Baru saja usai gunung merapi menunjukkan aktifitasnya yang besar. Tak mengherankan bila gunung yang tingginya sekitar 2.911 dpl itu menjadi pusat perhatian nasional, bahkan dunia hingga semua orang mengikuti perkembanganya lewat berbagai media, hingga semua orang tersentak oleh kematian tokoh legedaris juru kunci gunung Merapi itu.
Rupanya erupsi merapi tahun 2010 ini merupakan aktifitas besar dibanding tahun 2006 yang lalu. Bahkan letusan kali ini akan tercatat dalam sejarah merapi sebagai letusan yang hebat pula dengan banyaknya jumlah korban dari keganasan awan panas atau yang kemudian disebutnya sebagai wedus gembel . adapun istilah wedus gembel ini muncul di tahun 1994 saat kawasan Turgo di Sleman diterjang awan panas yang menyebabkan banyak korban, hingga saat itu ada sebuah koran harian di yogya yang kemudian memajang karikatur bergambar Kambing atau wedus gembel yang berlari dari puncak merapi dengan tanduk yang siap menerkam mangsanya.
Menurut catatan yang ada dari aktifitas merapi tahun ini menyebabkan sekitar 300 ribu oang mengungsi dari kampung halamannya, juga menyebabkan lebih dari 730 ha hutan di sekitar merapi rusak, belum lagi rumah rumah penduduk yang juga hancur diterjang material gunung itu.
Dalam catatan sejarah dari aktiftas merapi,bahwa pada zaman kekuasaan Balitung sekitar abad VIII- IX M, atau Mataram hindu pernah terjadi bencana besar yaitu pada zaman setelah pemerintahan Sri Maharaja Diah Balitung,atau menurut ahli sejarah RW.Van Bemmelen pada masa Rakai Sumba, yaitu apa yang disebutnya sebagai sebuah Pralaya, yang sekaligus juga menghancurkan ibu kota Mataram yang saat itu berada di Medang.
Oleh atau bencana besar dan dahsyat, bencana merapi ini sampai merusak pemukiman penduduk karena itu sesuai dengan landasan kosmologis yang ada, yaitu bila sebuah kota raja mengalami suatu nasib yang sial seperti bencana besar tersebut maka harus dipindahkan. Maka sebagai kelanjutan-nya adalah banyak orang orang mataram meninggalkan jawa tengah dan membangun pemerintahan baru di Jawa Timur. Dan dari sinilah kemudian dibangun pemerintahan di Medang Kahuripan.
Dari kejadian yang disebutnya sebagai pralaya itu, konon candi Borobudur yang jaraknya sekitar 30 km dari puncak merapi juga tertimbun oleh abu vulkanik, tak mengherankan pula bila kemudian banyak peninggalan atau situs situs Mataram kuno yang kemudian terkubur oleh tanah dan baru kemudian ditemukan pada zaman ini.
Ada pula kejadian tahun 1930 yang saat itu aktifitas Merapi meningkat, bersamaan waktu itu musim penghujan hingga terjadi hujan abu dan hujan air, dan orang menamakan sebagai hujan lumpur dan hal ini terjadi pada hari jumat malam sabtu pahing di bulan safar dalam penanggalan jawa. Dari aktifitas Merapi tahun itu juga mengakibatkan banyak orang meng-ungsi, termasuk masyarakat wilayah mungkid juga banyak yang mengungsi ke sebelah barat sungai Elo. Hal itu dikarenakan ancaman lahar dingin. Apalagi sungai Pabelan yang saat itu masih dangkal belum seperti sekarang. Kejadian tahun 1930 ini pun sebenarnya hampir sama dengan kejadian tahun 2010 ini bila kita melihat catatan dan dokumentasi seperti yang ada di museum vulkanologi di Ketep Pass.
Ada suatu kisah menarik waktu itu, yaitu saat orang menyelamatkan diri dan mengungsi ke tempat lain tapi ada saja seorang bernama H.Idris di dusun Batikan desa Pabelan yang tetap bertahan dan berada dalam kamar tidurnya serta melakukan wirid dan dalam kepasrahan pada yang Kuasa. Dan yang terjadi adalah daerah sekeliling rumah itu selamat dari lahar dingin,sedangkan di kiri kanannya tergenang oleh lahar dingin. Hingga kemudian daerah itu banyak orang menamakan wilayah cepit, karena saat itu terapit oleh lahar dingin tersebut.
Ternyata lahar dingin juga merupakan ancaman ketika aktifitas merapi ini meningkat, bila di daerah hulu hujan lebat maka daerah di aliran sungai yang berhulu di gunung itu akan menerima kiriman lahar dingin yang bisa memporak porandakan. Sekitar tahun1969 merapi meningkat dan terjadi lahar dingin yang mempeorakporandakan bagian barat gunung Merapi, begitu pula tahun 1976 aktifitas gunung itu dalam keadaan Awas dan kemudian terjadi lahar dingin yang kemudian sungai Krasak meluap serta menyebabkan rel kereta api terseret air, bahkan beberapa desa di Salam juga terkena banjir hingga terbentuk lautan pasir yang membentang puluhan hektar luasnya.
Ada suatu kejadian menarik dari Gunung yang termasuk teraktif di dunia ini, seorang warga desa Bojong Mungkid sempat mengabadikannya, yaitu asap solfatera di puncak merapi membentuk sebuah tulisan arab bertuliskan Allah. Ada apa ini? dan kemudian sore harinya ternyata terjadi Letusan Merapi cukup hebat, hingga hujan Abu selama hampir tiga hari dan sebagaian wilayah Kabupaten Magelang tak sempat melihat matahari beberapa hari lamanya.
Barang kali dari kejadian pagi itu sebagai suatu isyarat bahwa Allah akan memberikan dan memperlihatkan tanda tanda kekuasaanNya, lewat bencana yang besar rupanya Tuhan mengingatkan kepada semua umatNya, akan kekuasaaNya. Betapa dengan adanya bencana itu ternyata manusia tak dapat berbuat apa apa, manusia sebagai mahluk yang lemah tidak bisa menghindar dan menolak bencana yang membuat semua orang miris itu.
Saya teringat kata-kata para orang tua dulu, yaitu bila keadaan suatu Negara tidak tentram, banyak konflik, banyak huru hara katanya akan banyak pula bencana yang menimpa-nya. Semoga adanya banyak bencana ini akan menjadikan cambuk bagi semua untuk mawas diri dan memperbanyak permohonan ampunan kepada Tuhan, semoga banyaknya bencana ini sebagai suatu peringatan saja bukan azab.
Tentu saja Allah yang Maha bijaksana mendatangkan bencana seperti merapi ini buka tanpa maksud.walaupun pada awalnya sangat menyakitkan bagi orang sekitar gunung ini, tapi inilah ujian dari Yang Kuasa bila kita beriman. Yang kemudian dari bencana ini tentu saja membawa berkah bagi manusia, ada kesuburan lewat abu yang didatangkan, ada Material di sepanjang aliran sungai yang menjadikan mata pencaharian bagai masyarakat hingga mereka makmur, karena selama ini para penambang kesulitan mencari pasir,hingga tiba tiba pasir itu didatangkan dan tak akan habis habisnya digali. Maka sangatlah beruntung masyarakat Magelang yang mempunyai Merapi, walaupun saat bencana sangat merepotkan.
Dan ketika gunung Merapi yang semula berstatus awas itu kembali dan perlahan normal seakan gunung itu mengajak mereka kembali dari pengungsian pulang ke dusun-dusunnya untuk kembali membangun harmoni di rumahnya, bekerja di sawah ladangnya serta mengakrabi lingkungan. *) Abdul Ghafar
Rupanya erupsi merapi tahun 2010 ini merupakan aktifitas besar dibanding tahun 2006 yang lalu. Bahkan letusan kali ini akan tercatat dalam sejarah merapi sebagai letusan yang hebat pula dengan banyaknya jumlah korban dari keganasan awan panas atau yang kemudian disebutnya sebagai wedus gembel . adapun istilah wedus gembel ini muncul di tahun 1994 saat kawasan Turgo di Sleman diterjang awan panas yang menyebabkan banyak korban, hingga saat itu ada sebuah koran harian di yogya yang kemudian memajang karikatur bergambar Kambing atau wedus gembel yang berlari dari puncak merapi dengan tanduk yang siap menerkam mangsanya.
Menurut catatan yang ada dari aktifitas merapi tahun ini menyebabkan sekitar 300 ribu oang mengungsi dari kampung halamannya, juga menyebabkan lebih dari 730 ha hutan di sekitar merapi rusak, belum lagi rumah rumah penduduk yang juga hancur diterjang material gunung itu.
Dalam catatan sejarah dari aktiftas merapi,bahwa pada zaman kekuasaan Balitung sekitar abad VIII- IX M, atau Mataram hindu pernah terjadi bencana besar yaitu pada zaman setelah pemerintahan Sri Maharaja Diah Balitung,atau menurut ahli sejarah RW.Van Bemmelen pada masa Rakai Sumba, yaitu apa yang disebutnya sebagai sebuah Pralaya, yang sekaligus juga menghancurkan ibu kota Mataram yang saat itu berada di Medang.
Oleh atau bencana besar dan dahsyat, bencana merapi ini sampai merusak pemukiman penduduk karena itu sesuai dengan landasan kosmologis yang ada, yaitu bila sebuah kota raja mengalami suatu nasib yang sial seperti bencana besar tersebut maka harus dipindahkan. Maka sebagai kelanjutan-nya adalah banyak orang orang mataram meninggalkan jawa tengah dan membangun pemerintahan baru di Jawa Timur. Dan dari sinilah kemudian dibangun pemerintahan di Medang Kahuripan.
Dari kejadian yang disebutnya sebagai pralaya itu, konon candi Borobudur yang jaraknya sekitar 30 km dari puncak merapi juga tertimbun oleh abu vulkanik, tak mengherankan pula bila kemudian banyak peninggalan atau situs situs Mataram kuno yang kemudian terkubur oleh tanah dan baru kemudian ditemukan pada zaman ini.
Ada pula kejadian tahun 1930 yang saat itu aktifitas Merapi meningkat, bersamaan waktu itu musim penghujan hingga terjadi hujan abu dan hujan air, dan orang menamakan sebagai hujan lumpur dan hal ini terjadi pada hari jumat malam sabtu pahing di bulan safar dalam penanggalan jawa. Dari aktifitas Merapi tahun itu juga mengakibatkan banyak orang meng-ungsi, termasuk masyarakat wilayah mungkid juga banyak yang mengungsi ke sebelah barat sungai Elo. Hal itu dikarenakan ancaman lahar dingin. Apalagi sungai Pabelan yang saat itu masih dangkal belum seperti sekarang. Kejadian tahun 1930 ini pun sebenarnya hampir sama dengan kejadian tahun 2010 ini bila kita melihat catatan dan dokumentasi seperti yang ada di museum vulkanologi di Ketep Pass.
Ada suatu kisah menarik waktu itu, yaitu saat orang menyelamatkan diri dan mengungsi ke tempat lain tapi ada saja seorang bernama H.Idris di dusun Batikan desa Pabelan yang tetap bertahan dan berada dalam kamar tidurnya serta melakukan wirid dan dalam kepasrahan pada yang Kuasa. Dan yang terjadi adalah daerah sekeliling rumah itu selamat dari lahar dingin,sedangkan di kiri kanannya tergenang oleh lahar dingin. Hingga kemudian daerah itu banyak orang menamakan wilayah cepit, karena saat itu terapit oleh lahar dingin tersebut.
Ternyata lahar dingin juga merupakan ancaman ketika aktifitas merapi ini meningkat, bila di daerah hulu hujan lebat maka daerah di aliran sungai yang berhulu di gunung itu akan menerima kiriman lahar dingin yang bisa memporak porandakan. Sekitar tahun1969 merapi meningkat dan terjadi lahar dingin yang mempeorakporandakan bagian barat gunung Merapi, begitu pula tahun 1976 aktifitas gunung itu dalam keadaan Awas dan kemudian terjadi lahar dingin yang kemudian sungai Krasak meluap serta menyebabkan rel kereta api terseret air, bahkan beberapa desa di Salam juga terkena banjir hingga terbentuk lautan pasir yang membentang puluhan hektar luasnya.
Ada suatu kejadian menarik dari Gunung yang termasuk teraktif di dunia ini, seorang warga desa Bojong Mungkid sempat mengabadikannya, yaitu asap solfatera di puncak merapi membentuk sebuah tulisan arab bertuliskan Allah. Ada apa ini? dan kemudian sore harinya ternyata terjadi Letusan Merapi cukup hebat, hingga hujan Abu selama hampir tiga hari dan sebagaian wilayah Kabupaten Magelang tak sempat melihat matahari beberapa hari lamanya.
Barang kali dari kejadian pagi itu sebagai suatu isyarat bahwa Allah akan memberikan dan memperlihatkan tanda tanda kekuasaanNya, lewat bencana yang besar rupanya Tuhan mengingatkan kepada semua umatNya, akan kekuasaaNya. Betapa dengan adanya bencana itu ternyata manusia tak dapat berbuat apa apa, manusia sebagai mahluk yang lemah tidak bisa menghindar dan menolak bencana yang membuat semua orang miris itu.
Saya teringat kata-kata para orang tua dulu, yaitu bila keadaan suatu Negara tidak tentram, banyak konflik, banyak huru hara katanya akan banyak pula bencana yang menimpa-nya. Semoga adanya banyak bencana ini akan menjadikan cambuk bagi semua untuk mawas diri dan memperbanyak permohonan ampunan kepada Tuhan, semoga banyaknya bencana ini sebagai suatu peringatan saja bukan azab.
Tentu saja Allah yang Maha bijaksana mendatangkan bencana seperti merapi ini buka tanpa maksud.walaupun pada awalnya sangat menyakitkan bagi orang sekitar gunung ini, tapi inilah ujian dari Yang Kuasa bila kita beriman. Yang kemudian dari bencana ini tentu saja membawa berkah bagi manusia, ada kesuburan lewat abu yang didatangkan, ada Material di sepanjang aliran sungai yang menjadikan mata pencaharian bagai masyarakat hingga mereka makmur, karena selama ini para penambang kesulitan mencari pasir,hingga tiba tiba pasir itu didatangkan dan tak akan habis habisnya digali. Maka sangatlah beruntung masyarakat Magelang yang mempunyai Merapi, walaupun saat bencana sangat merepotkan.
Dan ketika gunung Merapi yang semula berstatus awas itu kembali dan perlahan normal seakan gunung itu mengajak mereka kembali dari pengungsian pulang ke dusun-dusunnya untuk kembali membangun harmoni di rumahnya, bekerja di sawah ladangnya serta mengakrabi lingkungan. *) Abdul Ghafar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar