Rabu, 19 Januari 2011

Yu Gemi

PENGUNGSI JUGA MENDAPATKAN BAGIAN DAGING QURBAN


Peringatan Idul Adha 1431 H sesuai ketentuan pemerintah jatuh pada tanggal 17 Nopember 2010, walaupun ada sementara umat Islam yang memperingati pada hari sebelum-nya, namun sholat Idul Adha di Kota Mungkid dilaksanakan pada hari Rabu, 17 Nopember di Masjid Jamik An Nur Kota Mungkid.
    Sholat Idul Adha di masjid tersebut juga di ikuti oleh Bupati Magelang Ir.H.Singgih Sanyoto, Wakil Bupati HM.Zaenal Arifin,SH, Muspida dan para pejabat eselon pemerintah Kabupaten Magelang dan tentunya warga masya-rakat sekitarnya dengan khotib, H.Jamun Efendi,MPdi, Plt Kepala Kantor Ke-menterian Agama Kab Magelang, dan duduk sebagai imam, H.Masrur Nashir imam masjid agung An Nur.
    Setelah melaksanakan sholat, Bupati Magelang Ir.H.Singgih Sanyoto menyerahkan hewan qurban, satu ekor sapi  kepada panitia penyembelihan hewan kurban masjid agung An Nur yang diterima oleh KH.Masrur Nashir. Menurut ketua panitia penyembelihan hewan qurban masjid Agung “An Nur”  Widodo, panitia penyembelihan hewan qurban masjid Agung An Nur, tahun ini menyembelih 13 ekor sapi dan 46 ekor kambing, yang berasal dari Bupati Magelang 1 ekor, Wakil Bupati magelang 1 ekor.
    Karyawan karyawati lingkungan Setda 5 ekor, Satgas TNI 5 ekor dan dari Ikatan Persaudaraan  Haji Indonesia (IPHI) 1 ekor . Sedangkan kambing berasal dari IPHI 10 ekor, Karyawan setda 10 ekor, Satgas TNI 15 ekor, PDAM 2 ekor, New Armada 2 ekor dan sisanya dari masyarakat  umum.
    Widodo juga mengatakan, peringatan Idul Qurban tahun ini berbeda dari tahun tahun sebelumnya, terutama dalam pembagian daging korban. Karena saat ini di sekitar Kota Mungkid terdapat banyak pengungsi dari kawasan Gunung Merapi. “karena di sekitar Kota Mungkid saat ini terdapat banyak saudara kita yang mengungsi, sehingga penyaluran daging qurban sebagian besar di salurkan untuk konsumsi pengungsi disamping juga untuk pondok pesanteren, panti asuhan dan masyarakat sekitar,” jelas Widodo.

    Untuk itu pihaknya hanya menyediakan 1.000 bungkus daging qurban untuk masyarakat umum yang langsung datang ke masjid An Nur. Sedangkan daging hewan qurban untuk pengungsi disalurkan melalui dapur umumTNI  yang berada di lapangan Drh Supardi, masih berupa hewan, yaitu 3 ekor sapi dan 13 ekor kambing.*)sukendo

BUPATI MAGELANG Ir.H. Singgih Sanyoto pada REJOMULYO EXPO 2010: "PETANI MASIH BERORIENTASI PADA USAHA JANGKA PENDEK"

Potensi pengembangan sektor pertanian khususnya Agrobisnis di Kabupaten Magelang cukup besar. Sayangnya hingga saat ini masih tertinggal di-bandingkan dengan daerah lain, apalagi dibandingkan dengan Bangsa bangsa lain, dalam menghadapi pasar global banyak petani belum bisa mengimbangi permintaan pasar karena selama ini petani kita masih berorientasi memetik hasil untuk jangka pendek.
    Kata Bupati Magelang, Ir.H.Singgih Sanyoto dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten Administrasi Pemerintahan, Agung Trijaya,SH pada acara pembukaan Rejomulyo Exspo 2010 di lapangan Tempurejo Kecamatan Tempuran. Disamping itu menurut Bupati, masih banyak petani Magelang yang baru hanya menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah, sehingga petani kehilangan potensi nilai tambah dari produk pertaniannya Untuk itu, diperlukan langkah langkah kongkrit dan sinergis dari semua elemen untuk melakukan pembenahan.
    Upaya Perbaikan infrastruktur fisik di bidang pertanian maupun pendukungnya tengah dilakukan secara bertahap oleh pemerintah untuk meningkatkan kelancaran distribusi dan langkah mengurangi beaya operasional, Sehingga produk produk pertanian dari seluruh pelosok dapat didistribusikan dengan mudah ke berbagai penjuru. Demikian juga pem-benahan perangkat lunaknya, seperti kelembagaan, kebijakan, Peraturan dan sumber daya manusia yang handal dan memiliki ketahanan, jelas Bupati.
    Menurut ketua penyelenggara Rejomulyo Expo 2010, M.Dzikron, dalam laporannya mengatakan bahwa tujuan kegiatan Expo sebagai wujud keinginan mandiri Gapoktan dan menyerap teknologi serta menciptakan lapangan kerja; “Kegiatan ini adalah wujud dari mimpi seluruh anggota dan pengurus Gapoktan Rejomulyo yang ingin mandiri disamping menciptakan lapangan kerja baru dan mengadopsi teknologi baru dibidang pertanian,” kata Dzikron yang juga sekertaris Gapoktan. Rejomulyo Exspo 2010 digelar selama tiga hari dengan menampilkan produk produk pertanian, hasil olahan dan kerajinan.
    Kecuali itu, ketua Gapoktan Rejomulyo, Tempurejo, Tempuran, Sugeng Karyono  mengatakan, kalau kelompoknya sekarang tengah mengembangkan budidaya beberapa jenis pepaya komoditas baru, diantaranya Pepaya jenis 'jene' (kuning), 'Harum' dan 'Hawai' yang bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB)
    Menurut Sugeng, ketiga jenis komoditas pepaya ini memilki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis pepaya biasa. Dari satu setengah hektar lahan percobaan dapat diperoleh hasil yang cukup menggembirakan. Untuk Pepaya jenis 'Jene' misalnya, pihaknya bisa memanen 8 kali dengan hasil rata-rata 250 hingga 300 Kg setiap kali panen dengan harga rata-rata Rp.2.500,-/ kg. Pepaya jenis ini akan berbuah pada bulan ke enam setelah disemai, dan rata rata memiliki usia produktif hingga umur tiga tahun. 
    Memang untuk jenis pepaya 'Jene' buahnya kecil kecil tidak seperti buah pepaya kebanyakan. Buah ini lebih mudah dinikmati karena tinggal membelah buahnya kemudian menikmatinya dengan menyendok daging buahnya dengan sendok makan, jelas Sugeng. Sedangkan untuk Pepaya jenis 'Harum' memiliki keunggulan rasa, karena daging buahnya lebih manis dan berbau harum. Untuk  Pepaya jenis 'Hawai' rasanya juga manis dengan aroma seperti jeruk nipis.
    Jenis pepaya ini baru pertama kalinya di kembangkan di wilayah Kabupaten Magelang, benihnya pun masih didatangkan langsung dari IPB karena sampai saat ini pihaknya belum bisa melakukan pembibitan sendiri untuk mendapatkan jenis unggul, karena tidak bisa disemaikan melalui bijinya karena akan berubah (malih, bhs jawa) “kita pernah mencoba menyemaikan bijinya, tetapi hasilnya berubah,” kata .
    Melihat hasil yang menjanjikan, Gapoktan Rejomulyo berencana mengembangkan lahan perkebunan pepaya jenis tersebut kepada masyarakat Tempuran dan sekitarnya. Untuk pemasaran hasilnya Gapoktan Rejomulya telah mengadakan kerjasama dengan pihak pengepul dan Supermaerket. “Kami sudah mengadakan MOU dengan pengepul untuk selanjutnya disetor ke pasar Supermarket,” jelas Sugeng. *)sukendro

"Hukum Kasunyatan", MEMBANGUN KESADARAN HIDUP

Pijaran sinar Lighting yang temaram membias di seluruh penjuru stage yang berbentuk procenium. Beberapa penari menyebar ke seluruh penjuru dengan membentuk gerak dengan berbagai konfigurasi yang sangat eksotis. Para penari  berusaha mengeksploiatasi diri dengan  mengoptimalkan karakterisasi gerak selaras dengan casting yang dibawakan.
Adegan itu mengawali Pagelaran Sendratari bertajuk “Tilakkhana” dalam rangkaian upacara Waisak di Taman Lumbini Borobudur. Sendratari dengan koreografer Joko Suka Sadana dari Surakarta ini didukung  kurang lebih 50 penari.
    Tajuk “Tillakhana” yang dipilih dalam pagelaran kolosal itu merupakan pesan moral dari Sidharta Gautama. Skenario sendratrari tersebut disiapkan oleh Bhiksuni Viryaguna Mahasthavira. Ikut menyaksikan sendratari tersebut sejumlah delegasi  dari 14 negara Asean, termasuk Jepang, Korea, China, India, dan Srilangka, serta para duta besar negara sahabat.
    Dalam sendratari yang dikemas sangat spektakuler itu mengisahkan  seorang perempuan  bernama Khissa Gotami yang memaksa bertemu  Sang Buddha  untuk menghidupkan kembali  anaknya yang meninggal akibat tergigit ular hitam kecil berbisa. Keletihan, lapar, dan haus terkalahkan oleh harapannya bahwa sang anak bisa dihidupkan kembali oleh Sang Buddha.
    Dengan langkah gontai dan terhuyung sambil memeluk  anaknya yang sudah membiru, perempuan itu terus melangkahkan kakinya menghampiri murid Sang Buddha yang bernama Anandha.  Dengan diselingi isak tangis, ia memohon dan mengutarakan maksud kedatangannya itu. Anandha pun dengan penuh kesabaran  menjelaskan bahwa  Sang Budda barusan berobat ke tabib dan tidak mungkin  bisa menghidupkan kembali anaknya yang sudah meninggal.
    Tetapi Khissa Gotami tidak percaya. Bagi dirinya, Sang Buddha adalah maha segalanya, pasti bisa menghidupkan kembali  anaknya. Anandha dengan penuh kesabaran berusaha menyadarkan Khissa Gotami bahwa Sang Buddha tidak bisa menyembuhkan orang sakit, tetapi dapat menyembuhkan orang yang sedang menderita karena batinnya resah dan tidak seimbang.    
    Akhirnya Gotami menjatuhkan diri dan duduk bersimpuh  memandang Sang Buddha dengan penuh harap. Pancaran  hati perempuan yang memelas itu menyadarkan Sang Buddha dari meditasinya. Dengan pancaran hati yang penuh cinta kasih, Sang Buddha menatap Gotami dengan menjelaskan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menghidupkan kembali orang yang telah meninggal, termasuk dirinya.
    Perempuan itu  terperangah, terkejut, dan hatinya hancur berkeping-keping diikuti oleh kekecewaan yang begitu besar  karena harapannya untuk melihat anaknya hidup kembali pupus di tengah jalan. Di antara kepiluan dan isak  tangis perempuan itu, Sang Buddha berkata, “Carilah segenggam biji lada dari sebuah keluarga yang belum pernah ada kematian di dalam sanak keluarganya. Kalau engkau berhasil, maka anakmu akan hidup kembali.”
    Sontak perempuan itu berbinar, karena memiliki harapan baru. Wajahnya kembali bersemangat, dia bermaksud mencari lada itu sampai ke ujung dunia manapun asalkan anaknya dapat hidup kembali seperti sedia kala.
    Kepergian Gotami itu sangat meresahkan hati Anandha. Karena dihantui oleh perasaan yang tidak berkesudahan, maka sang murid itu bertanya kepada   Sang Buddha,“ Mengapa Khissa Gotami diberi persyaratan  yang tidak masuk akal itu Guru ? Bukankah kematian sudah menjadi  bagian dari kehidupan  setiap keluarga di muka bumi ini? Sudah pasti Khissa Gotami tidak akan menemukannya.”
    Dengan senyum penuh welas asih, Sang Buddha menjelaskan kepada Anandha  bahwa kematian anak  yang sangat dicintainya itu membuat Khissa Gotami  sangat menderita dan tergoncang jiwanya. Akibatnya dia tidak dapat lagi berpikir jernih dan wajar karena kegelapan batin yang sedang membelenggu-nya.
    Mencari segenggam lada  bukanlah pekerjaan sulit. Akan tetapi, dari keluarga yang sama sekali tidak pernah ditinggal  kematian oleh sanak keluarga  adalah mustahil. Dengan dihadapkan pada kenyataan itu, kegelapan batin akan menghilang dan berganti dengan kesadaran bahwa kematian adalah  bagian dari kenyataan yang harus dijalani  di dalam kehidupan yang tidak kekal ini.
    Sabda Sang Buddha memang benar-benar terjadi. Setelah begitu banyak rumah yang membukakan pintu untuk Gotami terpaksa ditolak, karena setiap rumah  selalu menjawab bahwa keluarganya sudah pernah ada yang meninggal.
    Akhirnya Gotami pun harus menerima kenyataan, bahwa  kematian adalah  sebuah  realitas kehidupan  yang harus dijalani oleh setiap manusia. “Kematian adalah bukti ketidakkekalan hidup. Itu tak lebih merupakan jalan kita  menuju kelahiran baru,”jelas Sang Buddha kepada Khissa Gotami tatkala dirinya kembali menghadap untuk minta petunjuk dan penghiburan. Meski dirinya  sudah mulai mampu  menerima realitas hidup, Khissa Gotami selalu memohon nasihat agar dirinya bisa tetap memiliki semangat hidup, walaupun  tanpa kehadiran anak  semata wayangnya  tersebut.

Pesan Moral
    Kisah dalam sendratari tersebut memberikan pesan moral kepada kita bahwa tidak kekalnya kehidupan adalah kenyataan yang tidak dapat ditolak. Berpengharapan pada  ketidak-kekalan  adalah pekerjaan sia-sia. Untuk itu, hidup ini perlu dijalani dengan terus menerus berbuat kebaikan. Adalah suatu kebijaksanaan apabila  pengharapan dalam  menjalani hidup  yang tidak kekal di dunia ini ditujukan pada kesadaran moral tertinggi.
    Semua  yang kita terima di dunia ini baik materi ataupun kekuasaan  tak lebih merupakan warna dunia yang sementara dan tidak akan terbawa pada kehidupan berikutnya. Perbuatan baik merupakan bekal   yang akan menemani  kita menuju kepada kesadaran tertinggi.
    Namun perlu disadari perbuatan baik tidak perlu ditonjol-tonjolkan. Kesadaran dan penghayatan yang kuat terhadap hukum kesunyataan (realitas hidup)  sangat membantu dan menyadarkan kita agar terus menerus menambah kebaikan  dari waktu ke waktu. Karena memang  itulah kiat yang harus ditempuh dan merupakan bekal simpanan yang akan berbuah pada kelahiran mendatang.
    Di samping itu penghayatan terhadap hukum kesunyataan  akan membangun kesadaran hidup manusia untuk selalu fokus tehadap  tujuan hidup lewat karma-karma yang baik. Dengan mengaplikasikan kesadaran terhadap hukum kesunyataan akan membuat manusia tidak terhanyut dalam kesedihan, kekecewaan, keragu-raguan, ketakutan, atau pikiran-pikiran negatif lainnya.
    Sendratari yang digarap dengan penuh spektakuler itu sudah terajut dalam alur naratif yang bisa dinikmati oleh penonton. Namun yang masih perlu menjadi  perhatian musik yang digunakan  sebagai pendukung  iringan tidak langsung. Rekaman CD  yang digunakan sebagai pengiring tari, kadang pemotongan dari adegan satu dengan adegan lainnya tidak konsisten alias tidak match.
    Imbas yang dirasakan, totalitas penari sedikit terganggu, karena menari dengan menggunakan media pengiring CD dan musik pengiring langsung jelas sangat mempengaruhi  dalam hal teknis.  *) Ch. Dwi Anugrah, Kabid Litbang Dewan Kesenian Kab Magelang

MERAWAT TANAMAN 'Salak Nglumut' PASCA HUJAN ABU VULKANIK

Gubernur Jateng Bibit Waluyo, memulai gerakan pemangkasan tanaman salak
yang rubuh didesa Banyuadem

Tanaman salak Nglumut, merupakan tanaman yang menghasilkan produk buah unggulan nasional. Saat bencana Merapi bulan Oktober – Nopember 2010 lalu, tanaman salak menerima dampak hujan material vulkanik berupa abu, pasir dan kerikil, sehingga banyak yang rusak. Sementara para petani mengungsi, tanaman salak sejak awal Nopember ”tertimbun” abu/pasir Merapi cukup tebal. Hampir semua pelepah daun luruh dan tidak sedikit yang patah.
    Kondisi seperti itu menyebabkan tanaman salak tidak dapat melakukan asimilasi, kekurangan oksigen dan suhu disekitar tanaman menjadi tinggi. Akibat dari itu banyak tanaman yang daunnya mati dan tanaman terhambat pertumbuhannya.
    Untuk menghindari tanaman mati dan kerugian petani salak yang besar, perlu dilakukan tindakan yang tepat untuk tanaman salak Nglumut yang “tertimbun” abu/pasir Merapi itu. Untuk mengetahui seberapa besar bahayanya hujan abu Merapi terhadap tanaman pertanian, diperlukan pemahaman yang baik atas material G. Merapi yang menimpa tanaman dan memenuhi lahan pertanian.

Abu Vulkanik Merapi
    Abu Vulkanik/tanah gunung berapi, yang selanjutnya disebut ”vulkanik” saja,  adalah tanah yang terbentuk dari lapukan materi dari letusan gunung berapi yang subur mengandung unsur hara yang tinggi. Vulkanik yang dapat dijumpai di sekitar lereng gunung berapi umumnya dicirikan oleh kandungan mineral liat allophan yang tinggi. Allophan adalah Aluminosilikat amorf yang dengan bahan organik dapat membentuk ikatan kompleks.
    Sifat-sifat tanah allophan adalah, Profil tanahnya dalam, Lapisan atas maupun permukaannya gembur serta berwarna kehitaman, Lapisan subsoil berwarna kecoklatan dan terasa licin bila digosok diantara jari-jari, Bulk densitynya sangat rendah (< 0, 85),  Daya tahan terhadap air tinggi, Perkembang-an struktur tanah baik, Daya lekat maupun plastisitasnya tidak ada bila lembab dan Sukar dibasahi kembali bila sudah kering serta dapat mengapung di atas permukaan air.
    Mineralogi tanah yang berasal dari gunung Merapi dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu,
(1). Mineral skeletal yang berasal dari mineral primer (mineral pasir dan debu) serta agregat mikro kristalin yang terdiri atas Pasir atau debu yang masing-masing butir merupakan satu macam mineral primer, Agregat mikro kristalin yang terdiri atas abu vulkan (campuran berbagai mineral primer) dan Chert (silica mikrokristalin).
(2). Fragment yang semuanya berasal dari bahan induk, mineral liat dan liat amorf. Fragmen merupakan pecahan batuan dalam ukuran pasir maupun debu yang terdiri dari berbagai macam mineral primer. Fragmen dalam bentuk mineral liat dan liat amorf terdiri atas, Layer aluminium silicate clay (liat aluminium silikat berkisi/berlapis), Hydrous iron oxide yang merupakan hidroksida Fe serta gibbist yang berupa hidroksida dari Al pada tanah-tanah dengan pelapukan lanjut dan Allophan yang merupakan alluminosilicate amorph pada tanah dari abu vulkanik di daerah humid.
    Berdasarkan penelitian dilahan salak didaerah lokasi sekitar Gunung Merapi menemukan hasil bahwa, tanah vulkanik yang berasal dari lokasi sepanjang sungai yang berasal dari G. Merapi mengandung unsur logam Al, Mg, Si dan Fe.
    Berdasarkan Uji Komposisi Kimia Tanah Abu Vulkanik Gunung Merapi yang dilakukan oleh Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Yogyakarta menunjukkan bahwa dalam abu vulkanik tersebut mengandung 12 macam unsur.
    Unsur Silikat atau SiO2 (54.56 %). Unsur ini secara mikroskopik berbentuk kristalin menyudut. Apabila diamati terutama pada uji komposisi kimianya unsur silikat ini memiliki potensi untuk dapat dimanfaatkan sebagai material keramik berbasis Alumino Silicate.
    Pemanfaatan Abu Vulkanik Gunung Merapi untuk industri keramik ini dapat dilakukan apabila tersedianya vulkanik yang sangat melimpah dan sudah menjadi barang limbah dan mengganggu. Namun karena Abu Vulkanik sangat baik untuk dipergunakan sebagai media bercocok tanam maka pemanfaatan sebagai bahan baku keramik akan mengganggu lahan pertanian. Bahan abu vulkanik itu juga menjadi bahan tambang galian C untuk bangunan, sehingga cadangannya semakin lama semakin habis.
    Unsur Alumunium atau Al2O3 (18.37 %). Unsur ini sangat sedikit dimanfaatkan tanaman. Jumlah yang berlebihan dalam tanah bersama zat besi akan menyebabkan tanah bereaksi asam atau pH kurang dari 6,0. Tanah yang asam kurang baik untuk pertumbuhan tanaman.
    Unsur Besi atau Fe2O3 (18.59 %). Bagi tanaman, Unsur hara Besi (Fe) penting dalam pembentukan klorofil. Namun kelebihan zat besi bersama Alumunium akan menyebabkan tanah asam sehingga perlu penambahan kapur pertanian agar pH-nya menjadi naik sampai netral.
    Unsur Kalsium atau CaO (8.33 %). Unsur hara Kalsium (Ca) bermanfaat Merangsang pembentukan bulu akar, Mengeras-kan bagian kayu tanaman dan Merangsang pembentukan buah dan biji-bijian. Kalsium juga bermanfaat menaikkan pH tanah.
Unsur Magnesium atau MgO (2.45 %). Unsur hara Magnesium (Mg) bermanfaat Membentuk hijau daun/klorofil tanaman, sehingga tanaman cepat menghijau.
Unsur Phosphat atau P2O5 ­­­­­­(0.32 %). Unsur hara Pospor (P) bermanfaat memacu pertumbuhan akar, lebih banyak dan lebih panjang, menambah daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit, mempercepat pertumbuhan jaringan tanaman yang membentuk titik tumbuh (ujung tanaman, ujung akar), Memacu pertumbuhan/pembentukan bunga & masaknya buah/biji lebih banyak dan Mempercepat masa panen
Unsur Kalium atau K2O (2.32 %). Unsur hara Kalium (K) bermanfaat untuk Memperlancar proses asimilasi, Memacu pertumbuhan tanaman pada tingkat permulaan, Memperkuat batang tanaman sehingga lebih tahan rebah, Menguatkan buah sehingga mengurangi kecepatan pembusukan saat pengangkutan & penyimpanan, Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama, penyakit dan kekeringan dan Memperbaiki mutu hasil, bungan lebih cerah rasa buah lebih manis.
Unsur Mangan atau MnO (0.17 %). Unsur hara Mangan (Mn) bermanfaat dan penting dalam pembentukan klorofil, Membantu proses asimilasi, Merangsang perkecambahan biji dan Merangsang pemasakan buah
Sementara itu unsur Natrium atau Na2O (3.62 %), HD (0.2 %) dan TiO2 (0.92 %) jarang terdeteksi dalam proses fisiologi tanaman. Sedangkan air atau H2O (0.11 %) merupakan bahan pelarut dari semua unsur dalam proses hidupnya tanaman. 

Dampak Hujan Abu Vulkanik Merapi
    Akibat hujan abu vulkanik tahun ini begitu besarnya, sehingga tak kurang dari tujuh juta pohon salak Nglumut produktif rusak dengan intensitas lebih dari 90%. Dengan perhitungan produktifitas buah 8 – 10 kg/rumpun/tahun, dan harga Rp5.000,- - 6.000,-/kg, maka kerugian nilai panen pada tahun ini diperhitungkan lebih dari Rp220 M.
    Selain kerugian nilai panen tahun ini, petani masih menderita kerugian berupa rusaknya pohon salak yang untuk pemulihannya memerlukan waktu lebih dari dua - tiga tahun. Beberapa tanaman yang tertimbun dalam waktu lama juga mengalami kematian titik tumbuh, sehingga pemulihannya harus menunggu tumbuhnya tunas samping. Untuk itu agar tanaman berproduksi normal butuh waktu lebih dari lima tahun.

Perlakuan Teknis terhadap tanaman rusak.
    Pada dasarnya tanaman yang rusak karena tertimbun abu vulkanik Merapi masih dapat diselamatkan dengan berbagai tindakan.
1.     Tindakan terhadap tanaman
a.     Pengurangan daun dan pelepah agar pelepah yang roboh dapat tegak kembali. Pengurangan ini diupayakan sesedikit mungkin membuang daun, agar daun masih dapat berasimilasi.
b.    Apabila pelepah patah, sebaiknya dipangkas hingga dibawah bagian yang patah atau hingga mendekati pangkal pelepah. Posisi potongan dibuat miring agar air hujan dapat mudah hilang.
c.    Apabila titik tumbuh terlihat kering atau membusuk bagian ujung, Karena terlalu lama tertimbun, sebaiknya segera dilakukan pemotongan hingga memperoleh bagian yang tidak busuk. Dengan cara ini diharapkan titik tumbuh akan mampu bertunas kembali.
d.     Apabila ternyata titik tumbuh membusuk sampai pangkal hingga pohon utama mati, sebaiknya tetap dibersihkan dan ditunggu tumbuhnya tunas anakan untuk dipiara sebagai pengganti pohon utama. Tunas anakan yang tumbuh lebih dari satu, sebaiknya dikurangi dengan cara mencangkok dan ditinggalkan satu – dua anakan yang baik.
e.    Setelah pemangkasan pelepah selesai, pelepah bekas pangkasan sebaiknya dipotong-potong dan diletakkan diantara tanaman dalam barisan, sehingga tanah antar barisan tetap terbuka.
f.    Setelah pemangkasan dan penataan pelepah bekas pangkasan selesai, sebaiknya pohon salak beserta buah yang masih ada segera dibersihkan dengan cara menyemprotkan air bersih menggunakan penyemprot bermesin (power sprayer) sampai bersih.
g.    Apabila dipohon yang habis disemprot tersebut masih ada buah yang siap panen atau cukup tua, sebaiknya segera dipetik paling cepat 24 jam setelah disemprot. Hal itu agar air bekas penyemprotan tuntas dan tidak menyebabkan buah mudah busuk.

2.    Tindakan terhadap tanah.
    Abu vulkanik dengan kandungan Si, Al, Fe dengan fraksi debu yang ukurannya < 2 mikron, akan mudah memadat apabila tertumpuk. Apabila tumpukan abu vulkanik ketebalannya lebih dari 5 cm, maka akan menyebabkan bagian tanah dibawahnya yang banyak ditumbuhi akar salak kekurangan oksigen (O2).
    Akar yang kekurangan oksigen akan terganggu aktifitas pertumbuhan dan penyerapan zat haranya dari dalam tanah. Selain menyebabkan tanah kekurangan oksigen, karena unsur Fe2O3 dan Al2O3 yang tinggi itu menyebabkan reaksi tanah menjadi asam, pH kurang dari 5,5.
    Untuk menghindari matinya akar karena kekurangan oksigen, maka beberapa tindakan terhadap tanah yang tertumpuk abu vulkanik diantaranya adalah :
a.    Segera dilakukan pencangkulan hingga menembus bagian tanah dibawah tumpukan abu vulkanik. Mungkin beberapa akar terputus tidak mengapa, karena akan tumbuh cabang akar baru.
b.    Tanah bekas cangkulan yang bercampur abu vulkanik sebagian dipakai untuk menutup potongan daun/pelepah salak yang telah ditumpuk diantara tanaman.
c.    Khusus untuk tanaman yang mati titik tumbuhnya dan akan dipelihara anakannya, sebaiknya pangkal batangnya di-timbun, sehingga pangkal anakan tertutup tanah. Dengan begitu pertumbuhan anakan akan lebih cepat.
d.    Apabila telah tersedia pupuk, sebaiknya tanaman segera dipupuk dengan pupuk organic 1 kranjang + pupuk NPK 100 – 200 gram per rumpun. Pemupukan cukup dilakukan 1 – 2 bulan sekali. Untuk mengurangi keasaman tanah, kedalam pupuk kandang tersebut dapat dicampurkan pula kapur dolomite 200 – 250 gram.
e.    Apabila tersedia pupuk daun, tanaman yang baru dipangkas dan memperlihatkan pertumbuhan tunas baru dapat disemprot dengan pupuk daun (Neo Kristalon hijau, Neo Kristalon kuning, Gandasil D atau lainnya). Penyemprotan cukup dilakukan setengah bulan sekali.
    Ada dampak positif dan negative dari hujan abu vulkanik G. Merapi. Tetapi, hampir semua tanah yang subur, selalu berada dilereng gunung yang berapi. Untuk itu dengan tetap mengikuti anjuran ahli vulkanologi, masyarakat tani dapat memanfaatkan tanah vulkanik itu untuk usaha tani.
    Tentu dengan tetap memperhatikan dan mentaati acuan lokasi yang aman dari bahayanya dari ahli vulkanologi. Semoga bermanfaat. *) Ir. H. Soekam Parwadi

PEMERINTAH BERI KESEMPATAN GURU TEMPUH SARJANA/AKTA IV

Undang‐Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa untuk memenuhi persyaratan sebagai tenaga pendidik profesional, guru wajib memiliki kualifikasi akademik minimal S‐1/D‐IV dan sertifikat pen-didik. Dua syarat guru profesional itu telah diundangkan. Realisasinya masih menunggu kesiapan pemerintah untuk menyiapkan pendidikan bagi guru yang belum S-1/ D-IV. Secara nasional, jumlah guru yang belum S-1/D-IV sekitar 60% dari jumlah guru.
    Untuk memenuhi kualifikasi aka-demik guru (S-1) dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu:
1) pelatihan guru dengan mem-perhitungkan ekuivalensi satuan kredit semesternya;
2) prestasi akademik yang diakui dan diperhitungkan ekuivalensi satuan kredit semesternya; 
3) pengalaman mengajar dengan masa bakti dan prestasi tertentu. Untuk merealisasikan ketiga macam cara peng-S-1-an, pemerintah melaksanakan PPKHB (Pengakuan Pengalaman Kerja dan Hasil Belajar). 
    PPKHB adalah suatu sistem peng-hargaan terhadap wawasan, pe-ngetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang mencerminkan pengalaman kerja dan hasil belajar yang dimiliki guru peserta program Sarjana (S‐1) Ke-pendidikan bagi Guru Dalam Jabatan sebagai pengurang beban studi yang wajib ditempuh.
    Untuk mengikuti program ini, guru harus menyusun portofolio untuk dinilai oleh Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan yang telah ditunjuk pemerintah. Hasil penilaian ini dijadikan dasar LPTK untuk mengkalkulasi beban studi yang dihargai, sehingga peserta tinggal menyelesaikan beban studi kekurangannya. Jelasnya, guru yang mengikuti program ini jatah kuliahnya bisa dikurangi 1 semester atau lebih, sesuai hasil nilai portofolionya.
    Adapun guru yang diperbolehkan mengikuti program ini adalah guru yang memenuhi syarat-syarat;
1) Tahun 2008 sudah berstatus sebagai guru PNS atau bukan PNS pada Satuan Pendidikan dan belum memiliki kualifikasi akademik S‐1/D IV,
2) memiliki masa kerja minimal dua (2) tahun secara terus‐menerus dan tercatat sebagai guru tetap pada satuan administrasi pangkal yang memiliki izin dari Pemerintah, pemerintah daerah, atau penyelenggara pendidikan yang sudah mempunyai perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama,
3) Peserta program adalah guru yang memiliki NUPTK atau dalam proses pengajuan NUPTK.
    Guru pada sekolah swasta, se-panjang keberadaan sekolah mendapat izin pemerintah, diperbolehkan mengikuti program ini. Penilaian dari LPTK atas calon mahasiswa mencakup beberapa hal. Diantaranya: Pertama, Penilaian Pengalaman Kerja, yang meliputi:
a). Pengalaman Mengajar, itu Ditentu-kan berdasarkan lamanya menjadi guru. Makin lama, makin banyak pengalaman makin tinggi skornya. Disamping itu akan dilihat adanya relevansi mata pelajaran yang diampu dengan jurusan yang dipilih. Ditambah adanya kon-sistensi mapel yang diampu dan jurusan yang dipilih.
b). Rencana Pembelajaran. Rencana pebelajaran ini dinilai 5 RPP terbaik dalam KD yang berbeda, dan pernah diaksanakan dalam proses pem-belajaran.
c). Penghargaan yang Relevan di-antaranya Prestasi yang diraih sesuai dengan bidangnya dan berdasarkan tingkatannya.

Penilaian Komponen hasil belajar.
    Kedua, Kualifikasi Akademik, ini digunakan untuk menentukan jumlah SKS yang menjadi tanggungan maha-siswa. Diataranya:
a). Pelatihan, ditentukan berdasarkan lama waktu, relevansi, keabsahan penyelenggara, dan tingkat pelatihan. b). Prestasi Akademik, diantaranya: Karya akademik, yaitu hasil karya pengembangan profesi guru dengan syarat dan ketentuan tertentu, Juara Lomba, Pembimbingan pada teman sejawat dan, Keikutsertaan dalam forum ilmiah.
*) Joko Supriyono, Kepala SMP N 3 Muntian

MALARIA DALAM KEHAMILAN

Malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan 15 juta kasus dan 38.000 kematian pada tahun 2001 (SKRT, 2001). Untuk mengatasi hal itu maka akses penderita malaria untuk diagnosis dini dan pengobatan yang tepat dan upaya preventif menjadi prioritas program pemberantasan yang dilakukan ber-landaskan kemitraan, dengan sasaran menurunnya angka kematian dan kesakitan malaria di setiap wilayah kabupaten endemik malaria.
    Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh sekelompok parasit yang disebut plasmodium yang hidup dalam sel darah merah. Parasit adalah organisme yang sangat kecil dan tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, tidak dapat hidup sendiri. Untuk hidup dan berkembang biak harus mendapat makanan dari organisme lain. Ada banyak plasmodium, dan semuanya menyebabkan malaria pada hewan dan manusia yaitu:
1.    Plasmodium Falsifarum,
2.    Plasmodium Vivax,
3.    Plasmodium Ovale, dan
4.    Plasmodium Malariae,
Akan tetapi hanya Plasmodium  falsi-farum yang bisa menyebabkan malaria berat dengan komplikasi.
    Malaria tidak dapat ditularkan dengan cara kontak langsung dari manusia ke manusia. Tetapi melalui tranfusi darah yang mengandung parasit malaria penyakit ini dapat ditularkan juga secara konginetal dari ibu ke janin melalui placenta. Malaria ditularkan oleh nyamuk anopheles betina yang terinfeksi parasit malaria.
    Penularan terjadi karena nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi malaria menggigit manusia dan me-masukkan air liurnya yang mengandung parasit kedalam peredaran darah manusia, selanjutnya parasit masuk kedalam sel hati manusia. Satu sampai dua minggu kemudian parasit kembali masuk pada aliran darah manusia dan gejala malaria pada manusia seperti demam, menggigil, berkeringat dan sakit kepala mulai muncul.
    Di Jawa Tengah puncak kasus malaria biasanya terjadi pada bulan juni dan juli dan diperkirakan kasus akan meningkat pada bulan oktober sehingga kewaspadaan sangat perlu agar tidak terjadi peledakan kasus. Kasus yang muncul dibedakan menjadi dua yaitu kasus import (pendertita berasal dari luar wilayah) dan kasus indegenius (penderita berasal dari wilayah).
    Diharapkan Jawa Tengah pada tahun 2010 tidak ada desa dengan endemik malaria tinggi dan pada tahun 2012 semua kasus yang ditemukan adalah kasus import sehingga target Jawa Tengah bebas malaria tahun 2015 akan tercapai.
    Di Kabupaten Magelang kasus malaria ditemukan bukan lagi di segitiga emas menoreh yang konon merupakan daerah penyumbang tertinggi kasus malaria untuk jawa dan bali. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang tahun 2009 diketahui bahwa kasus malaria yang ditemukan tercatat 23 kasus dimana 22 kasus adalah kasus import dan 1 kasus merupakan kasus indegenius.
    Sampai dengan bulan Juni 2010 tercatat penemuan kasus meningkat dari tahun 2009 yakni sebanyak 141 dengan perincian 39 kasus import dan 102 merupakan kasus indegenius dimana kasus tersebut bukan lagi ber-asal dari daerah segitiga emas menoreh saja akan tetapi kasus mulai ditemukan di daerah lain yaitu Kecamatan Srumbung dan Ngluwar (1 kasus impor).
    Kasus tertinggi di tahun 2010 ditemukan di daerah Kajoran dan Kecamatan Srumbung. Di Kecamatan Kajoran ditemukan 79 kasus indegenius dan 3 kasus impor dimana 27 kasus adalah malaria pada ibu hamil meskipun sudah dilakukan pencegahan, akan tetapi masih terdapat 3 kasus yang dinyatakan tetap positif. Sedangkan di Kecamatan Srumbung ditemukan 19 kasus indegenius dan 3 impor. Hal tersebut menjadikan keprihatinan dan mem-butuhkan perhatian serius dari semua pihak.
    Malaria pada ibu hamil menjadi isu aktual pada pemberantasan malaria mengingat ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang beresiko tinggi terhadap malaria karena malaria dalam kehamilan mempunyai dampak yang negatif terhadap ibu maupun janinnya.
    Untuk menyelamatkan ibu hamil dan janinnya diperlukan upaya sebagai berikut:
1.    Deteksi dini pada kehamilan melalui pemeriksaan kehamilan secara terfokus atau terintegrasi.
2.    Pencegahan malaria dengan Pem-berantasan Sarang Nyamuk (PSN) oleh masyarakat
3.    Pengobatan malaria pada ibu hamil sedini mungkin
4.    Anjuran kepada ibu hamil untuk menggunakan kelambu yang dicelup insektisida
5.    Akses pelayanan yang cepat untuk pengobatan
6.    Respon terhadap kejadian luar biasa dan kegawat daruratan malaria.
    Infeksi malaria pada kehamilan sangat merugikan baik untuk ibu maupun janinnya, karena dapat me-ningkatkan kesakitan dan kematian ibu maupun janin. Pada ibu, malaria dapat menyebabkan anemi (3-15%). Pada janin malaria menyebabkan abortus, persalinan prematur, berat badan lahir  rendah (13-70%), dan kematian neonatal (3-8%).
    Infeksi malaria pada wanita hamil sangat mudah terjadi karena adanya penurunan imunitas ibu selama kehamilan yang diduga akibat adanya peningkatan hormon pada wanita selama kehamilan. Berdasarkan hal tersebut, perlu dipahami bahwa wanita hamil membutuhkan perhatian yang serius bila terjangkit infeksi malaria selama periode kehamilan, persalinan maupun nifas, mengingat wanita hamil memiliki risiko terkena malaria lebih tinggi dan lebih berat dibandingkan wanita tidak hamil.

DIAGNOSIS MALARIA PADA KEHAMILAN
    Malaria pada kehamilan dapat di-pastikan dengan ditemukannya parasit malaria di dalam darah ibu. Gejala klinis malaria pada wanita hamil di daerah non-endemik bervariasi dari malaria ringan sampai berat dengan risiko tinggi pada ibu dan janin.
    Sedangkan pada wanita hamil di daerah endemik gejala sering tidak jelas atau tidak menimbulkan gejala karena mereka biasanya memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut.

Malaria ringan tanpa komplikasi
Harus dicurigai malaria pada seseorang dengan demam dengan atau tanpa gejala-gajala lain apabila seseorang tersebut :
a.    Berasal dari daerah endemis malaria
b.    Ada riwayat perjalanan ke daerah endemis malaria dalam 2 minggu terakhir
c.    Ada riwayat tinggal di daerah malaria , dan
d.    Ada riwayat pernah mendapat pengobatan malaria.

    Pada wanita hamil jika dilakukan pemeriksaan maka akan ditemukan: Suhu badan lebih dari 37,5°C adanya pembesaran limpa, anemi dan gejala lain seperti menggigil, demam, serta berkeringat. Di daerah endemis malaria, pada penderita yang telah mempunyai imunitas terhadap malaria, gejala di atas tidak timbul berurutan, bahkan tidak semua gejala tersebut dapat ditemukan.
    Selain gejala di atas, dapat juga disertai gejala lain yang merupakan gejala khas setempat, seperti lemas, sakit kepala, sakit perut, mual, muntah, dan diare.

Malaria berat
    Malaria berat dengan komplikasi adalah bentuk malaria sangat ber-bahaya, memerlukan penanganan segera dan intensif. Oleh karena itu pengenalan tanda-tanda dan gejala-gejala malaria berat sangat penting untuk menurunkan kesakitan malaria.
    Beberapa penyakit penting yang mirip dengan malaria berat adalah meningitis, ensefalitis, demam tifoid, infeksi virus, dll. Hal ini menyebabkan pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan untuk menambah kekuatan diagnosis.
    WHO mendefinisikan Malaria berat sebagai ditemukannya Plasmodium falciparum dengan satu atau beberapa komplikasi yaitu: Gangguan kesadaran sampai koma (malaria serebral), Anemi berat, Hipoglikemi, odem paru, syok, hipotensi, septicemia, gagal ginjal akut, sakit kuning, kejang umum berulang dalam 24 jam, gangguan keseimbangan cairan, perdarahan abnormal dan gangguan pembekuan darah, Hemo-globinuri, kelemahan dan suhu > 40 ° C.
    Perlu diketahui bahwa malaria tanpa komplikasi akan dapat menjadi berat jika tidak diobati secara dini dan semestinya.

PENGARUH MALARIA TERHADAP IBU
    Infeksi malaria akan menyebabkan anemi. Pada infeksi Plasmodium falciparum dapat terjadi anemi berat karena eritrosit diserang parasit sehingga mengalami kerusakan, masa hidup eritrosit menjadi lebih singkat dan anemi lebih cepat terjadi, terutama di daerah endemis dan hal itu menjadi penyebab kematian penting.
    Eritrosit berparasit akan menyebab-kan terjadinya kerusakan kapiler darah sehingga berpengaruh dalam men-suplai darah ke otak sehingga akan berakibat terjadinya gangguan sirkulasi yang berakibat pada kegagalan aliran darah ke jaringan dan organ tubuh.
    Selain itu edema paru dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu peningkat-an permeabilitas vaskuler, disfungsi berat mikrosirkulasi, alergi, terapi cairan yang berlebihan bersamaan dengan gangguan fungsi kapiler alveoli, kehamilan, malaria serebral, tingkat parasitemi yang tinggi, hipotensi, asidosis dan uremia.
    Malaria pada kehamilan juga bisa menyebabkan hipoglikemi karena sel darah merah yang terinfeksi memerlu-kan glukosa lebih banyak daripada sel darah normal, atau akibat ibu hamil diberi kina secara intravena. Akibat lainnya adalah terjadinya infeksi plasenta, gangguan elektrolit dan terjadinya malaria serebral serta kematian pada wanita hamil.

PENGARUH MALARIA PADA JANIN
    Kematian janin dalam kandungan dapat terjadi akibat hiperpireksi, anemi berat, penimbunan parasit di dalam plasenta yang menyebabkan gangguan sirkulasi ataupun akibat infeksi trans-plasental. Abortus disebabkan adanya demam yang tinggi dan anemia berat. Terjadinya persalinan prematur yang disebabkan adanya panas, kekurangan cairan, asidosis atau infeksi plasenta.
    Penderita malaria biasanya men-derita anemi sehingga akan menyebab-kan gangguan sirkulasi nutrisi pada janin dan berakibat terhambatnya per-tumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan. Selain itu dapat terjadi malaria kongenital dengan gejala klinik antara lain tidak mau menyusu, demam, pembesaran hati dan limpa  dan anemia tanpa ikterus.

PENANGANAN  MALARIA PADA KEHAMILAN
    Pemeriksaan kehamilan secara teratur adalah dasar keberhasilan pe-natalaksanaan malaria dalam kehamil-an, yang bertujuan untuk memberikan pendidikan kesehatan termasuk pe-nyuluhan tentang malaria dan dampak-nya  pada kehamilan.
    Informasi tentang pentingnya per-lindungan pribadi untuk mencegah kontak dengan vektor, misal: pemakaian kelambu yang dicelup insektisida bagi ibu hamil, pemakaian celana panjang dan baju lengan panjang, pemakaian obat nyamuk atau pemasangan kawat nyamuk pada pintu, jendela dan ventilasi udara.
     Dengan pemeriksaan teratur maka pada ibu hamil juga dapat dilakukan pemeriksaan hemoglobin dan parasito-logi malaria setiap bulan, pemberian tablet besi dan asam folat serta imunisasi TT lengkap. Disamping itu pada ibu hamil yang ditemukan men-derita malaria maka akan bisa diambil tindakan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam penanganan malaria pada ibu hamil.
    Persalinan penderita dengan positif malaria memerlukan pengawasan yang lebih cermat sehingga sangat di-sarankan untuk bersalin di rumah sakit agar kewaspadaan dan tindakan dapat dilakukan dengan baik, termasuk peng-awasan keseimbangan cairan dan tingkat kesadaran serta pemantauan ketat kontraksi denyut jantung janin sehingga dapat diketahui adanya gawat janin lebih awal. Bila ditemukan tanda gawat janin pada persalinan, me-rupakan indikasi seksio sesarea.

PENCEGAHAN
    Setiap wanita yang tinggal di daerah endemis atau akan bepergian ke daerah endemis sebaiknya diberi profilaksis meskipun tidak memberikan per-lindungan pasti terhadap infeksi malaria, namun dapat menurunkan parasitemia dan mencegah komplikasi malaria berat dan meningkatkan berat badan bayi.
    Klorokuin merupakan obat yang paling aman bagi wanita hamil . Bagi wanita hamil yang akan bepergian ke daerah endemis malaria pemberian dimulai 1 minggu sebelum berangkat, selama berada di daerah endemis, sampai 4 minggu setelah keluar dari daerah tersebut.
    Upaya lain untuk pencegahan infeksi malaria adalah dengan memutuskan rantai penularan dengan cara: me-ngurangi kontak atau gigitan nyamuk Anopheles dengan menggunakan kelambu, obat nyamuk, membunuh nyamuk dewasa, membunuh jentik nyamuk, meningkatkan daya tahan tubuh melalui vaksinasi dan gizi yang sesuai dengan kebutuhan ibu hamil.

KESIMPULAN
    Malaria pada kehamilan merupakan masalah yang serius mengingat pe-ngaruhnya terhadap ibu dan janin yang bila tidak ditanggulangi secara cepat dan tepat dapat meningkatkan angka kematian ibu dan janin.
    Penanggulangan malaria dalam ke-hamilan dapat dimulai secara dini melalui kunjungan ante natal care dengan memberikan pendidikan ke-sehatan termasuk penyuluhan kesehat-an tentang pencegahan malaria dan pengobatan profilaksis bagi yang tinggal di daerah endemis serta kesiapan sistim rujukan bila terjadi kasus.
    Diperlukan sistem pelayanan ke-sehatan dengan fasilitas yang memadai untuk menangani kasus-kasus malaria yang ada dan partisipasi aktif masya-rakat mendukung pencegahan dan pemberantasan malaria.
*) Sri Kuswanti,S.ST, Kabid SDK Dinkes Kab Magelang dan Ketua IBI Cab Kab Magelang

Refleksi Nopember

SANG DERMAWAN

Ketika melihat pemandangan serombongan manusia yang berpakaian lusuh, wajah yang kuyu penuh ketakutan, bangunan rumah yang hancur, tempat bercocoktanam yang layu dan jerit tangis anak kecil yang lapar dan mencari orang tuanya, apa perasaan yang muncuk dalam benak kita? Dapat kita pastikan muncul perasaan iba, kasihan dan keinginan untuk membantu meringan-kan penderitaan mereka.
    Hal inilah yang tersaji ketika menyaksikan bencana letusan Merapi. Kedahsyatan letusannya, dianggap sebagai letusan Merapi yang terbesar selama satu abad ini melebihi perkiraan para ahli Gunung Merapi sekalipun. Bencana ini memakan korban jiwa, yang selamat kemudian mengungsi mencari tempat yang aman ke tempat-tempat yang dianggap aman.
    Luas wilayah yang terdampak bertambah luas. Sebagian besar penduduk yang berada di Kecamatan Dukun dan Srumbung harus meng-ungsi karena tempat tinggalnya terkena dampak letusan Gunung Merapi.
    Para pengungsi bencana Merapi di Kabupaten Magelang mencapai puncaknya ketika letusan kedua terjadi pada awal November 2010 hingga mencapai jumlah lebih dari 100.000 jiwa yang tersebar di lebih dari 250 lokasi. Jumlah pengungsi dan lokasi sebanyak ini jelas membutuhkan penanganan ekstra oleh Pemerintah Daerah karena melebihi perkiraan dan estimasi yang diperkirakan pemerintah daerah, baik dari sisi jumlah pengungsi maupun lokasi pengungsiannya.
    Pada hari pertama tiba di lokasi pengungsian, - terutama di luar lokasi pengungsian yang sudah dipersiapkan-, pemerintah daerah belum dapat mendata lokasi pengungsian dan jumlah pengungsi yang ada. Ibaratnya semua pengungsi dalam keadaan panik dan bingung sehingga cenderung mengungsi dilokasi mana pertama kali di turunkan oleh kendaraan evakuasi. 
    Pada saat inilah, peran masyarakat, organsiasi masyarakat dan kelompok masyarakat lainnya menjalankan peran yang membantu meringankan beban kerja pemerintah daerah. Dengan sukarela mereka menyediakan tempat, iuran dan menyediakan tenaga untuk membuka dapur umum. “Kita niati ini sebagai ibadah kok, para pengungsi tidak ubahnya seorang tamu, melayani dan membantu pengungsi sama dengan me-layani tamu”, demikian mereka memberikan penjelasan.
    Itulah sikap kearifan sosial masyarakat yang terbukti sangat membantu beban pemerintah daerah dalam penanganan pengungsi, terutama di hari-hari pertama pengungsian. Namun sebagai pihak yang memiliki kewenangan memberikan jaminan keselamatan dan kesejahteraan warganya, pemerintah kabupaten Magelang-pun segera melakukan pen-dataan dengan menugaskan staf dan berkoordinasi dengan kepala desa tempat di mana desa tersebut menjadi lokasi pengungsian.
    Pemerintah Kabupaten Magelangpun terbantu dengan bantuan pihak ketiga, baik dari perusahaan, organisasi maupun masyarakat dari kabupaten/kota yang ada di sekitar Kabupaten Magelang. Namun penanganan bencana ini seoptimal mungkin dilakukan dengan menjunjung tinggi aspek akuntabilitas.
    Distribusi bantuan harus dilakukan dengan prosedur yang berlaku dan tepat peruntukkannya. Mungkin inilah yang membuat, bantuan pemerintah kabupaten seringkali memakan waktu ketika didistribusikan kepada para pengungsi.
    Setiap peristiwa apapun itu, pastilah ada hikmahnya, tidak terkecuali bencana latusan Merapi ini. Ketika kesulitan mendera, kita disatukan oleh perasaan senasib sepenanggungan dan keingginan untuk membantu sesama. Dan ini terbukti menjadi modal sosial yang berharga di Kabupaten Magelang, dengan keterlibatan masyarakat di lokasi pengungsian.
Hidup Kabupaten Magelang, kita kuat ketika kita bersatu.
*)M. Ali Faiq,S.IP,M.Si Pemimpin Redaksi, KaBid Komunikasi pd Diskominfo Kab Magelang.

Ketua PMI, Muhammad Jusuf Kalla: PMI siap beri bantuan kepada pengungsi, berapapun...”


    “Palang Merah Indonesia (PMI) siap memberikan bantuan kepada para pengungsi berapa pun yang dibutuhkan, baik berupa tenaga relawan maupun bantuan-bantuan yang lain,” kata Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang sekarang menjadi Ketua PMI Pusat kepada para pengungsi saat mengunjungi tempat penampungan pengungsi di Lapangan Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang.
    Meskipun saat ini bencana sedang terjadi di mana-mana, jelas Jusuf Kalla, namun, PMI akan tetap siap memberikan bantuan guna meringankan beban penderitaan saudara saudara pengungsi akibat erupsi Gunung Merapi. Kedatangan Jusuf Kalla ke tenda tenda pengungsi kali ini untuk memberikan dukungan moril serta menyerahkan secara langsung bantuan dari PMI kepada pengungsi Merapi di Kabupaten Magelang.
    Bupati Magelang Ir.H.Singgih Sanyoto, beserta Muspida yang mendampingi Ketua PMI keliling mengunjungi tenda tenda pengungsi, mengatakan; Pemerintah Daerah telah berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi yang saat itu mencapai 29 ribu jiwa ini.
    Menurut Bupati penanganan pengungsi tidak hanya cukup dengan memenuhi kebutuhan makan, namun banyak aspek lain yang menjadi kebutuhan pengungsi juga harus diperhatikan. Untuk itu Bupati mengajak semua fihak untuk ikut berperan serta dan membantu, terutama dalam memecahkan setiap permasalahan yang muncul berkaitan dengan pengungsi Merapi.
    Lapangan Jumoyo, sejak awal Merapi erupasi (26/10) dipergunakan untuk menampung sekitar 2.000 jiwa pengungsi yang berasal dari Desa Kaliurang, Kecamatan Srumbung. Sedangkan untuk pengungsi yang berusia lanjut dan anak balita ditempatkan di Balai Desa Jumoyo. *)sukendro

MENEG PDT, Ir.H.A.Helmi Faisal Zaeni: “Jumlah Pengungsi di luar perkiraan”


Dalam kunjungan kerja Meneg Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Ir.H.A.Helmy Faisal Zaeni di Ponpes Darussalam Watucongol Muntilan Kab Magelang, (14/11), juga memberikan bantuan Rp 100 juta untuk penanganan pengungsi Merapi di beberapa Posko, dan 50 Juta untuk Ponpes Darussalam Timur. Kunjungan Meneg PDT tersebut juga disertai Bupati Wonosobo H.A.Kholiq Arif dan PP Fatayat NU, Dra.Ida Fauziah.
    Dalam sambutannya, Helmy Faisal mengharapkan semua pihak kompak dalam menghadapi bencana, jangan saling menyalahkan. “Ketika menghadapi bencana, kita jangan saling menyalahkan satu dengan yang lain, karena sesungguhnya kita sedang diuji untuk naik kelas. Untuk itu kita harus senantiasa tolong menolong dengan tidak memandang asal usul dan dari kelompok mana,” kata Helmy.
    “Memang, kita berada pada titik rawan bencana, baik gunung berapi, tsunami maupun gempa. Dengan kondisi geografis seperti ini, apapun resikonya harus kita terima,  karena itu, kita harus siap dengan berbagai macam krisis,” katanya. untuk itu perlu sosialisasi agar masyarakat tumbuh kesadaran menghadapi bencana dan memiliki kemampuan menata pasca bencana, baik menyiapkan relokasi maupun perbaikan infrastuktur dan memulihkan perekonomian rakyat. Helmi mencontohkan ketika terjadi bencana di Aceh dan Nias, selain membangun infrastuktur juga membangun produk pemulihan ekonomi, baik berupa padat karya maupun berbagai aktifitas yang dapat membantu masyarakat. 
    Menanggapi penanganan bencana Merapi, KH.Ali Choisor Ahmad, pengasuh Ponpes Darusalam Timur mengatakan; dampak letusan susulan Merapi adalah kurang efektifnya koordinasi akibat jumlah pengungsi di luar perkiraan. Dampak letusan itu juga menyisakan pekerjaan rumah bagi kepala rumah tangga penduduk di kawasan Merapi, bagaimana mereka akan bertahan hidup sepulang dari pengungsian, padahal semua sudah musnah atau rusak; tanaman dan lahan pertanian, peternakan, tempat tinggal tidak bisa difungsikan lagi, padahal mereka butuh hidup. Walaupun sampai saat ini, logistik di tempat pengungsian lebih dari cukup bahkan melimpah, tetapi masyarakat diluar pengungsi juga mengalami dampak kelaparan. Maka Ali Choisor mengharapkan keadaan tersebut agar juga dipikirkan.
    Menanggapi pernyataan KH.Ali Choisor, Bupati Magelang Ir Singgih Sanyoto dalam sambutannya mengatakan, jumlah pengungsi di Kab Magelang ada  83.824 jiwa yang berasal dari desa desa di kecamatan Dukun, Srumbung dan Sawangan. Mereka ditampung di 276 TPS maupun TPA yang merupakan fasilitas umum seperti Balai Desa, Sekolahan dan tempat umum lain yang tersebar di 18 kecamatan. Selain itu ada sekitar 12.229 jiwa penduduk yang mengungsi di Kab Wonosobo, Semarang, Kendal dan Kota Magelang.
    sedangkan relawan yang membantu penanganan pengungsi di Kabupaten Magelang ada  4.985 personil. Kab Magelang juga telah menerima bantuan dari berbagai pihak baik lembaga pemerintah maupun swasta dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yaitu berupa jatah lauk pauk untuk para pengungsi sebesar Rp 4.500 dan Beras 0,4 Kg per-orang per-hari. Sedangkan bantuan dari berbagai pihak (donatur) di-gunakan untuk pembelian sarana dan prasarana pendukung lainnya. Bantuan yang berupa barang disalurkan ke TPA dan TPS sesuai kebutuhan.
    Menanggapi harapan KH.Ali Choisor Ahmad, Bupati menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Magelang dalam tanggap darurat bencana Merapi ini tidak bisa membantu masyarakat selain pengungsi, karena selain keterbatasan dana juga sesuai arahan BNPB dalam masa tanggap darurat yang diprioritaskan dipulihkan dan dibantu hanya pengungsi akibat awan panas dan lahar dingin, sedangkan yang terkena dampak, sesuai arahan BNPB tidak termasuk tugas BNPB. Untuk itu Bupati Singgih mengharapkan roda ekonomi di kawasan Merapi dan terutama Pasar Muntilan dan sekitarnya bisa segera berputar kembali sehingga masyarakat dapat mencari nafkah. *)mami-s

MENTAN, Dr.Suswono MA: “Akibat erupsi Merapi, petani salak rugi milyaran rupiah”

 
Sebagian besar masyarakat Kecamatan Srumbung yang terletak di lereng Merapi merupakan petani salak. Salak pondoh dan Salak Nglumut adalah produk andalan Petani di daerah ini, tetapi akibat erupsi Gunung Merapi selama 3 pekan sejak 26 Oktober lalu petani di daerah ini harus menderita kerugian Miliaran Rupiah. Bahkan tanaman salak yang masih tersisa juga dikhawatirkan tidak akan panen, dan seandainya panen kemungkinan juga tidak akan terserap oleh pasar karena busuk. Maka Menteri Peranian Dr.Suswono,MA berjanji akan memberikan satu unit tempat penyimpanan salak, agar tidak busuk.
    Demikian ungkapan Mentan Dr.Suswono MA saat berdialog dengan petani salak dan peternak kecamatan Srumbung di Balai desa Sudimoro, (Rabu malam,4/11). Saat Menteri menanyakan apa yang diinginkan petani salak pasca erupsi Merapi, sebab menurut menteri sekitar bulan Desember  hingga Januari merupakan masa panen raya salak pondoh.
    Seluruh petani dan peternak di wilayah ini mengeluhkan banyaknya tanaman Salak  maupun tanaman produktif lainnya yang rusak, disamping sulitnya mencari pakan ternak akibat semua tanaman terkena abu vulkanik semasa mereka tinggal mengungsi.
    Menanggapi keluhan tersebut, Mentan menyarankan agar ternak yang dimiliki dijual terlebih dahulu, kalau petani/ peternak telah sepakat akan menjualnya, Mentan berjanji akan menghubungkan dengan rekanan yang siap membeli dengan harga yang wajar. Sedangkan untuk menanggulangi panen raya Salak Pondoh, Mentan berjanji akan memberikan satu unit tempat penyimpanan Salah agar tidak cepat busuk. Dalam kesempatan itu Mentan Suswono juga menyerahkan bantuan Rp 50 juta kepada Pemerintah Kabupaten Magelang, untuk penangan-an bencana Merapi yang diterima Assisten Administrasi dan Pemerintah-an, Agung Trijaya,SH.
    Agung Trijaya, yang mewakili Bupati Magelang Ir.H.Singgih Sanyoto juga menyampaikan laporan, akibat erupsi Merapi lahan Padi rakyat yang rusak mencapai 780 Ha, Tanaman Cabe 683 Ha, Ubi jalar 157 Ha, Kobis 185 Ha, Tomat 66 ha, sayuran daun 50 Ha.  "Masing masing komoditas mengalami tingkat kerusakan antara 15 sampai 50 persen," jelas Agung.
    Sedangkan dari jumlah investasi yang dilakukan petani total nilai kerugian mencapai Rp 15,6 milyar. Dalam laporannya Agung juga me-nyebutkan Kabupaten Magelang yang merupakan salah satu daerah agraris spesisfik di Jateng memiliki 38.000 Ha lahan sawah dan  40.000 Ha tanah Tegalan.
*)sukendro

GUBERNUR JATENG, H. BIBIT WALUYO: “Jalur Evakuasi harus segera diperbaiki”


Karena perhatiannya terhadap bahaya Erupsi Gunung Merapi terhadap penduduk sekitar, Gubernur jawa Tengah H.Bibit Waluyo berulangkali menyempatkan diri meninjau daerah daerah di kawasan ini, baik untuk mengecek kesiapsiagaan pemerintah daerah menghadapi kemungkinan terjadinya bencana, maupun memberi perhatian dan pemahaman kepada warga masyarakat yang bermukim dan mencari nafkah di lereng Merapi. “Jadi saya minta semua warga tanpa terkecuali untuk selalu waspada dan siap diungsikan," kata Gubernur Jawa Tengah H.Bibit Waluyo, yang didampingi Wakil Bupati Magelang M.H.Zaeanal Arifin,SH (24/10) beberapa saat sebelum Merapi Meletus, ketika mengecek kesiapsiagaan tempat pengungsian akhir (TPA) Tanjung di Kecamatan Muntilan.
    Bencana erupsi Gunung Merapi tidak bisa dianggap enteng mengingat akibat yang ditimbulkan. Gunung Merapi memiliki karakter berbeda dengan gunung gunung api lainnya. Kapan Merapi meletus, seberapa besar letusannya, kemana luncuran awan panas atau 'wedhus gembel' maupun banjir lahar dinginya tidak ada seorang pun yang bisa memprediksi.
    Di sisi lain, masih ada sementara penduduk yang menganggap enteng, menghadapi keadaan Gunung Merapi kali ini dengan kata ‘biasa’, terutama para penambang dan sopir truk pengangkut pasir yang selama ini sering membandel tak menghiraukan peringatan petugas, dengan dalih kebutuhan nafkah. Padahal bila terjadi korban, aparatlah yang akan dipersalahkan. Hal itulah yang menjadikan kerisauan Gubernur Bibit Waluyo. Sehingga, Gubernur-pun sempat marah kepada salah satu sopir truk bandel yang sempat berpapasan dengan rombongan Gubernur saat mengecek jalur evakuasi di wilayah kecamatan Dukun dan Srumbung Kab Magelang serta kecamatan Selo di Kab Boyolali yang menjadi wilayah kerjanya dengan ditemani Kepala BPPTK Subandriyo dan Wakil Bupati Magelang HM. Zaenal Arifin,SH.
    Setelah melihat kondisi lapangan, Gubernur Bibit Waluyo mengharapkan, agar pemerintah daerah Kabupaten yang berada di kawasan Gunung Merapi segera menyiapkan dana untuk perbaikan jalur evakuasi, karena ini merupakan kegiatan tanggap darurat yang harus segera dilaksanakan sebelum bencana letusan benar benar terjadi. Sebab jalur evakuasi ini penting untuk menyelamatkan dan mengamankan penduduk dari bahaya letusan Merapi. Bibit meminta agar proses evakuasi bisa berlangsung dengan lancar. Gubernur juga minta masyarakat harus sudah paham prosedur tetap pengungsian. “Mereka harus mengerti dimana titik kumpul dan tempat kendaraan berada termasuk  jalur jalur evakuasi dan lokasi TPS maupun TPA,” kata Bibit.
    Wakil Bupati Magelang HM.Zaenal Arifin,SH yang menyertai kunjungan kerja tersebut, mengatakan, untuk mengantisipasi kemungkinan dampak letusan Merapi, pihaknya sudah menyiapkan berbagai sarana prasarana, termasuk, memperbaiki jalur evakuasi. Untuk memperbaiki jalur evakuasi, pemerintah kabupaten Magelang telah mengajukan permohonan bantuan dana sebesar Rp 4 Milliar kepada pemerintah pusat, untuk perbaikan jalur evakuasi di kecamatan Dukun dan Srumbung sepanjang 15 kilometer, diperkirakan dana tersebut cair tahun 2011.
    Disamping mengecek kondisi jalur evakuasi, Gubernur juga melihat kesiapan kamar tidur, kamar mandi, dapur umum dan tenda tenda pengungsian baik di Lapangan Dukun, Lapangan Jumoyo Salam dan TPA Tanjung Muntilan. Kecuali itu Gubernurpun menyempatkan memantau langsung aktivitas Gunung Merapi melalui Pos Pemantuan di Babadan.
    Menurut Kasi Asistensi Sosial, Dinas Nakersostrans Kab Magelang, Dian Hermawan,S.sos; TPA Tanjung mampu menampung 1.200 jiwa, dan memiliki fasilitas lengkap diantaranya Aula, Puskesmas, kamar tidur, dapur umum dan puluhan tenda serta 23 kamar mandi. Tetapi jika dibutuhkan, tenda tenda yang ada bisa didirikan di lapangan desa Tanjung yang juga mampu menampung ribuan pengungsi.*)dharma ali

PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO: “...selama dalam pengungsian anak-anak agar tetap sekolah...”

ERUPSI Merapi semakin menjadi-jadi setelah meletus 26 oktober, Kepala BVMBG (Badan Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi pada Kementrian ESDM, Dr. Surono menyatakan penduduk di lereng Merapi yang belum mengungsi untuk segera menjauh dari puncak Merapi dalam radius 15 Km. Barak barak pengungsi yang masih berada pada radius dibawah itu untuk segera dievakuasi ke tempat yang lebih aman pada jarak diatas 15 Km dari Puncak Merapi.
    Berkaitan dengan aktifitas Gunung Merapi tersebut, banyak pihak memberi-kan perhatian, tidak ketinggalan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Ani Yudhoyono dengan didampingi Menko kesra Agung Laksono, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri pemuda dan Olahraga Andi Malarangeng, Ketua BNPB Syamsul Maarif, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dan pejabat Terkait, Selasa (2/11) mengunjungi para pengungsi di TPA Tanjung, Kecamatan Muntilan, yang diterima Bupati Magelang dan Muspida beserta jajarannya.
    Dalam dialognya Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono berpesan kepada para pengungsi agar sabar dan mau tetap tinggal sementara di pengungsian. ”Kita berdoa dan berharap, Merapi segera reda, kalau sudah reda dan keadaan aman kembali silahkan kondur (pulang),” kata Presiden kepada salah seorang pengungsi. Memang di pengungsian sementara tidak seperti dirumah sendiri, tidak bisa bebas, namun demikian pemerintah akan membantu sesuai standar yang telah ditetapkan, jelas SBY lebih lanjut.
    Letusan Gunung Merapi merupakan proses alam, sejauh ini tidak ada yang mampu mencegahnya, bahkan mem-prediksinya. Peristiwa seperti ini akan berulang terus selama Merapi masih aktif, paling tidak empat tahun sekali. Sampai saat ini belum ada ahli yang bisa mengetahui seberapa besar awan panas yang akan disemburkam Merapi, kearah mana wedhus gembel dan luncuran lava pijar menuju, demikian juga denganseberapa besar banjir lahar dingin. Namun pemerintah tetap akan melakukan upaya upaya penyelamatan, satu jiwa pun harus diselamatkan.
    Presiden juga memberikan perhatian terhadap pendidikan anak anak selama dalam pengungsian, pihaknya meminta anak anak tetap bisa sekolah, sehingga pendidikan mereka tidak terganggu, termasuk adanya sarana bermain untuk mereka. “Tolong pak menpora, sediakan bola dan alat permaianan kepada anak-anak pengungsi.“ kata SBY. Dijawab Menpora bahwa pihaknya sudah membawakan beberapa sarana bermain, diantaranya bola, raket dan papan catur. *)dharma ali

ABU VULKANIK MERAPI MENGANCAM KELESTARIAN CANDI BOROBUDUR



Letusan Gunung Merapi tanggal 26 Oktober 2010 yang disusul letusan-letusan beberapa hari berikutnya dengan intensitas yang 'luar biasa' menebarkan material pyroklastika berupa batu, kerikil, pasir dan abu vulkanis di daerah sekitarnya. Bahkan berdasarkan informasi dari Volcanic Ash Centre Australia ketinggian abu vulkanis Gunung Merapi mencapai 55.000 kaki atau hampir 17 kilometer. Sehingga jangkauan tebaran abu vulkanik mencapai kota-kota di Jawa Barat seperti Tasikmalaya, Bandung, Bogor bahkan Jakarta. Meski abu vulkanik merupakan pupuk alam yang bisa menyuburkan tanah, namun ketika abu vulkanis itu berhamburan di udara sangatlah membahayakan bagi kesehatan manusia terutama untuk kesehatan pernafasan dan mata.
    Abu vulkanik Merapi yang mengandung zat belerang dan silica secara kimiawi bersifat asam yang tinggi dengan tingkat keasaman (pH) antara 4 – 5. Tingkat keasaman yang tinggi ini bersifat korosif dan sangat berbahaya bagi batu-batu candi. Candi Borobudur dan candi-candi lainnya di sekitar Gunung Merapi seperti Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Ngawen, Candi Lumbung, Candi Asu dan Candi Pendem tak luput dari tebaran abu vulkanik yang cukup tebal.
    Untuk membersihkan abu vulkanis yang melekat di batu-batu candi perlu teknik-teknik khusus. Bila tidak segera di-bersihkan, abu vulkanik Merapi yang menempel di batu-batu candi ini dapat mengancam kelestarian Candi Borobudur dan candi-candi lainnya.
    Dalam upaya membersihkan abu vulkanik dari candi-candi itu, khususnya Candi Borobudur, pihak Balai Konservasi Pe-ninggalan Borobudur sebagai institusi yang bertanggung-jawab langsung atas kelestarian candi tersebut menangani pembersihan candi ini yang berkoordinasi dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. Untuk kelancaran upaya pembersihan abu vulkanik di Candi Borobudur ini pada tanggal 11 Nopember 2010 Candi Borobudur ditutup sementara bagi kunjungan wisatawan, dan dibuka kembali pada tanggal 21 Nopember 2010 meski para wisatawan belum diperbolehkan naik sampai ke puncak candi.
    Teknik pembersihan abu vulkanik secara fisik dalam kondisi kering dengan menyapu, menyikat, mengumpulkan dan membuang abu vulkanik yang menempel di batu-batu candi. “Untuk pekerjaan ini tidak diperbolehkan dengan meng-gunakan piranti dari logam yang bisa menggores batu-batu candi yang sudah rapuh karena usianya sudah lebih dari seribu tahun,” jelas Yudi, petugas dari Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, kepada para seniman dan santri dari sekitar Borobudur yang membantu sebagai relawan tenaga pembersih candi.
    Sedangkan teknik pembersihan fisik secara basah yaitu dengan menggunakan 'steam cleaner' (semprotan uap air) sehingga batu candi bisa benar-benar bersih dari lekatan abu vulkanik. Pembersihan secara kimiawi untuk menurunkan tingkat keasaman batu candi disemprot dengan 'soda kue'. Stupa-stupa Candi Borobudur yang sudah dibersihkan untuk sementara dibungkus dengan plastik agar tidak terkontaminasi lagi oleh abu vulkanik.
    Ada beberapa blok batu candi yang tertutup abu vulkanik sengaja diisolasi tidak dibersihkan. Abu vulkanik yang menempel di blok batu candi itu dijadikan objek pengamatan dalam menguji tingkat keasaman yang setiap hari dilakukan pengukuran. Disamping itu juga untuk mengetahui pengaruh abu vulkanik terhadap batu dan pertumbuhan organisme seperti lumut dan algae.
    Kepedulian kelompok-kelompok masyarakat, instansi pemerintah, perguruan tinggi dan TNI dalam ikut melestarikan Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia ternyata cukup besar. Ini terbukti, dalam upaya membersihkan candi tersebut dari 'selimut abu vulkanik Merapi' banyak kelompok masyarakat, instansi, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan TNI yang membantu sebagai relawan pembersih candi. Para relawan ini khususnya untuk pembersihan yang bersifat relatif mudah dikerjakan.
    Karena untuk pembersihan abu vulkanik yang menempel di relief dan arca-arca memerlukan ketelitian dan ketelatenan, sehingga dikerjakan oleh tenaga khusus dengan 'skill' (keterampilan terlatih) dan ditangani oleh tenaga-tenaga Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Disamping itu, para relawan yang sudah tahu bagaimana menangani pembersihan benda-benda peninggalan purbakala, misalnya para relawan dari mahasiswa jurusan Arkeologi, bisa membantu membersihkan bagian-bagian candi yang bentuknya cukup rumit seperti relief dan arca.

    Kepedulian kelompok masyarakat setempat terhadap kelestarian Candi Borobudur juga tampak nyata. Misalnya, kelompok masyarakat seniman Borobudur dan santri pondok pesantren 'Miftakur Rohmah' desa Majaksingi juga ber-partisipasi sebagai relawan membersihkan candi tersebut dari abu vulkanik Merapi. Kegiatan 'kerja bhakti' yang melibatkan tidak kurang dari seratus seniman dan warga masyarakat ini dikoordinasikan oleh LSM “Warung Info Jagad Cleguk” Borobudur. Menurut ketuanya, Sucoro, kegiatan ini sebagai 'balas budi' kepada Candi Borobudur yang telah memberi rejeki kepada para seniman dan pelaku pariwisata di sekitar candi ini. Sedangkan Beny, koordinator lapangan kerja bakti ini menuturkan, aksi ikut membersihkan abu vulkanik Merapi di candi Borobudur ini murni untuk membantu tetap lestarinya candi tersebut.
    Hal ini merupakan wujud nyata dalam meningkatkan kepedulian terhadap candi Borobudur sebagai Warisan Budaya Dunia.*)Amat Sukandar

MENGAKRABI MERAPI DENGAN RITUAL: "Sesaji Syukur Merapi"


Terkait dengan meletusnya Gunung Merapi pada hari Selasa Paing, 26 Oktober 2010 sore yang lalu, Agus 'Merapi' Suyitno tergerak hatinya untuk melaksanakan ritual khusus dengan menggelar “Sesaji Syukur Merapi”. Ritual ini dilakukannya di tengah sungai Blongkeng, pada hari Selasa Wage, 2 Nopember 2010 yang lalu. Menurut Agus, ritual ini juga sebagai wujud syukur karena dia selamat dari 'krodha' gunung Merapi. Rumahnya di desa Pucanganom Kecamatan Srumbung termasuk 'daerah bahaya Merapi', sehingga dia dan keluarganya juga harus ikut mengungsi ke tempat lain yang lebih aman dari jangkauan bencana Merapi.
    Pada malam Selasa Kliwon, seminggu sebelum gunung ini meletus, Agus bermimpi diundang 'penghuni ghaib Merapi' yang sedang punya hajat 'mantenan'. Apa makna impian ini? Hanya dia lah yang tahu.
    Agus mengawali ritual 'Sesaji Syukur Merapi' dengan membakar dupa cina. Kemudian dia dengan khusuk dan solah-tingkah khusus, menghadap ke arah Gunung Merapi memanjatkan doa-doa permohonan kepada Allah SWT. Dia memohon agar kegiatan (baca: meletus) gunung Merapi tidak semakin menakutkan dan tidak membawa korban jiwa yang lebih banyak lagi dari warga di sekitar gunung ini. Ritual ini diakhiri dengan 'melarung' lukisan Raksasa Penghuni Merapi, sebagai simbol melarung semua bahaya yang ada di gunung Merapi.
    Dalam ritual ini Agus memajang tujuh buah lukisan, dan ubarampe sesaji berupa bunga mawar merah putih, dupa cina dan jajan pasar. Lukisan sebanyak tujuh buah itu mengandung makna 'nyuwun pitulungan' (mohon pertolongan) kepada Allah SWT. Lukisan-lukisan yang dipajang dalam ritual ini adalah, lukisan gunung Merapi sebanyak empat buah, lukisan mBah Maridjan berlatar belakang 'wedhus gembel', lukisan Nyai Gadhung Mlathi dan lukisan Raksasa penghuni Merapi.     Lukisan mBah Maridjan (juru kunci Gunung Merapi yang wafat sebagai korban Merapi) dilukisnya empat tahun yang lalu ketika dia menggelar pameran di Yogyakarta. Demikian juga lukisan Nyai Gadhung Mlathi. Lukisan-lukisan gunung Merapi meletus dilukisnya setelah gunung tersebut erupsi 26 Oktober 2010 yang lalu. Lukisan-lukisan cat minyak tersebut berukuran 100 cm x 80 cm, dan 60 cm x 70 cm.
    Gunung Merapi bagi pelukis Agus Suyitno merupakan “saudara” yang harus selalu diakrabi, dicintai dan dirawat kelestarian lingkungannya. Sebab, gunung ini selalu memberi berkah, rejeki, bahkan kemakmuran bagi mereka yang bermukim di sekitarnya.
    Gunung Merapi telah membuat kesuburan tanah, menyediakan air, sumberdaya hayati atau pun material vulkanis berupa batu dan pasir yang menjadi rejeki dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Meski kini ekologi dan lingkungan alam Merapi sudah banyak yang rusak karena tingkah laku dan keserakahan beberapa gelintir manusia.
    Menurut Agus, sebenarnya Gunung Merapi tidaklah jahat, yang jahat adalah manusia yang telah merusak alam dan lingkungannya. Gunung ini juga tidak perlu ditakuti, namun sebaliknya harus dicintai, dirawat dan tidak dirusak. Karena di balik yang kasat mata gunung dan lingkungan alamnya juga sebagai tempat hunian makhluk-makhluk ghaib. Mereka tidak senang dan tidak rela bila alam lingkungan Merapi diganggu dan dirusak seperti sekarang ini. Karena banyaknya kerusakan di sekitar alam Merapi, gunung ini kemudian “murka” dan “krodha”, dengan meningkatkan aktivitasnya.
    Agus Merapi menyebut erupsi Gunung Merapi tidak dengan kata “meletus” namun dengan ungkapan kata yang lebih 'sopan' yaitu, Gunung Merapi sedang 'punya hajat'. Sebutan seperti ini juga sering terdengar di tengah kehidupan masyarakat pedesaan di sekitar Merapi, khususnya mereka yang percaya bahwa di Gunung Merapi ada alam 'supranatural' dengan penghuni yang bersifat ghaib.
    Sebagai seorang seniman lukis, Agus Suyitno men-dudukkan Gunung Merapi sebagai objek lukisan khusus. Inspirasi lukisan dengan tema Merapi seakan-akan terus mengalir tanpa henti manakala dia sedang berkonsentrasi melukis. Dia melukis dengan  “jiwa dan rasa”. Inspirasi dan imajinasinya yang selalu tumbuh ketika melukis diwujudkan dengan sapuan-sapuan kuas di atas kanvas.
    Setiap kali dia melukis Merapi selalu diawali dengan “laku ritual.” Laku ritual ini dengan membaca doa mantra, membakar dupa dan makan bunga sesaji. Ritual ini sebagai syarat khusus, karena dia akan 'masuk' ke alam lain, alam ghaib Merapi. Ibarat orang yang akan menyelam ke dasar laut, dia harus memakai piranti khusus seperti kacamata air dan tabung gas oksigen agar bisa dan tahan melihat pemandangan di dalam air. Disamping itu, secara “supranatural” dalam melukis dia selalu melakukan wawan wacana batin dengan “penghuni ghaib” di gunung Merapi.    
    Mengapa Agus melukis Gunung Merapi sebagai pusat perhatian dan temanya? Dia menjelaskan, agar orang-orang tahu bahwa di alam sekitar Gunung Merapi sebenarnya ada apa? Yang ada hanyalah “Kerusakan alam”. Dengan lukisannya itu diharapkan banyak orang tahu, kalau alam Merapi banyak yang sudah rusak.
    Gunung Merapi mempunyai kekuatan alam yang maha dahsyat untuk ukuran kekuatan manusia. Personifikasi kekuatan-kekuatan alam yang ada di gunung ini oleh warga masyarakat setempat disebutnya dengan nama-nama tokoh penghuni ghaib Merapi yang legendaris dan memiliki wibawa. Ada nama “Kyai Petruk” yang menguasai wedhus gembel atau “awan panas” dan menguasai letusan dengan daya rusak yang amat dahsyat.
    Nama “Kyai Sapujagad” sebagai penguasa “lahar dingin” yang mengalir dari puncak dan lereng Merapi dengan daya rusak yang bisa meratakan tanah di lereng dan kaki gunung. Tokoh ghaib Merapi yang dipersonifikasikan wanita adalah “Nyai Gadhung Mlathi”, sebagai 'Dewi Kesuburan' yang menyebar abu vulkanis Merapi yang bisa menyuburkan tanah di sekitarnya. Sedangkan “Nyai Kendhit” sebagai 'Dewi Hujan' yang menyiram bumi Merapi menjadi lahan-lahan pertanian yang subur. 
    Ada lagi tokoh “Satriya Piningit” yang hingga kini masih “tersimpan” di wilayah gunung Merapi. Satriya Piningit ini memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan keangkara-murkaan manusia.
    Agar para tokoh ghaib penguasa Merapi ini tidak marah, manusia yang menghuni kawasan Merapi harus bisa 'hidup berdampingan' dan menjaga kelestarian lingkungan alamnya. Disamping itu, masyarakat penghuni kawasan di sekitar gunung ini harus mau  menghormati Merapi. Artinya, mereka tidak boleh sembarangan dalam berbicara yang terkait dengan aktivitas Gunung Merapi.
    Orang-orang di daerah sekitar Merapi ini menyebut “Merapi lagi duwe gawe” (Merapi sedang punya hajat) atau “Merapi lagi mbangun” (Merapi sedang membangun) ketika gunung ini menunjukkan peningkatan aktivitasnya. Tidak dengan kata-kata apa adanya (vulgar) seperti kata-kata “Gunung Merapi njeblug.” (Gunung Merapi meletus). Atau menyebut “awan panas” yang menakutkan, merusak dan bisa membunuh itu dengan kata yang lebih sopan  yaitu “wedhus gembel”.
    Lepas dari percaya atau tidak percaya dengan alam ghaib yang ada di gunung Merapi, warga masyarakat yang hidup di sekitarnya harus selalu memperhatikan kegiatan gunung ini. Mereka harus siap menyingkir manakala gunung Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas vulkaniknya. Dengan demikian, korban jiwa dapat dihindari atau minimal bisa dikurangi. *)Radnakustama

Sekilas Catatan Merapi

Baru saja usai gunung merapi menunjukkan aktifitasnya yang besar. Tak mengherankan bila gunung yang tingginya sekitar 2.911 dpl itu menjadi pusat perhatian nasional, bahkan dunia hingga semua orang mengikuti perkembanganya lewat berbagai media, hingga semua orang tersentak oleh kematian tokoh legedaris juru kunci gunung Merapi itu.
      Rupanya erupsi merapi tahun 2010 ini merupakan aktifitas besar dibanding tahun 2006 yang lalu. Bahkan letusan kali ini akan tercatat dalam sejarah merapi sebagai letusan  yang hebat pula dengan banyaknya jumlah korban  dari keganasan awan panas atau yang kemudian disebutnya sebagai wedus gembel . adapun istilah wedus gembel ini muncul di tahun 1994 saat kawasan Turgo di Sleman diterjang awan panas yang menyebabkan banyak korban, hingga saat itu ada sebuah koran harian di yogya yang kemudian memajang karikatur bergambar Kambing atau wedus gembel yang berlari dari puncak merapi dengan tanduk yang siap menerkam mangsanya.
    Menurut catatan yang ada dari aktifitas merapi tahun ini menyebabkan sekitar 300 ribu oang mengungsi dari kampung halamannya, juga menyebabkan lebih dari  730 ha hutan di sekitar merapi rusak,  belum lagi rumah rumah penduduk yang juga hancur diterjang material gunung itu.
    Dalam catatan sejarah dari aktiftas merapi,bahwa pada zaman kekuasaan Balitung sekitar abad VIII- IX M, atau Mataram hindu pernah terjadi bencana besar yaitu pada zaman setelah pemerintahan  Sri Maharaja  Diah Balitung,atau  menurut ahli sejarah RW.Van Bemmelen pada masa Rakai Sumba, yaitu apa yang disebutnya sebagai sebuah Pralaya, yang sekaligus juga menghancurkan ibu kota Mataram yang saat itu berada di Medang.
    Oleh atau bencana besar dan dahsyat, bencana merapi ini sampai merusak pemukiman penduduk karena itu sesuai dengan landasan kosmologis yang ada, yaitu bila sebuah kota raja mengalami suatu nasib yang sial seperti bencana besar  tersebut maka harus dipindahkan. Maka sebagai kelanjutan-nya adalah  banyak orang orang mataram meninggalkan jawa tengah dan membangun pemerintahan baru di Jawa Timur. Dan dari sinilah kemudian dibangun pemerintahan di Medang Kahuripan.
    Dari kejadian yang disebutnya sebagai pralaya itu, konon candi Borobudur yang jaraknya sekitar 30 km dari puncak merapi juga tertimbun oleh abu vulkanik, tak mengherankan pula bila  kemudian banyak peninggalan atau situs  situs Mataram kuno yang kemudian terkubur oleh tanah dan baru kemudian ditemukan pada zaman ini.
    Ada pula kejadian tahun 1930 yang saat  itu aktifitas Merapi meningkat, bersamaan waktu itu musim penghujan hingga terjadi hujan abu dan hujan air, dan orang menamakan sebagai hujan lumpur dan hal ini terjadi pada hari jumat malam sabtu pahing di bulan safar dalam penanggalan jawa. Dari aktifitas Merapi tahun itu juga mengakibatkan banyak orang meng-ungsi, termasuk masyarakat wilayah mungkid juga banyak yang mengungsi ke sebelah barat sungai Elo. Hal itu dikarenakan ancaman lahar dingin. Apalagi sungai Pabelan yang saat itu masih dangkal belum seperti sekarang. Kejadian tahun 1930 ini pun sebenarnya hampir sama dengan kejadian tahun 2010 ini bila kita melihat catatan dan dokumentasi seperti yang ada di museum vulkanologi di Ketep Pass.
    Ada suatu kisah menarik waktu itu, yaitu saat orang menyelamatkan diri dan mengungsi ke tempat lain tapi ada saja seorang bernama H.Idris di dusun Batikan desa Pabelan  yang tetap bertahan dan berada dalam kamar tidurnya serta melakukan wirid dan dalam kepasrahan pada yang Kuasa. Dan yang terjadi adalah daerah sekeliling rumah itu selamat dari lahar dingin,sedangkan di kiri kanannya  tergenang oleh lahar dingin. Hingga kemudian daerah itu banyak orang menamakan wilayah cepit, karena saat itu terapit oleh lahar dingin tersebut.
    Ternyata lahar dingin juga merupakan ancaman ketika aktifitas merapi ini meningkat, bila di daerah hulu hujan lebat maka daerah di aliran sungai yang berhulu di gunung itu akan menerima kiriman lahar dingin yang bisa memporak porandakan. Sekitar tahun1969 merapi meningkat dan terjadi lahar dingin yang mempeorakporandakan bagian barat gunung Merapi, begitu pula tahun 1976 aktifitas gunung itu dalam keadaan Awas dan kemudian terjadi lahar dingin yang kemudian sungai Krasak meluap serta menyebabkan rel kereta api terseret air, bahkan beberapa desa di Salam juga terkena banjir hingga terbentuk lautan pasir yang membentang puluhan hektar luasnya.
    Ada suatu kejadian menarik dari Gunung yang termasuk teraktif di dunia ini, seorang warga desa Bojong Mungkid sempat mengabadikannya, yaitu asap solfatera di puncak merapi membentuk sebuah tulisan arab bertuliskan  Allah. Ada apa ini? dan kemudian sore harinya ternyata terjadi Letusan Merapi cukup hebat, hingga hujan Abu selama hampir tiga hari dan sebagaian wilayah Kabupaten Magelang tak sempat melihat matahari beberapa hari lamanya.
    Barang kali dari kejadian pagi itu sebagai suatu isyarat bahwa Allah akan memberikan dan memperlihatkan tanda tanda kekuasaanNya, lewat bencana yang besar rupanya Tuhan mengingatkan kepada semua umatNya, akan kekuasaaNya. Betapa dengan adanya bencana itu ternyata manusia tak dapat berbuat apa apa, manusia sebagai mahluk yang lemah tidak bisa menghindar dan menolak bencana  yang membuat semua orang miris itu.
     Saya teringat kata-kata para orang tua dulu, yaitu bila keadaan suatu Negara tidak tentram, banyak konflik, banyak huru hara katanya akan banyak pula bencana yang menimpa-nya. Semoga adanya banyak bencana ini akan menjadikan cambuk bagi semua untuk mawas diri dan memperbanyak permohonan ampunan kepada Tuhan, semoga banyaknya bencana ini sebagai suatu peringatan saja bukan azab.
    Tentu saja Allah yang Maha bijaksana mendatangkan bencana seperti merapi ini buka tanpa maksud.walaupun pada awalnya sangat menyakitkan bagi orang sekitar gunung ini, tapi inilah ujian dari Yang Kuasa bila kita beriman. Yang kemudian dari bencana ini tentu saja membawa berkah bagi manusia, ada kesuburan lewat abu yang didatangkan, ada Material di sepanjang aliran sungai yang menjadikan mata pencaharian bagai masyarakat  hingga mereka makmur, karena selama ini para penambang  kesulitan mencari pasir,hingga tiba tiba pasir itu didatangkan dan tak akan habis habisnya digali. Maka sangatlah beruntung masyarakat Magelang yang mempunyai Merapi, walaupun saat bencana sangat merepotkan.
    Dan ketika gunung Merapi yang semula berstatus awas itu kembali dan perlahan normal seakan gunung itu mengajak mereka kembali dari pengungsian pulang ke dusun-dusunnya untuk kembali membangun harmoni di rumahnya, bekerja di sawah ladangnya serta mengakrabi lingkungan. *) Abdul Ghafar

Penanganan Bencana Merapi

WAWANCARA DENGAN KEPALA BADAN KESBANG POL DAN PB


Bencana Gunung Merapi membawa pengalaman yang memilukan dan oleh sementara orang kenyataan pahit itu mungkin sulit dilupakan. Kini aktifitas Merapi mulai berangsur-angsur turun, semoga segera kembali normal. Para pengungsi telah pulang kembali ketempat tinggalnya masing-masing. Tetapi ada juga yang tidak bisa pulang kerumah, karena telah rusak dan tidak bisa ditempati lagi. Dalam hal ini Pemerintah juga memiliki berkewajiban memikirkan nasib rakyatnya. Memang sejak keadaan Gunung Merapi menunjukan aktifitasnya, pemerintah yang merupakan pemangku kepentingan utama telah meregulasi semua kepentingan masyarakat agar terselamtkan dari akibat bencana. Mulai dari penanganan pengungsi sampai pemulihan aktivitas ekonominya. Untuk mengetahui seberapa jauh peran pemerintah Kabupaten Magelang dalam penanggulangan bencana Merapi, berikut wawancara reporter Majalah Suara Gemilang Safi'i dengan Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Penanggulangan Bencana (Kesbangpol PB) Kabupaten Magelang, Drs.Eko Triyono.

Kebijakan dan langkah apa saja yang diambil pemerintah Kab Magelang dalam penanganan bencana Merapi ?
    Penanggulangan bencana Merapi telah dipersiapkan jauh jauh sebelum Gunung Merapi Erupsi. Tahun 2008 dan 2009 kita telah mempersiapkan berbagai hal, mulai dari rencana Kontijensi penangan bencana akibat erupsi Merapi sampai Gladi Lapang. Kalau secara khusus menjelang Meletus yang diawali dengan pemberitahuan Badan Geologi tentang peningkatan status Merapi dari aktif normal menjadi Waspada, Pemerintah Kabupaten Magelang sudah melangkah dengan mencermati dan melaksanakan Rencana Kontinjensi yang telah disepakati bersama. Salah satunya memberikan sosialisasi kesiapan warga masyarakat di Kawasan Rawan Bencana (KRB.III) dengan mitigasi bencana.
    Sesuai Tupoksi, Badan Kesbangpol PB bekerjasama dengan BPPTK Yogyakarta melakukan sosialisasi ke desa desa yang berada di KRB.III. Rekomendasi awal BPPTK, kita masuk di enam (6) desa, yaitu; Desa Kaliurang, Kemiren, Ngablak, Ngargomulyo, Krinjing dan Paten. Baru dua (2) hari perjalanan sosialisasi yang kami lakukan siang dan malam, BPPTK merekomendasi tambahan, menjadi (13) desa yang berada di KRB.III  dari (19) desa yang ada di KRB.III.
    Sosialisasi belum selesai, status Merapi sudah meningkat menjadi Siaga. Dengan peningkatan status Siaga Merapi, kami sudah tidak lagi sosialisasi, kami sudah harus mempersiapkan sarana prasarana sektor sektor penanganan bencana, diantaranya sektor manajemen posko, sektor barak atau tempat pengungsian, sektor dapur umum, sektor kesehatan, sektor pendidikan, sektor logistik, sektor evakuasi transportasi, sektor komunikasi dan informasi, sektor keamanan. Sektor sektor ini harus segera kita siapkan, karena dengan status Siaga Merapi, BPPTK merekomendasikan 2 desa di Kecamatan Srumbung Kaliurang dan Kemiren untuk dipersiapkan mengungsi.

Bagaimana penanganan para pengungsi dan sekembalinya ke Desa asal?
    Pemerintah Kabupaten Magelang mempunyai lokasi tempat pengungsian akhir yang permanen, yaitu TPA Jerukagung (Srumbung), TPA Ngadipuro (Dukun) dan TPA Tanjung  (Muntilan). TPA tersebut harusa kami persiapkan, demikian juga dengan Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang ditentukan sesuai kesepakatan antara pemerintah kabupaten, kecamatan dan desa. Dalam persiapan TPA dan TPS belum selesai sudah disusul dengan peningkatan status dari siaga menjadi Awas Merapi. Karena status sudah pada level yang tertinggi maka masyarakat yang rentan  ancaman bencana, yaitu Kaliurang dan Kemiren harus sudah diungsikan.
    Awalnya kami mencoba, untuk secara mandiri masyarakat mengungsi manakala mendapat ancaman, namun pada kenyataannya perubahan status Merapi yang sangat cepat mengakibatkan penanganan pengungsian terkendala karena Merapi sudah keburu meletus.  Kali ini memang erupsi Merapi diluar perkiraan. Sehingga mereka yang harus kita ungsikan sekitar 2.260 orang, tetapi saat itu pengungsi sudah mencapai angka 16.000. bahkan seiring waktu erupsi Merapi semakin menjadi-jadi, jumlah pengungsi-pun juga terus meningkat menjadi 18.000, terus 28.000 dan puncaknya pengungsi mencapai lebih dari 100.000.
    Sehingga bisa dibayangkan kesiapan awal yang sudah ditata sedemikian rupa sesuai Rencana Kontijensi, akhirnya menjadi kalang kabut. Karena jumlah pengungsi yang besar dan tidak terkendali, sektor sektor yang sudah berjalan menjadi kacau, sudah dilakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk pengendaliannya. 
    Tapi karena erupsi Merapi tak terbayangkan dengan dibarengi hujan abu, pasir dan kerikil mengakibatkan banyak pepohonan tumbang. Demikian juga aliran listrik menjadi terputus dan padam sehingga menyulitkan proses evakiasi penduduk ke daerah yang lebih aman. Akhirnya banyak masyarakat mengungsi secara mandiri ketempat tempat yang menurut mereka aman.
    Sementara itu menaurut catatan BPPTK ada 267 tempat pengungsian warga Kabupaten Magelang di berbagai tempat, disamping tersebar di 19 kecamatan, juga ada yang mengungsi di Kota Magelang, Kab Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Kab Semarang dan Kab Kulonprogo. Ini sungguh diluar dugaan dan prakiraan banyak pihak, bahkan Badan Geologi dan BPPTK Yogyakarta tidak mengira kalau erupsi Merapi kali ini akibatnya sangat luar biasa.

Bagaimana dengan korban jiwa maupun harta benda?
    Alhamdulillah, Kabupaten Magelang, saat ini memang tidak tidak ada korban meninggal atau luka luka maupun harta benda penduduk yang terkena awan panas. Luncuran awan panas hanya sampai radius 4 km dari puncak. Walaupun dalam radius tersebut awan panas telah menghanguskan semua yang ada, termasuk pepohonan. 
    Memang ada satu (1) korban jiwa yang meninggal, yaitu balita umur 4 bulan, yang meninggal saat orang tuanya mengungsi, mungkin karena menghirup debu vulkanik, atau mungkin kasus lain yang jelas meninggal saat pengungsian. Disamping itu juga ada 51 orang meninggal, bukan karena menjadi korban erupsi Merapi tetapi karena sudah renta atau memang sudah sakit dari tempat tinggalnya, kemudian dipengungsian meninggal dunia. Ternak penduduk yang mati ada sekitar 29 ekor, itupun  bukan karena erupsi Merapi, tetapi kemungkinan kekurangan pakan, karena ditinggal pemiliknya pergi mengungsi.

Bagaimana status Merapi saat ini ?
    Alhamdulillah, saat ini erupsi Merapi sudah mereda, meskipun ancaman itu belum sepenuhnya hilang, meskipun status sudah diturunkan menjadi siaga, warga masyarakat tetap diminta waspada. Dalam Zona 2,5 km dr puncak Merapi warga tidak boleh mendekat. Sebab menurut perhitungan dipuncak Gunung Merapi saat ini tidak terbentuk kubah lava, puncak Merapi bolong, setiap saat bisa menghembuskan awan panas. Beda kalau terjadi kubah, tidak akan terjadi gembos. Menurut penjelasan BPPTK, hembusan awan panas dari puncak Merapi saat ini bisa mencapai 300 hingga 700 meter, sehingga kalau meluncur turun, prakiraannya luncurannya sekitar 2,5 km.
    Meskipun sudah diturunkan ke siaga masyarakat diminta tetap waspada, masyarakat pengungsi sudah diijinkan pulang kerumahnya masing-masing. Bagi mereka yang memerlukan fasilitas akan dibantu. Penanggung jawab sektor evakuasi transportasi yaitu Dinas Perhubungan akan selalu siap membantu para pengungsi yang akan pulang kembali ke desa desa tempat tinggalnya masing-masing.

    Saat ini pengungsi sudah bisa menata kembali ke-hidupannya, mata pencaharian dan kebutuhannya. Sedangkan bagi mereka yang rumahnya rusak parah sehingga tidak bisa dihuni lagi, pemerintah dalam hal ini pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan hunian sementara di desa Banyubiru Kecamatan Dukun. Tetapi kelihatannya masyarakat lebih memilih pulang ke rumah masing masing. Bagi desa desa yang mengalami kesulitan air bersih karena salurannya rusak tertimpa abu vulkanik Merapi, pemerintah akan memberikan dukungan air bersih dari PDAM Kabupaten Magelang. Kecuali itu kepada para pengungsi juga dibagikan logistik, yang mereka terima pada saat pulang dari masing-masing barak tempat pengungsian. Kami berharap itu bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai bekal hidup.

Bagaimana dengan penanggulangan banjir lahar dingin ?
    Belum selesai erupsi Merapi, muncul ancaman sekunder banjir lahar dingin. Memang kita sudah melakukan pemetaan dusun maupun desa yang dilewati sungai-sungai yang berhulu di Merapi. Ancaman inipun sudah kita susun dalam Rencana Kontijensi bahaya banjir lahar dingin. Harapan kami seperti juga pada saat penanganan erupsi Merapi, tidak terjadi korban manusia, karena sejak awal, Bapak Bupati sudah me-merintahkan agar warga masyarakat yang tinggal di dekat sungai sungai yang berhulu di Merapi agar selalu waspada, menghindar menjauhi minimal 300 meter saat sungai tersebut banjir.
    Memang Kabupaten Magelang banyak dilewati sungai sungai dari Puncak Merapi, seprti: Kalisenowo,  Kalipabelan, Kalilamat, Kaliputih, kalibatang dan Kalikrasak. Banjir lahar dingin yang mengalir melalui sungai sungai tersebut telah memberi dampak kerusakan yang besar terhadap infrastruktur maupun lahan pertanian masyarakat.
    Jembatan Srowol dari Kalipabelan di desa Progowati Mingkid ambrol karena pondasinya tergerus banjir. Jembatan Gununglemah di solowangi sologiri juga ambrol. Kaliputih-pun sempat meluap, sehingga memacetkan berjam-jam arus lalu lintas Magelang – Jogja. Di Kalibatang, jembatan Duwet Kecamatan Salam juga ambrol, dan masih banyak lagi termasuk bendungan dan irigasi yang ikut ambrol.
    Disamping itu dampak banjir lahar dingin di Kalisenowo, Kalibatang  dan Kaliputih, lahan pertanian penduduk menjadi rusak tertimbun pasir dan material vulkanik lainnya, termasuk tanaman salak, sengon dan lainya banyak yang rusak dan hancur. Untuk penanganannya Pemerintah Kabupaten Magelang telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, DPU Provinsi, BPLS, Balai Penanganan Sungai Serayu Opak dan BNPP Propinsi Jawa Tengah akan segera membuat jembatan darurat di Srowol, sehingga bisa membuka kembali arus lalu lintas disana.

Apa dan berapa bantuan pemerintah pusat dan propinsi ?
    Selama ini selain pemerintah kabupaten mengeluarkan dana tak terduga yang masih tersisa, dalam penanganan tanggap darurat, pemerintah pusat juga telah memberikan bantuan yang cukup, antara lain dari BNNP Rp 500 juta kemudian ditambah Rp 1,3 milyar untuk pendukung. Dari gubernur Jawa Tengah (3) kali, pertama Rp 2 miliar ditambah Rp 2 miliar, kemudian ditambah Rp 1 miliar dari  hasil penggalangan dana peduli Merapi oleh gubernur di Semarang. Selain itu BPNB juga mengucurkan dana sebesar Rp 5 miliar untuk tanggap darurat penyelamatan mata pencaharian petani salak, untuk menyelamatkan tanaman salak, yang ditangani oleh Dinas Pertanian. Karena tanaman salak bila tidak segera diselamatkan akan mati. Sebab tanaman Salak setelah roboh terkena pasir Merapi akan mati bila tidak segera diselamatan dengan pemangkasan dan penyemprotan pada kuncup atau tunas, paling tidak sebelum 1 bulan. Karena  panas pasir Merapi yang  masuk kesela-sela daun akan membuat tunas menjadi kering.
    BPNB juga membelian ternak sapi, yang ditangani Dinas Peterikan. Sedangkan rahabiliatsi rumah penduduk akan ditangani Dinas Nakertransos. Untuk itu warga masyarakat di KRB 3 didorong agar segera memperbaiki lingkungan dan tempat tinggalnya, termasuk sarana umum seperti, masjid, sekolah, pondok pesantren dengan sistem padat karya. Meraka membersihkan lingkungan sediri tetapi mendapat honor. Untuk mendukung kehidupan mereka itu membutuhkan anggaran yang  tidak sedikit.
    Dengan bantuan dari berbagai sektor melalui Dinas/instansi jajaran pemerintah kab Magelang sesuai arahan Bupati, semua kebutuhan tanggap darurat dan tanggap bencana bisa teratasi. Bila ada kekurangan itu wajar, akan tetapi penanganan pengungsi dan dampak dari erupsi gunung merapi ini berjalan dengan baik. Demikian juga bantuan dari instansi TNI dan POLRI serta para Relawan yang tidak mengenal lelah dan tidak terhitung besar peranannya mulai dari penanganan bencana, penyediaan logistik pengungsi, evakuasi, menjada keamanan lokasi sampai pembersihan debu dari jalan jalan utama agar tidak membahayakan penggunanya. Bahkan pasca erupsi Merapi, kita dihadapkan pada bahaya sekunder banjir lahar dingin di beberapa sungai yang berhulu di puncak Merapi.