpikir, selengkap apa ya data tentang Merapi yang dimiliki Pemerintah Kabupaten tempat saya tinggal, pernahkah ada riset yang didanai Pemda..? ah, saya belum tahu akan hal itu. Tapi saya malah ingat kata-kata teman yang sekarang sedang asik belajar di Luar Negeri ( saya jadi kangen dengannya ), teman itu berkata: ”Pemda ini lemah dalam pendataan, mungkin hal itu juga jadi permasalahan semua Pemda di Negeri kita ini.”
Merapi memang tidak punya otak, tidak bisa berpikir dan tidak bisa bicara tapi Merapi mampu mengajarkan kita banyak hal. Sejak kecil saya sudah hidup di tempat yang tidak jauh dari Merapi tapi saya tidak pernah diajari oleh para guru tentang Merapi, tentang bencananya, kemungkinan terkena dampaknya, pokoknya semua hal tentang Merapi, mungkin itu juga dialami semua orang yang tinggal di sekitar Merapi.
    Saya melihat begitu indahnya impian saya itu. Saya juga tidak tahu apakah impian ini bakal terwujud sebelum saya mati. Meskipun ini cuma impian, tapi saya ingat kata-kata Andrea Hirata dan saya menyukainya : ” Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”. *)Reni Dwi Riana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar